Analisis Dinamika Garis Pantai Menggunakan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) Tahun 2013 - 2022 di Pesisir Sidoarjo - Pasuruan

Mukti, Dyah Ayu Retno (2023) Analisis Dinamika Garis Pantai Menggunakan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) Tahun 2013 - 2022 di Pesisir Sidoarjo - Pasuruan. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[thumbnail of 03311940000077-Undergraduate_Thesis.pdf] Text
03311940000077-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only until 1 September 2025.

Download (8MB) | Request a copy

Abstract

Daerah pesisir merupakan kawasan peralihan darat dan perairan yang memiliki ekosistem yang mudah terpengaruh oleh aktivitas di sekitarnya, secara alami maupun akibat aktivitas manusia, yang dapat menyebabkan terjadinya dinamika garis pantai. Pada wilayah Sungai Porong (Kali Porong) yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, memiliki beragam aktivitas yang terjadi di pesisir diantaranya permukiman, pertambakan, hingga pariwisata. Sejak tahun 2006, PT Lapindo Brantas melakukan pembuangan lumpur panas dari Lumpur Lapindo ke Sungai Porong untuk mengantisipasi jebolnya tanggul. Adanya sedimen yang terbawa tersebut menyebabkan terjadinya dinamika garis pantai pada muara sungai dan menyebabkan munculnya Pulau Lusi (2013). Melalui penelitian ini, dilakukan analisis dengan menggunakan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) untuk memisahkan batas daratan dan perairan, serta Digital Shoreline Analysis System untuk mengetahui nilai perubahan (dinamika) garis pantai yang terjadi di kawasan pesisir Sidoarjo – Pasuruan. Dengan menggunakan DSAS, diperoleh nilai akresi tertinggi terjadi pada tahun 2016-2019 dengan besar perubahan sepanjang 903,1 meter, sedangkan nilai abrasi tertinggi terjadi pada tahun 2013-2016 dengan besar perubahan sepanjang 753,67 meter. Sedangkan pada perhitungan luas area perubahan, akresi terbesar terjadi pada tahun 2016-2019 seluas 126,897 Hektare, sedangkan abrasi terbesar terjadi pada tahun 2013-2016 seluas 44,32 Hektare. Validasi lapangan dilakukan dengan melakukan pengambilan data ground truth menggunakan drone pada wilayah muara Sungai Porong hingga Pulau Lusi. Diperoleh korelasi kuat antara hasil NDVI drone dengan NDVI citra satelit. Pada zona mangrove depan memiliki nilai vegetasi lebih rendah disbanding zona belakang. Zona depan mangrove masih mengalami pertumbuhan seiring tingginya konsentrasi lumpur, oleh karena itu dapat menyebabkan tingginya pertumbuhan wilayah daratan (akresi). Peristiwa dinamika garis pantai yang terjadi didominasi oleh peristiwa akresi.
=================================================================================================================================
Coastal area is a land and water transition area that has an ecosystem that is easily affected by surrounding activities, naturally and as a result of human activities, which can cause shoreline dynamics. Porong River area (Kali Porong) which is located in Sidoarjo Regency has a variety of activities that occur on the coast including settlements, aquaculture, and tourism. Since 2006, PT Lapindo Brantas has been dumping hot mud from the Lapindo Mud into the Porong River to anticipate the embankment bursting. The presence of these carried sediments causes the dynamics of the coastline at the river mouth and causes the appearance of Lusi Island (2013). Through this research, analysis was carried out using the Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) to separate land and water boundaries, and the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) to determine the value of shoreline changes (dynamics) that occurred in the Sidoarjo – Pasuruan coastal area. Using DSAS, the highest accretion value was obtained in 2016-2019 with a change in length of 903,1 meters, while the highest abrasion value occurred in 2013-2016 with a change in length of 753,67 meters. Calculating the area of change, the largest accretion occurred in 2016-2019 covering an area of 126,897 hectares, the largest abrasion occurred in 2013-2016 covering an area of 44,32 hectares. Field validation was carried out by collecting ground truth data using Drones in the Porong River estuary area to Lusi Island. A strong correlation was obtained between the Drone's NDVI results and the satellite imagery's NDVI. The front mangrove zone has lower vegetation value than the back zone. The mangrove front zone is still growing along with the high concentration of sediments, it can lead to land area growth (accretion). The shoreline dynamics events that occur are dominated by accretion events.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: abrasi, akresi, DSAS, garis pantai, MNDWI, abrasion, accretion, DSAS, MNDWI, shoreline
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > G Geography (General) > G70.5.I4 Remote sensing
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Geomatics Engineering > 29202-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Dyah Ayu Retno Mukti
Date Deposited: 02 Aug 2023 02:15
Last Modified: 02 Aug 2023 02:15
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/100275

Actions (login required)

View Item View Item