Farahdiba, Aulia Ulfah (2025) Penilaian Dampak Lingkungan dari Pengolahan Sampah Makanan dalam Perspektif Daur Hidup di Kota Surabaya. Doctoral thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
![]() |
Text
7014211006_Dissertation.pdf Restricted to Repository staff only until 1 April 2027. Download (8MB) | Request a copy |
Abstract
Pengolahan sampah makanan menjadi salah satu prioritas nasional di Indonesia, yang menghasilkan 23–48 juta ton sampah makanan per tahun. Timbulan sampah makanan yang besar saat ini tidak hanya bergantung pada sumber daya alam yang digunakan, tetapi juga menyebabkan dampak lingkungan. Penelitian Bappenas 2021, menemukan bahwa dampak potensial pemanasan global akibat sampah makanan di Indonesia selama 20 tahun terakhir diperkirakan sebesar 1.702,9 Mton CO2-ek, setara dengan 7,29% dari rata-rata emisi GRK di Indonesia selama 20 tahun terakhir. Namun, penelitian yang memberikan rekomendasi pengolahan sampah makanan dengan identifikasi dampak lingkungan yang rendah pada suatu perkotaan, belum dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aliran pengolahan sampah makanan serta menganalisis dampak lingkungan dari pengolahan sampah makanan di Kota Surabaya. Tiga tahapan dilakukan pada penelitian ini. Identifikasi sampah makanan dianalisis dengan menggunakan kajian literatur dan Material Flow Analysis (MFA) dengan menggunakan data di Tahun 2020-2021. Penilaian dampak lingkungan dianalisis dengan metode pendekatan Life Cycle assessment (LCA). LCA telah menjadi metode yang representatif untuk membandingkan sistem pengolahan sampah makanan. Penyusunan empat skenario pengolahan sampah makanan didasarkan pada sasaran pengolahan sampah makanan (Bappenas, 2021) dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050). Hasil analisis MFA menunjukkan bahwa pengolahan sampah makanan di Kota Surabaya mencapai 7,26% (32.002 ton/tahun) melalui berbagai fasilitas pengolahan. Fasilitas tersebut meliputi Rumah Kompos (RK), Pusat Daur Ulang (PDU), TPS3R, dan unit Black Soldier Fly (BSF). Masing-masing unit memiliki kontribusi pengolahan sebagai berikut: Rumah Kompos mengolah 1,68% (7.394,32 ton/tahun), Pusat Daur Ulang mengolah 0,65% (2.877,78 ton/tahun), TPS3R mengelola 0,44% (1.917,29 ton/tahun), dan BSF mengolah 0,02% (94,84 ton/tahun). Sementara itu, sebanyak 74,43% (327943,7 ton/tahun) sampah makanan langsung dibuang ke tempat pemprosesan akhir (TPA), dengan 13,7% (60472 ton/tahun) tidak terkelola. Sisanya berupa residu yang dihasilkan dari keseluruhan fasilitas proses pengolahan sampah makanan yang ditimbun di TPA. Selain itu, pengolahan termal melalui Gasifikasi mengolah sekitar 73% (352.084 ton/tahun), sedangkan TPA mencapai 27% (94.066 ton/tahun).
Sampah makanan diidentifikasi kontribusi dampak lingkungan dalam sembilan kategori dampak dengan menggunakan metode LCA. TPA berkontribusi hampir pada seluruh kategori dampak dengan nilai terbesar Global Warming (GW) sebesar (1393 kgCO2-ek/f.u) dan Toxicity. Pengolahan dengan komposting menghasilkan dampak dominan GW (404,10 kgCO2-ek/f.u), Terrestrial acidification (1,72 kg SO2/f.u) dan Freshwater eutrophication (0,48 Peq/f.u), yang disebabkan oleh potensi pelepasan lindi serta dampak air yang terkontaminasi. Sementara itu, pengolahan sampah makanan menggunakan unit BSF menunjukkan dampak lingkungan yang lebih kecil, dengan nilai GW sebesar 25,6 kg CO₂-ek/f.u dan Eutrophication sebesar -0,012 kg PO₄-ek/f.u. Penelitian ini menunjukkan bahwa skenario 4 (BSF 30%, komposting 40%, dan AD 30%) yang telah diuji melalui analisis sensitivitas dan ketidakpastian, memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan skenario lainnya. Meskipun demikian, proses komposting dalam skenario ini emberikan kontribusi signifikan terhadap Terestrial Acidification (TA) dan Eutrophication (E), sehingga diperlukan pengelolaan emisi dan limpasan yang lebih optimal untuk memitigasi dampaknya. Di sisi lain, pengolahan sampah makanan menggunakan teknologi BSF menunjukkan dampak lingkungan yang lebih kecil, namun implementasi pada skala kota memerlukan perencanaan teknis yang cermat dan matang untuk memastikan keberhasilan operasional dan efisiensinya. Proyeksi pengelolaan sampah makanan berdasarkan rekomendasi Bappenas (2021) dan LTS-LCCR (2050), menargetkan pengurangan sampah makanan hingga 51,25% (tahun 2030) dan 68,94% (tahun 2045). Skenario 4 dalam studi ini memberikan hasil dampak lingkungan yang paling rendah. Melalui skenario ini diharapkan pengolahan sampah makanan tidak lagi bergantung pada TPA dan WtE. Proses transisi dapat dilakukan dengan mengarahkan ke tiga proses pengolahan yaitu komposting, BSF, dan AD, yang menghasilkan dampak lingkungan lebih rendah. Proses transisi ini dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya secara bertahap. Kapasitas pengolahan sampah makanan untuk WtE diproyeksikan mengalami penurunan menjadi 50% pada tahun 2030 dan 30% pada tahun 2045, sebelum diintegrasikan dengan teknologi lain seperti BSF dan AD. Komposting menjadi salah satu metode utama yang perlu dioptimalkan hingga tahun 2030, dengan penambahan unit pengolahan untuk mencapai target pengolahan 35% pada tahun 2045.
===================================================================================================================================
Food waste treatment is a national priority in Indonesia, where Indonesia produces 23–48 million tonnes of food waste per year. A study by Bappenas 2021 revealed that the potential global warming (GW) impact from food waste in Indonesia over the past 20 years is estimated at 1,702.9 Mton CO₂-eq, equivalent to 7.29% of the country’s average GHG emissions during the same period. owever, studies providing recommendations for food waste management with low environmental impact identification at an urban level have yet to be conducted in Indonesia. This study aims to evaluate food waste management flows and analyze the environmental impacts of food waste treatment in Surabaya.
This study was conducted in three stages. Food waste identification was carried out through literature reviews and Material Flow Analysis (MFA) based on data from 2020-2021. Environmental impact assessment was performed using the LCA approach. Life Cycle Assessment (LCA) has been recognized as a representative method for comparing waste management systems, particularly in food waste processing. Four food waste management scenarios were developed, aligned with the food waste management targets set by Bappenas (2021) and the Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).
The MFA analysis shows that food waste management in Surabaya accounts for 7.26% (32,002 tons/year) through various facilities, including Composting Centers (RK), Recycling Centers (PDU), TPS3R, and Black Soldier Fly (BSF) units. These facilities contributed 1.68% (7,394.32 tons/year), 0.65% (2,877.78 tons/year), 0.44% (1,917.29 tons/year), and 0.02% (94.84 tons/year), respectively. Meanwhile, 74.43% (327,943.7 tons/year) of food waste is directly disposed of in final disposal sites (TPA) and 13.7% (60,472 tons/year) left unmanaged. The remaining residue from all processing facilities is TPAed. Thermal processing through gasification manages approximately 73% (352,084 tons/year), while TPA processing accounts for 27% (94,066 tons/year). Food waste was analyzed for its contributions to nine environmental impact categories using the LCA method. TPA processing contributes to almost all impact categories, with the highest values in Global Warming (GW) at 1,393 kg CO₂-eq/f.u and toxicity. Composting generated dominant impacts on GW (404.10 kg CO₂-eq/f.u), Terrestrial Acidification (1.72 kg SO₂-eq/f.u), and Freshwater Eutrophication (0.48 kg PO₄-eq/f.u), caused by potential leachate release and contaminated water impacts. Conversely, food waste processing using BSF showed smaller environmental impacts, with GW at 25.6 kg CO₂-eq/f.u and Eutrophication at -0.012 kg PO₄-eq/f.u. The study found that Scenario 4 (BSF 30%, composting 40%, and AD 30%), tested through sensitivity and uncertainty analyses, had the lowest environmental impact among all scenarios. However, the composting process in this scenario significantly contributes to Terrestrial Acidification and Eutrophication, necessitating better emission and runoff management to mitigate these effects. On the other hand, food waste processing using BSF demonstrated minimal environmental impacts, though its city-wide implementation requires careful and thorough technical planning to ensure operational success and efficiency.
The food waste management projection, based on the recommendations of Bappenas (2021) and LTS-LCCR (2050), targets a reduction in food waste of up to 51.25% by 2030 and 68.94% by 2045. Scenario 4 in this study demonstrates the lowest environmental impact. This scenario aims to reduce reliance on TPA and WtE by transitioning toward three alternative processes: composting, BSF, and AD, which yield lower environmental impacts. This transition can be implemented progressively by the Surabaya City Government. The processing capacity for WtE is projected to decrease to 50% by 2030 and 30% by 2045, before being integrated with other technologies such as BSF and AD. Composting is projected to remain one of the primary methods that require optimization by 2030, along with the addition of processing units to achieve a target of 35% food waste processing by 2045.
Item Type: | Thesis (Doctoral) |
---|---|
Uncontrolled Keywords: | : Sampah makanan, pengolahan sampah, daur hidup, Food waste, waste treatment technology, life cycle |
Subjects: | T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering > TD171.75 Climate change mitigation T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering > TD194.6 Environmental impact analysis |
Divisions: | Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Environmental Engineering > 25001-(S3) PhD Thesis |
Depositing User: | Aulia Ulfah Farahdiba |
Date Deposited: | 04 Feb 2025 07:14 |
Last Modified: | 04 Feb 2025 07:14 |
URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/118135 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |