Prathama, Micky (2026) Determinants And Implications Of Halal Traceability Systems In The Indonesia Cosmetics Industry. Doctoral thesis, Intitut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
7032222005-Doctoral.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (4MB) | Request a copy |
Abstract
Growing awareness of halal cosmetics has prompted companies to prioritise compliance throughout their supply chains. Regulation No. 20/2023 issued by the Halal Product Assurance Agency (BPJPH) introduced stricter criteria, including controls on imported raw materials. Given Indonesia’s heavy reliance on imported organic chemicals, as reported by the Central Bureau of Statistics in 2023, ensuring halal integrity presents a significant challenge that requires robust traceability mechanisms. This study employed a mixed-method design. In the qualitative phase, semi-structured interviews with regulators, industry associations, cosmetics manufacturers, and material suppliers were analysed using ATLAS.ti 23, with intercoder agreement validation (Krippendorff’s alpha > 0.80) confirming coding reliability. Thematic analysis identified two novel constructs adaptability and commitment which were incorporated into the model. In the quantitative phase, survey data from 72 respondents were analyzed using SEM-PLS. The results demonstrate that coercive pressure and traceability technology directly enhance halal traceability readiness (HTR), while adaptability and commitment indirectly shape readiness by building organizational capability. Normative and mimetic pressures remain statistically insignificant, confirming that halal traceability in the cosmetics sector is primarily driven by regulatory enforcement and internal capability rather than peer or normative influence. The refined model exhibits substantial explanatory power, with R² values of 0.740 for Organisational Capability and 0.748 for Halal Traceability Readiness. Furthermore, this study contributes to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 12 (Responsible Consumption and Production), by promoting halal production systems and fostering transparent and sustainable material governance. The findings offer practical guidance for regulators, policymakers, and industry leaders, highlighting the importance of balanced enforcement, digital traceability systems, and enhanced adaptability and commitment to improve compliance, resilience, and competitiveness in the global halal cosmetics market.
===========================================================
Meningkatnya kesadaran terhadap kosmetik halal mendorong perusahaan untuk memprioritaskan kepatuhan di seluruh rantai pasok. Regulasi No. 20/2023 dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menetapkan kriteria yang lebih ketat, termasuk persyaratan bagi bahan baku impor. Mengingat ketergantungan besar Indonesia pada impor bahan kimia organik sebagaimana dilaporkan BPS pada tahun 2023, menjaga integritas halal menjadi tantangan signifikan yang menuntut mekanisme ketertelusuran yang kuat. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Pada tahap kualitatif, wawancara semi-terstruktur dengan regulator, asosiasi industri, produsen kosmetik, dan pemasok dianalisis menggunakan ATLAS.ti 23, dengan hasil intercoder agreement yang menunjukkan reliabilitas tinggi (alpha Krippendorff > 0,80). Analisis tematik mengungkap dua konstruk baru adaptabilitas dan komitmen yang kemudian dimasukkan dalam model penelitian. Pada tahap kuantitatif, data dari 72 responden dianalisis menggunakan SEM PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan koersif dan teknologi ketertelusuran berpengaruh langsung terhadap kesiapan ketertelusuran halal (HTR), sementara adaptabilitas dan komitmen berpengaruh tidak langsung melalui kapabilitas organisasi. Tekanan normatif dan mimetik terbukti tidak signifikan secara statistik, penerapan didorong oleh penegakan regulasi dan kapabilitas internal, bukan oleh pengaruh rekan industri atau norma profesional. Model yang dihasilkan memiliki daya jelaskan substansial, dengan R² = 0,740 untuk Kapabilitas Organisasi dan R² = 0,748 untuk Kesiapan Ketertelusuran Halal. Selain itu, kajian ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dengan mendorong sistem produksi halal dan tata kelola bahan baku yang transparan serta berkelanjutan. Secara praktis, temuan ini memberikan arahan bagi regulator, pembuat kebijakan, dan pelaku industri, khususnya mengenai pentingnya pengawasan koersif yang konsisten, adopsi teknologi digital, serta penguatan adaptabilitas dan komitmen sebagai fondasi kapabilitas organisasi untuk memperkuat kepatuhan, ketahanan, dan daya saing industri kosmetik halal Indonesia di pasar global.
| Item Type: | Thesis (Doctoral) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Institutional Theory, Resource Based View (RBV) Theory, Halal Traceability System, Halal Traceability Readiness, Halal Cosmetics,Teori Kelembagaan, Teori Pandangan Berbasis Sumber Daya (RBV), Sistem Ketertelusuran Halal, Kesiapan Ketertelusuran Halal, Kosmetik Halal |
| Subjects: | H Social Sciences > HC Economic History and Conditions > HC79.E5 Sustainable development. (circular economy) T Technology > T Technology (General) > T58.6 Management information systems |
| Divisions: | Interdisciplinary School of Management and Technology (SIMT) > 66105-Doctor of Technology Management (DMT) |
| Depositing User: | Micky Prathama |
| Date Deposited: | 28 Jan 2026 03:58 |
| Last Modified: | 28 Jan 2026 03:58 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/130806 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
