Setyawan, Yulius Danny (2026) Pajak Dan Perdagangan Karbon: Tantangan Dan Peluang Bagi Industri Otomotif Indonesia. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
6047222029-Master_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (5MB) | Request a copy |
Abstract
Kebijakan pajak karbon global bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mendorong investasi yang lebih bersih dan hemat biaya. Life Cycle Assessment (LCA) menjadi alat penting dalam kebijakan ini, memberikan pengukuran komprehensif terhadap emisi karbon di setiap tahap siklus hidup kendaraan, dari produksi bahan baku hingga dekomisioning. Seiring berjalannya waktu, pengurangan total kuota emisi akan memberikan insentif finansial bagi entitas yang mengurangi emisi mereka dengan menjual kelebihan kuota. Dalam konteks Indonesia, industri otomotif memiliki peran strategis namun juga menghadapi risiko signifikan akibat tingginya intensitas energi dan emisi dalam rantai pasoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan industri otomotif Indonesia dalam menghadapi penerapan pajak karbon dan perdagangan karbon, serta menganalisis dampaknya terhadap daya saing industri. Mengingat industri otomotif dan transportasi menyumbang 23% dari total emisi CO2, sektor ini menjadi sangat penting dalam penerapan pajak dan perdagangan karbon. Namun, kesiapan industri otomotif Indonesia dalam menghadapi tantangan ini masih kurang terintegrasi. Kesiapan rantai pasok memerlukan perencanaan menyeluruh yang melibatkan semua pemangku kepentingan industri otomotif. Jika tidak mempertimbangkan dampak pajak karbon dengan cermat, biaya produksi di Indonesia bisa menjadi tidak kompetitif dibandingkan dengan impor, yang berpotensi merugikan perkembangan industri dan neraca perdagangan negara. Penelitian ini menggunakan studi kasus pada 80 perusahaan pemasok Tier-1 komponen otomotif PT. XYZ dengan pendekatan kuantitatif berbasis Sectoral Decarbonization Approach (SDA), Life Cycle Assessment (LCA), Cost-Benefit Analysis (CBA), serta metode Multi-Criteria Decision Making (AHP–TOPSIS). Hasil analisis menunjukkan bahwa intensitas emisi aktual pemasok Tier-1 berada pada kisaran 0,65–1,10 ton CO₂e per ton output, yang masih 30–55% di atas target jalur SDA 2030. Analisis TOPSIS mengidentifikasi adanya kesenjangan kesiapan yang signifikan antarperusahaan, dengan nilai kedekatan relatif (Ci*) berkisar antara 0,33 hingga 0,85. Simulasi pajak karbon menunjukkan bahwa pada tarif Rp 30.000 per kg CO₂e, biaya produksi meningkat sekitar Rp 2.643 per unit kendaraan, dan dapat meningkat hingga mendekati Rp 9.000 per unit pada skenario tarif yang lebih tinggi. Namun demikian, analisis finansial berbasis Net Present Value (NPV) menunjukkan bahwa investasi energi terbarukan dan teknologi efisiensi energi layak secara ekonomi dan mampu mengurangi tekanan biaya kebijakan karbon. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesiapan industri otomotif Indonesia masih bersifat heterogen, dan kebijakan karbon berpotensi menjadi tekanan sekaligus peluang peningkatan daya saing bagi perusahaan yang mampu bertransformasi secara cepat dan terarah
======================================================================================================================================
Carbon tax and carbon trading policies have become key instruments in global efforts to reduce greenhouse gas emissions and promote low-carbon industrial transformation. In Indonesia, the automotive industry plays a strategic role but faces significant risks due to its energy-intensive and carbon-intensive supply chain structure. This study aims to evaluate the readiness of Indonesia’s automotive industry to face carbon tax and carbon trading policies and to analyze their impacts on industrial competitiveness. This research adopts a quantitative case study approach involving 80 Tier-1 automotive component suppliers of PT. XYZ, employing the Sectoral Decarbonization Approach (SDA), Life Cycle Assessment (LCA), Cost-Benefit Analysis (CBA), and Multi-Criteria Decision Making using AHP–TOPSIS. The results indicate that current emission intensity among Tier-1 suppliers ranges from 0.65 to 1.10 ton CO₂e per ton of output, exceeding the SDA 2030 target by approximately 30–55%. TOPSIS results reveal substantial readiness disparities among firms, with relative closeness values (Ci*) ranging from 0.33 to 0.85. Carbon tax simulations show that at a tariff of IDR 30,000 per kg CO₂e, production costs increase by approximately IDR 2,643 per vehicle, rising to nearly IDR 9,000 per vehicle under higher tariff scenarios. Nevertheless, Net Present Value (NPV) analysis demonstrates that investments in renewable energy and energy-efficient technologies are economically feasible and can mitigate the cost burden of carbon pricing policies. This study concludes that the readiness of Indonesia’s automotive industry is heterogeneous, and that carbon pricing policies may function not only as regulatory pressure but also as a catalyst for long-term competitiveness for firms capable of timely low-carbon transformation.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Pajak Karbon, Perdagangan Karbon, Industri Otomotif, SDA, LCA, AHP–TOPSIS, Daya Saing. |
| Subjects: | T Technology > T Technology (General) T Technology > TS Manufactures |
| Divisions: | Interdisciplinary School of Management and Technology (SIMT) > 78201-System And Technology Innovation |
| Depositing User: | Yulius Danny Setyawan |
| Date Deposited: | 29 Jan 2026 07:44 |
| Last Modified: | 29 Jan 2026 07:44 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/131158 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
