Pemantauan Penurunan Tanah Berdasarkan Solusi Kombinasi Pengamatan Gps Periodik Terhadap Kerentanan Wilayah Pesisir Surabaya.

Riastama, Cindy Nandya (2022) Pemantauan Penurunan Tanah Berdasarkan Solusi Kombinasi Pengamatan Gps Periodik Terhadap Kerentanan Wilayah Pesisir Surabaya. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[thumbnail of 6016201005-Master_Thesis.pdf] Text
6016201005-Master_Thesis.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (5MB)

Abstract

Penurunan muka tanah merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah yang didasarkan atas suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya. Fenomena ini banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia salah satunya adalah Kota Surabaya. Kota Surabaya memiliki jenis tanah berupa tanah aluvial yang rentan mengalami pergerakan. Akumulasi penurunan tanah yang terjadi tentunya dapat merusak infrastruktur perkotaan sehingga kedepannya dapat menyebabkan gangguan pada lingkungan, kegiatan ekonomi, dan kehidupan sosial di wilayah tersebut. Disamping itu, wilayah Surabaya juga merupakan daerah pesisir. Daerah pesisi memiliki karakteristik dimana daerah ini akan sangat dipengaruhi oleh kejadian- kejadian alam. Adanya fenomena perubahan suhu global ini dapat mempengaruhi terjadinya kenaikan permukaan laut. Jika kenaikan permukaan laut terjadi disertai dengan adanya laju penurunan tanah yang terus meningkat, maka hal ini dapat mengakibatkan adanya banjir atau genangan di daerah pesisir. Mengingat kota Surabaya merupakan kota metropolitan yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi serta tingkat pembangunan yang terus menerus dilakukan, maka upaya mitigasi menjadi hal penting dalam menindaklanjuti adanya penurunan tanah di wilayah ini. Salah satu upaya yang dapat diterapkan yaitu dengan melakukan pengamatan GPS. Pengamatan GPS dilakukan secara periodik sebanyak 8 kala selama 2017 sampai dengan 2022. Hasil pengamatan dilakukan pengolahan dengan dua scientific software GAMIT/GLOBK dan GipsyX untuk melihat reabilitas nilai deformasi yang terjadi. Hasil dari penelitian ini, terdapat 21 titik yang mengalami penurunan dan 14 titik mengalami kenaikan. Surabaya mengalami penurunan muka tanah di wilayah pesisir utara dan timur dengan kisaran 0,17 – 83,32 mm/tahun. Titik yang mengalami penurunan cukup signifikan berada di kawasan perbatasan Tandes dan Asemrowo yaitu stasiun BM35. Selanjutnya, kondisi penurunan muka tanah mempengaruhi luas inundasi yang terjadi, dimana pada tahun 2032 limpasan inundasi akan menggenangi 105, 411 km2.
===================================================================================================================================
Land subsidence is a process of ground movement based on a certain datum (geodetic reference frame) in which there are various variables that cause it. This phenomenon often occurs in big cities in Indonesia, namely the city of Surabaya. The city of Surabaya has a type of soil in the form of alluvial soil which is prone to movement. The accumulation of land subsidence that occurs will certainly cause its own losses. As a result, it can damage urban infrastructure so that in the future it can cause disruption to the environment, economic activities, and social life in the area. In addition, the Surabaya area is also a coastal area. Coastal areas have characteristics where this area will be strongly influenced by natural events. One of the natural events that affect the oceans and coastal areas is global temperature changes. The phenomenon of global temperature changes can affect sea level rise. If sea level rise occurs accompanied by an increase in the rate of land subsidence, this can result in flooding or inundation in coastal areas. Considering that the city of Surabaya is a metropolitan city that has a fairly high population density and a sustainable level of development, mitigation efforts are important in following up on land subsidence in this area. One of the efforts that can be applied is to conduct GPS observations. GPS is carried out periodically 8 times during 2017 to 2022. The results of the observations were carried out with two scientific software GAMIT/GLOBK and GipsyX to see the reliability of the deformation values that occurred. The results of this study, there are 21 points that have decreased and 14 points have increased. Surabaya is experiencing land subsidence in the northern and eastern coastal areas with a range of 0.2 – 83.32 mm/year. The point that experienced a significant decline was in the border area of Tandes and Asemrowo, namely the BM35 station. Furthermore, the condition of land subsidence affects the area of tidal inundation, where in 2032 the tidal inundation will inundate 105.411 km2.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: RTG 551.307 Ria p-1 2022
Uncontrolled Keywords: GPS Periodik, Penurunan Tanah, Pesisir, Surabaya. GPS Campaign, Land Subsidence, Coastal Area, Surabaya City.
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GB Physical geography > GB651 Subsidences (Earth movements)
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Geomatics Engineering > 29101-(S2) Master Thesis
Depositing User: Mr. Marsudiyana -
Date Deposited: 13 May 2026 06:13
Last Modified: 13 May 2026 06:13
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/133189

Actions (login required)

View Item View Item