Analisis Mikrotremor Dengan Metode Hvsr Untuk Mikrozonasi Gempabumi Studi Kasus Kecamatan Ampelgading Dan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sadewa, Mirza Akbar (2022) Analisis Mikrotremor Dengan Metode Hvsr Untuk Mikrozonasi Gempabumi Studi Kasus Kecamatan Ampelgading Dan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[thumbnail of 03411840000040-UNDERGRADUATE_THESIS.pdf] Text
03411840000040-UNDERGRADUATE_THESIS.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (6MB)

Abstract

Gempabumi merupakan fenomena alam dengan getaran kuat yang disebabkan oleh aktivitas tekntonik dan berpotensi mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa. Peristiwa gempabumi yang terjadi pada tanggal 10 April 2021 dengan kekuatan M6.1 yang berpusat di laut dengan jarak 90 km arah barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengakibatkan banyak kerusakan pada rumah warga, infrastruktur, serta menimbulkan korban jiwa pada Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo, oleh sebab itu dibutuhkan asssesment bahaya gempabumi atau mikrozonasi. Penelitian ini dilakukan menggunakan analisis mikrotremor dan metode HVSR untuk menghasilkan parameter indeks kerentanan, kecepatan geser tanah (VS30), dan ketebalan sedimen (h). Proses analisis puncak kurva hvsr menghasilkan berberapa parameter yaitu nilai frekuensi natural dan faktor amplitudo, kemudian dilakukan perhitungan untuk menghasilkan nilai indeks kerentanan, sedangkan parameter VS30 didapatkan melalui proses foward modelling model awal dan kemudian dilakukan proses inversi menggunakan software OpenHVSR untuk menghasilkan nilai VS30 dan ketebalan sedimen (h). Parameter-parameter yang telah dihasilkan kemudian dilakukan clustering menggunakan metode fuzzy c-means clustering untuk dapat menghasilkan peta mikrozonasi bahaya gempabumi dari Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo. Berdasarkan hasil fuzzy c-means clustering didapatkan hasil bahwa pada klasifikasi bahaya gempabumi rendah pada Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo memiliki rata-rata nilai frekuensi natural sebesar 7.9 Hz, nilai faktor amplitudo sebesar 2.54, nilai indeks kerentanan sebesar 1.72, nilai VS30 sebesar 494.43 m/s dan ketebalan lapisan sedimen sebesar 23.74 meter, sedangkan dalam klasifikasi bahaya gempabumi sedang memiliki rata-rata nilai frekuensi natural sebesar 3 Hz, nilai faktor amplitudo sebesar 5.37, nilai indeks kerentanan sebesar 11.45, nilai VS30 sebesar 307.89 m/s, nilai ketebalan lapisan sedimen sebesar 27.83 meter, dan pada klasifikasi bahaya gempabumi tinggi memiliki rata-rata nilai frekuensi natural sebesar 2.76 Hz, nilai faktor amplitudo sebesar 5.75, nilai indeks kerentanan sebesar 13.46, nilai VS30 sebesar 267.74 m/s, dan nilai ketebalan lapisan sedimen sebesar 29.75 meter. Berdasarkan hasil dari clustering oleh metode fuzzy c-means clustering dapat menghasilkan peta bahaya gempabumi yang dapat menggambarkan daerah dengan klasifikasi bahaya gempabumi tinggi yang sudah sesuai dengan wilayah yang terdampak oleh gempabumi bagian tengah dari Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo.
===================================================================================================================================
Earthquakes are natural with strong vibrations caused by tectonic activity and phenomena of potential damage and loss of life. On April 10, 2021, there was an earthquake with a magnitude of M6.1 centered at sea at 90 km southwest of Malang Regency, East Java, which caused a lot of damage to people's homes, infrastructure and caused fatalities in Ampelgading and Tirtoyudo Districts. Therefore, an earthquake hazard assessment or microzonation is required. In this study, microtremor analysis and HVSR methods were used to generate susceptibility index parameters, soil shear velocity (VS30), and sediment thickness (h). The process of analyzing the peak of the hvsr curve has several parameters, namely the natural frequency value and amplitude factor, then calculations to produce the vulnerability index value, while the VS30 parameter is obtained through the initial modeling process and then the inversion process is carried out using the OpenHVSR software to produce the VS30 value and sediment thickness (h). The parameters that have been generated are then grouped using the fuzzy c-means clustering method to be able to produce an earthquake hazard microzonation map from Ampelgading and Tirtoyudo Districts. Based on fuzzy c-means clustering, it was found that the vulnerability classification in Ampelgading and Tirtoyudo Districts had an average natural frequency value of 7.9 Hz, value of amplitude factor is 2.54, vulnerability index value of 1.72, VS30 value of 494.43 m/s and sediment layer thickness of 23.74 meters, while in the medium classification it has an average f0 value of 3 Hz, value of amplitude factor is 5.37, the vulnerability index value is 11.45, the VS30 value is 307.89 m/s, the sediment layer thickness is 27.83 meters, and in the high classification has an average natural frequency value of 2.76 Hz, the value of amplitude factor is 5.75, the vulnerability index value is 13.46, the VS30 value is 267.74 m/s, and the sediment layer thickness is 29.75 meters. Based on the results of clustering by the fuzzy c-means clustering method, it can produce an earthquake hazard map that can describe areas with a high earthquake hazard classification that are in accordance with the area affected by the central earthquake of Ampelgading and Tirtoyudo Districts.

Item Type: Thesis (Other)
Additional Information: RSGf 622.159 2 Sad a-1 2022
Uncontrolled Keywords: Fuzzy c-means clustering, HVSR, Inversi, Mikrotremor, Mikrozonasi. Fuzzy c-means clustering, HVSR, Inversion, Microtremor, Microzonation.
Subjects: Q Science > QE Geology > QE539 Microseisms.
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Geophysics Engineering > 33201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Mr. Marsudiyana -
Date Deposited: 21 May 2026 07:27
Last Modified: 21 May 2026 07:27
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/133316

Actions (login required)

View Item View Item