Leejaya, Richard (2026) Evaluasi Perencanaan Timbunan Eksisting Dan Perencanaan Alternatif Menggunakan Timbunan Ringan Mortar Busa Studi Kasus: Ruas Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat STA 41+300–42+133. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
5012221118-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (27MB) | Request a copy |
Abstract
Ruas Jalan Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat, khususnya pada STA 41+300 hingga STA 42+133, berada pada kondisi topografi yang bervariasi dan memiliki karakteristik geoteknik yang kompleks akibat keberadaan tanah lunak dengan nilai rata-rata N-SPT ≤ 10 pada kedalaman sekitar 6 meter, serta elevasi timbunan yang relatif tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penurunan jangka panjang dan ketidakstabilan timbunan yang dapat memengaruhi kinerja serta tingkat pelayanan struktur perkerasan jalan. Tugas akhir ini bertujuan untuk membandingkan desain alternatif terhadap timbunan eksisting dengan menerapkan timbunan ringan menggunakan foam mortar. Penggunaan mortar busa dimaksudkan untuk mengurangi beban timbunan yang bekerja pada tanah dasar, meminimalkan potensi penurunan tanah, serta meningkatkan stabilitas keseluruhan struktur jalan. Penelitian dilakukan melalui pemodelan numerik dengan membandingkan kondisi eksisting terhadap beberapa skenario alternatif yang mengevaluasi pengaruh variasi komposisi material timbunan ringan terhadap perilaku penurunan dan stabilitas lereng. Dalam penelitian ini, dianalisis tiga alternatif konfigurasi mortar busa, yaitu campuran 20% mortar busa dan 80% tanah timbunan, 40% mortar busa dan 60% tanah timbunan, serta 60% mortar busa dan 40% tanah timbunan. Analisis dilakukan untuk menentukan konfigurasi timbunan yang mampu memenuhi persyaratan keamanan, stabilitas, dan efisiensi biaya. Hasil menunjukkan bahwa diperlukan perkuatan tambahan berupa 2 buah micropile pada STA 42+125 dan STA 42+133, Selain itu, direncanakan penerapan lapis tambah (overlay) secara berkala, yaitu setebal 6 cm pada tahun 2027, 4,5 cm pada tahun 2032, dan 3,5 cm pada tahun 2037. Dari segi alternatif desain, timbunan konvensional dengan perkuatan geotextile dan replacement tanpa mortar busa terbukti paling efisien dari segi biaya dengan tetap memenuhi standar keamanan yang dipersyaratkan.
===============================================================================================================================
The Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat Toll Road section, specifically between STA 41+300 and STA 42+133, is situated on varied topography and characterized by complex geotechnical conditions due to the presence of soft soil with an average N-SPT value of ≤ 10 at a depth of approximately 6 meters, combined with high embankment elevations. These conditions may lead to long-term settlement and embankment instability, which can adversely affect the performance and serviceability of the pavement structure. This final project aims to compare an alternative design for the existing embankment by implementing a lightweight embankment system using foam mortar. The application of foam mortar is intended to reduce embankment loads, minimize potential ground settlement, and improve the overall stability of the road structure. The study is conducted through numerical modeling by comparing the existing condition with several alternative scenarios that evaluate the influence of different lightweight embankment material compositions on settlement behavior and slope stability. In this study, three alternative foam mortar configurations are analyzed, consisting of 20% foam mortar and 80% embankment soil, 40% foam mortar and 60% embankment soil, and 60% foam mortar and 40% embankment soil. The analysis aims to determine the embankment configuration that satisfies safety, stability, and cost-efficiency requirements. The results indicate that additional reinforcement is required, consisting of 2 micropiles at STA 42+125 and at STA 42+133 In addition, periodic pavement overlay is planned, with overlay thicknesses of 6 cm in 2027, 4,5 cm in 2032, and 3,5 cm in 2037. In terms of alternative design, the conventional embankment with geotextile reinforcement and replacement, without foam mortar, proved to be the most cost-efficient while still meeting the required safety standards.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Penurunan, Topografi, Geotextile, Mortar Busa, Overlay, Micropile, Replacement, Settlement, Topography, Geotextile, Foamed Mortar, Overlay, Mircopile, Replacement. |
| Subjects: | T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA455.S6 Soil (Materials of engineering and construction) T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA749 Soil stabilization |
| Divisions: | Faculty of Civil Engineering and Planning > Civil Engineering > 22201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Richard Leejaya |
| Date Deposited: | 28 Jul 2026 03:16 |
| Last Modified: | 28 Jul 2026 03:16 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/138379 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
