Dewi, Ni Made Nadia Kumala (2026) Pendekatan Arsitektur Biofilik Pada Perancangan Pusat Komunitas Di Desa Adat Mas, Ubud. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
5013221075-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Manusia memiliki kecenderungan alami untuk terus berikatan dengan alam, yang dikenal sebagai biofilia. Dalam konteks arsitektur, desain biofilik hadir sebagai upaya untuk memulihkan hubungan manusia dengan alam. Namun, penerapannya kerap direduksi menjadi sekadar estetika “hijau” melalui tanaman, material alami, atau ornamen tanpa keterikatan nyata terhadap konteks tempat. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena placelessness, yang ditandai oleh hilangnya identitas lokal, keotentikan, serta keterikatan emosional terhadap tempat. Fenomena ini tampak kuat di Bali, termasuk kawasan Ubud, akibat investasi masif, pariwisata massal, serta komodifikasi ruang yang memarginalkan komunitas lokal dan mengikis nilai budaya serta ekologi. Proses perancangan pada tugas akhir ini menggunakan force-based framework, yang dimulai dari mengidentifikasi kondisi eksisting tapak, baik dari segi konteks, iklim, budaya, dan kebutuhan manusia. Dari hasil mengidentifikasi tapak, forces dikategorikan menjadi beberapa kategori yang nantinya akan direspon melalui desain. Dalam merancang digunakan juga metode superimpose, yang membantu bagaimana alam diposisikan menjadi sebuah lapisan-lapisan yang saling bertumpuk, sehingga ruang terbentuk atas pertemuan dari lapisan alam tersebut. Melalui metode ini, penataan massa dan organisasi ruang dirancang dengan mempertimbangkan kualitas pencahayaan alami, penghawaan, vegetasi, orientasi pandangan, serta intensitas interaksi sosial, sehingga tercipta pengalaman ruang yang mendukung keterhubungan manusia dengan alam dan komunitas. Hasil perancangan berupa rancangan skematik pusat komunitas di Desa Adat Mas, Ubud, yang mengintegrasikan prinsip-prinsip arsitektur biofilik ke dalam tatanan ruang, massa bangunan, dan pengalaman pengguna. Rancangan ini terdiri atas ruang-ruang publik, edukatif, dan komunal yang terhubung dengan lanskap alami melalui pemanfaatan vegetasi, pencahayaan alami, penghawaan silang, serta orientasi terhadap lingkungan sekitar. Organisasi ruang yang dihasilkan memungkinkan terjadinya keseimbangan antara interaksi sosial dan pengalaman dengan alam. Dengan demikian, rancangan ini diharapkan mampu menjadi wadah aktivitas komunitas yang memperkuat identitas lokal, membangun keterikatan emosional terhadap tempat, serta mendukung hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya lokal.
=================================================================================================================================
Humans possess an innate tendency to connect with nature, known as biophilia. In architecture, biophilic design aims to restore this relationship. However, its application is often reduced to merely “green” aesthetics without a meaningful connection to the local context, contributing to placelessness—the loss of local identity, authenticity, and emotional attachment to place. This phenomenon is evident in Ubud, Bali, where rapid tourism development and spatial commodification have gradually weakened local cultural and ecological values. The design process employs the Force-Based Framework by identifying existing site conditions, including contextual, climatic, cultural, and human factors, to determine the key design forces. These forces are then translated into the design through the superimposition method, which organizes spatial layers based on natural elements and community activities. The resulting spatial organization considers daylight, natural ventilation, vegetation, views, and social interaction to create an environment that reconnects people with both nature and the community. The proposed design is a schematic community center in Desa Adat Mas, Ubud, integrating biophilic principles into its spatial organization, massing, and user experience. Public, educational, and communal spaces are closely connected to the surrounding landscape through natural lighting, cross ventilation, vegetation, and site orientation. By balancing social interaction with experiences of nature, the design is expected to reinforce local identity, foster emotional attachment to place, and support a harmonious relationship between people, nature, and local culture.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Arsitektur Biofilik, Dimensi Berbasis Tempat, Keterhubungan, Placelessness, Pusat Komunitas, Biophilic Architecture, Place-based Dimension, Placelessness, Community Center, Connectedness |
| Subjects: | H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races N Fine Arts > NA Architecture > NA2750 Architectural design. |
| Divisions: | Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Ni Made Nadia Kumala Dewi |
| Date Deposited: | 03 Aug 2026 01:05 |
| Last Modified: | 03 Aug 2026 01:05 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/141746 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
