Aji Witaguna, Muhammad Reyhan Sadhana (2026) A District of Automotive Passion and Public Recreation In PIK II. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
5013221040-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (13MB) | Request a copy |
Abstract
Architecture is rooted in human experience. It grows from the places people visit, the activities they enjoy, and the moments they share with others. This project examines how common interests can influence the character of a place by creating an inclusive environment where automotive culture becomes part of its identity. Rather than remaining static, instead it should adapt to its users and support the activities and experiences that give a place meaning. For many individuals, a car represents more than transportation. It can reflect memories, achievements, creativity, and personal passion. In Indonesia, automotive culture has evolved beyond transportation and has become closely associated with lifestyle, community, and personal identity. This shift illustrates a wider phenomenon where vehicles and other lifestyle objects are valued as markers of personal expression as much as for their practical use. This concept extends beyond automotive culture. People naturally connect through sports, art, music, games, and many other interests. These shared passions bring individuals together and often lead to meaningful relationships. I chose automotive culture because it is something I have personally experienced. I have witnessed how a simple discussion about cars can connect individuals from different backgrounds and foster a strong sense of belonging. This experience motivated me to explore how architecture can create spaces where such connections can continue to develop. Communities become stronger when people have accessible and welcoming places to gather beyond their homes and workplaces. Shared interests naturally bring people together, and an inclusive public environment allows those connections to grow into a wider community. Even people who are usually quiet or less socially active often become more open when they meet others with the same interests. By encouraging exploration, interaction, and everyday activities, such spaces can foster meaningful experiences while strengthening the identity of a place.
============================================================================================================================================
Arsitektur berawal dari pengalaman manusia. Arsitektur tumbuh dari tempat yang dikunjungi, kegiatan yang dilakukan, dan momen yang dibagikan bersama orang lain. Penelitian ini membahas bagaimana kesamaan minat dapat membentuk karakter sebuah tempat dengan menciptakan lingkungan yang terbuka dan inklusif, di mana budaya otomotif menjadi bagian dari identitas kawasan. Arsitektur tidak hanya menyediakan ruang untuk beraktivitas, tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan penggunanya serta mendukung pengalaman yang membuat sebuah tempat menjadi bermakna. Bagi banyak orang, mobil memiliki arti yang lebih dari sekadar alat transportasi. Mobil dapat menjadi simbol kenangan, pencapaian, kreativitas, dan hobi. Di Indonesia, budaya otomotif juga telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, komunitas, dan identitas diri. Hal ini menunjukkan bahwa kendaraan tidak hanya dinilai dari fungsinya, tetapi juga dari makna yang dimilikinya bagi setiap orang. Hal yang sama juga terjadi pada berbagai minat lainnya, seperti olahraga, seni, musik, dan permainan. Kesamaan minat membuat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dapat saling bertemu, berinteraksi, dan membangun hubungan. Budaya otomotif dipilih sebagai tema karena merupakan pengalaman yang dekat dengan penulis. Melalui pengalaman tersebut, penulis melihat bahwa percakapan sederhana tentang mobil dapat mempertemukan banyak orang dan menciptakan rasa kebersamaan. Pengalaman inilah yang mendorong perancangan ruang yang dapat mendukung hubungan dan interaksi tersebut. Sebuah komunitas akan berkembang ketika memiliki tempat yang nyaman dan mudah diakses untuk berkumpul di luar rumah maupun tempat kerja. Kesamaan minat menjadi alasan yang mempertemukan banyak orang, sedangkan ruang publik yang terbuka memberi kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal dan membangun komunitas. Bahkan orang yang awalnya lebih pendiam sering kali menjadi lebih terbuka ketika bertemu dengan orang yang memiliki minat yang sama. Dengan mendorong interaksi, eksplorasi, dan aktivitas sehari-hari, ruang seperti ini dapat menciptakan pengalaman yang berkesan sekaligus memperkuat identitas sebuah kawasan.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Automotive Culture, Architectural Identity, Community, PIK II, Public Space, Budaya Otomotif, Identitas Arsitektur, Komunitas, PIK II, Ruang Publik |
| Subjects: | N Fine Arts > NA Architecture > NA2750 Architectural design. N Fine Arts > NA Architecture > NA6695 Art museums and galleries |
| Divisions: | Faculty of Architecture, Design, and Planning > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Muhammad Reyhan Sadhana Aji Witaguna |
| Date Deposited: | 04 Aug 2026 01:18 |
| Last Modified: | 04 Aug 2026 01:18 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/142507 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
