Hidayah, Annisa Nur (2026) Arsitektur Naratif Sebagai Media Retrospektif Tragedi PKI 1948 Melalui Desain Ruang Monumen Kresek. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
5013221008-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (11MB) | Request a copy |
Abstract
Arsitektur Naratif berargumen bahwa arsitektur berfungsi sebagai medium naratif yang mengkonfigurasi memori kolektif dan melawan kecenderungan melupakan. Hal ini sangat relevan dalam rancangan memorial karena pengalaman menyakitkan di masa lalu sering kali tidak dapat disampaikan tetapi justru penting untuk membentuk memori kolektif agar tragedi tercatat dan tidak terulang. Tragedi PKI 1948 menjadi salah satu peristiwa penting yang layak dikenang sebagai upaya menjaga kesadaran sejarah dan menumbuhkan nasionalisme, oleh karena itu, Teori Arsitektur Naratif digunakan sebagai pendekatan untuk menarasikan kembali tragedi tersebut melalui pengalaman spasial dengan menerapkan metode desain metafora sebagai strategi penerjemahan makna sejarah ke dalam bentuk arsitektur. Teori ini menggabungkan empat scene utama yaitu, 1) Thinking yang menekankan kesadaran tubuh dan perjalanan emosional pengunjung; 2) Imagining yang membangkitkan emosi dan pengalaman kengerian; 3) Educating yang memungkinkan ruang menyampaikan pengalaman langsung; dan 4) Designing yang memberi kesempatan bagi pengunjung untuk membangun narasi pribadi sambil menjaga kesinambungan memori kolektif. Keempat scene tersebut diterjemahkan ke dalam enam tahapan naratif yang diturunkan dari urutan tragedi PKI 1948, yaitu ketegangan, konflik, kehilangan, keterasingan, refleksi, dan rekonsiliasi. Tahapan ini disusun secara linear sebagai urutan perjalanan reflektif agar pengunjung dapat mengikuti perkembangan peristiwa secara bertahap, dari awal ketegangan hingga akhir pemulihan makna. Setiap tahapan diwujudkan melalui pengolahan elemen spasial, simbolik, material, sensori, dan emosional yang saling terhubung, sehingga menghadirkan pengalaman retrospektif yang koheren secara naratif. Tujuan utama rancangan ini adalah menciptakan ruang retrospektif tragedi secara arsitektural dengan memungkinkan pengunjung merasakan kengerian yang dialami secara emosional sambil memperkuat pemahaman moral dan sejarah. Diharapkan hasil desain ini dapat menghadirkan monumen yang hidup secara naratif, memperkuat identitas kolektif, dan memperluas kontribusi Arsitektur Naratif dalam konteks lokal Indonesia.
========================================================================================================================
===
Narrative Architecture argues that architecture functions as a narrative medium that configures collective memory and combats the tendency to forget. This is particularly relevant in memorial design because painful experiences from the past are often difficult to convey, yet they are crucial for shaping collective memory so that tragedies are recorded and not repeated. The 1948 PKI Tragedy stands as one of the most significant historical events worth commemorating as an effort to maintain historical awareness and foster nationalism. Therefore, Narrative Architecture Theory is employed as an approach to retell the tragedy through spatial experience, applying metaphorical design as a strategy for translating historical meaning into architectural form. This theory combines four main scenes: 1) Thinking, which emphasises bodily awareness and the emotional journey of visitors; 2) Imagining, which evokes emotions and experiences of horror; 3) Educating, which enables space to convey direct experiences; and 4) Designing, which provides opportunities for visitors to construct personal narratives while maintaining the continuity of collective memory. These four scenes are translated into six narrative stages derived from the sequence of the 1948 PKI Tragedy, namely tension, conflict, loss, alienation, reflection, and reconciliation.These stages are arranged linearly as a reflective journey so that visitors can follow the progression of events step by step, from the initial tension to the eventual restoration of meaning. Each stage is realised through the interplay of interconnected spatial, symbolic, material, sensory, and emotional elements, thereby presenting a narratively coherent retrospective experience. Based on this framework, the main objective of this design is to create an architectural space for retrospective tragedy, allowing visitors to feel the horror experienced emotionally while strengthening moral and historical understanding. It is hoped that the design will result in a monument that is narratively alive, strengthening collective identity and expanding the contribution of Narrative Architecture in the local Indonesian context.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Arsitektur Naratif, Pengalaman Naratif, Monumen Kresek, Memori Kolektif, Tragedi Sejarah, Collective Memory, Historical Tragedy, Monumen Kresek, Narrative Architecture, Narrative Experience |
| Subjects: | N Fine Arts > NA Architecture > NA2750 Architectural design. N Fine Arts > NA Architecture > NA6695 Art museums and galleries |
| Divisions: | Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Annisa Nur Hidayah |
| Date Deposited: | 04 Aug 2026 02:22 |
| Last Modified: | 04 Aug 2026 02:22 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/142690 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
