Miryati, Meliana Sanjulia (2026) Dialektika Estetika dan Fungsi dalam Persepsi Gen Z Studi Kasus: Tren Desain Kafe & Co-working Space di Surabaya. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
6013241012-Master_Thesis.pdf Restricted to Repository staff only Download (9MB) | Request a copy |
Abstract
Pada era digital dan pasca-pandemi, kafe & co-working space telah berkembang menjadi ruang publik informal yang signifikan dalam menunjang aktivitas belajar, bekerja, hingga bersosialisasi bagi Gen Z. Ruang-ruang ini tidak hanya dituntut estetis secara visual, namun juga harus fungsional dan adaptif terhadap gaya hidup digital-native. Sayangnya, tren desain saat ini kerap memisahkan antara estetika dan fungsi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana Gen Z memersepsikan hubungan antara estetika dan fungsi dalam desain kafe & co-working space, serta bagaimana dialektika keduanya dipahami sebagai satu kesatuan pengalaman spasial. Pendekatan yang digunakan adalah mixed-methods dengan strategi dominant-less dominant. Data dikumpulkan melalui kuesioner (105 responden Gen Z), observasi non-partisipatif, dan wawancara mendalam (8 narasumber) yang dianalisis dengan analisis tematik Braun & Clark. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, elemen estetika dominan yang hadir di kafe & co-working space Surabaya adalah palet warna netral-hangat, material industrial yang dihangatkan kayu, pencahayaan alami dengan warm white, serta gaya Minimalis Modern dan Skandinavia/Japandi sebagai preferensi utama. Sementara elemen fungsional yang paling diprioritaskan adalah ketersediaan stopkontak, kenyamanan kursi, dan stabilitas Wi-Fi. Kedua, Gen Z mempersepsikan estetika bukan sebagai dekorasi ramai, melainkan sebagai “Minimalisme Fungsional”, kesederhanaan bersih, proporsional, dan mendukung fokus. Fungsi dipahami sebagai kenyamanan holistik multi-indra yang mencakup ergonomi, suasana akustik, zonasi, dan fasilitas pendukung. Ketiga, dialektika estetika dan fungsi dalam persepsi Gen Z terwujud dalam tiga tahap: tesis (dominasi estetika fotogenik sebagai daya tarik awal), antitesis (crash experience ketika fungsi dikorbankan demi tampilan), dan sintesis (“Minimalisme Fungsional” di mana estetika tenang dan fungsi holistik saling memperkuat). Bagi Gen Z, “nyaman” adalah estetika tertinggi, dan “estetik” adalah kenyamanan yang terdesain dengan sadar. Temuan ini memberikan kontribusi pada ranah teori arsitektur dan psikologi lingkungan, serta memberi arah desain yang lebih relevan terhadap kebutuhan generasi muda. Ruang yang berhasil adalah ruang yang memulai desain dari kenyamanan dan fungsi, lalu memperkuatnya dengan estetika minimalis fungsional yang hangat, bersih, dan tidak berlebihan.
Kata Kunci: Estetika, fungsi, persepsi, Gen Z, kafe, co-working space, dialektika.
======================================================================================================================================
In the digital and post-pandemic era, cafés and co-working spaces have evolved into significant informal public spaces that support Gen Z's learning, working, and socializing activities. These spaces are required not only to be visually aesthetic but also functional and adaptive to digital-native lifestyles. Unfortunately, current design trends often separate aesthetics from function. This study aims to explore how Gen Z perceives the relationship between aesthetics and function in the design of cafés and co-working spaces, and how the dialectic between the two is understood as a unified spatial experience. The research employs a mixed-methods approach with a dominant-less-dominant strategy. Data were collected through questionnaires (105 Gen Z respondents), non-participatory observation, and in-depth interviews (8 informants), analyzed using Braun & Clark's thematic analysis. The findings reveal three main themes. First, the dominant aesthetic elements present in Surabaya's cafés and co-working spaces are neutral-warm color palettes, industrial materials softened with wood, natural lighting with warm white tones, and Minimalist Modern and Scandinavian/Japandi styles as primary preferences. Meanwhile, the most prioritized functional elements are the availability of power outlets, seating comfort, and Wi-Fi stability. Second, Gen Z perceives aesthetics not as crowded decoration, but as "Functional Minimalism", clean simplicity, proportional design, and focus-supporting environments. Function is understood as holistic multi-sensory comfort encompassing ergonomics, acoustic atmosphere, zoning, and supporting facilities. Third, the dialectic of aesthetics and function in Gen Z's perception manifests in three stages: thesis (the dominance of photogenic aesthetics as initial attraction), antithesis (crash experience when function is sacrificed for appearance), and synthesis ("Functional Minimalism" where calm aesthetics and holistic function reinforce each other). For Gen Z, "comfortable" is the highest form of aesthetics, and "aesthetic" is comfort that is consciously designed. These findings contribute to the fields of architectural theory and environmental psychology, while offering design directions more relevant to the needs of the younger generation. A successful space is one that begins design from comfort and function, then strengthens it with warm, clean, and unexcessive functional minimalist aesthetics.
Keywords: Aesthetics, function, perception, Gen Z, café, co-working space, dialectic.
Actions (login required)
![]() |
View Item |
