Konsep Penataan Kawasan Suci Margi Agung Pura Besakir: Suatu Kajian Latar Belakang Filosofis

Oka, I Gusti Bagus (2003) Konsep Penataan Kawasan Suci Margi Agung Pura Besakir: Suatu Kajian Latar Belakang Filosofis. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh November.

[thumbnail of 3200205010-Master_Thesis.pdf] Text
3200205010-Master_Thesis.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (13MB)

Abstract

Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali dengan margi agungnya yang berada pada sumbu simetris candi bentar Pura Penataran Agung sebagai pintu keluar, yang menunjukkan keagungan, kesucian, dan kesakralan kawasan suci ini. Di samping merupakan lingkungan pura, kawasan suci Besakih ini juga mencakup lingkungan pemukiman yang berada di kiri kanan margi agung, yang menjadikan permasalahan karena dapat menodai kawasan suci margi agung bilamana terjadi sesuatu yang dapat menodai kesucian kawasan, terutama bila terjadi upacara pura yadnya. Di samping permasalahan yang satu ini, masih ada permasalahan lain yang mengganggu yaitu kurang lancar dan nyamannya lalu lintas menuju pura, karena terjadi penyatuan sirkulasi antara pamedek, wisatawan, maupun prosesi upacara di margi agung. Dengan melakukan cara deskriptif analitis sintesis interpretatif, menguraikan apa adanya informasi yang ada di lapangan yang kemudian dianalisis dan diinterpretasikan berdasarkan nilai-nilai budaya yang mendukungnya serta diadakan analisis sintesis untuk mendapatkan alternatif terbaik dalam memecahkan permasalahan, maka akan didapatkan konsep penataan kawasan suci margi agung ini. Dari hasil analisis yang dilakukan, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa margi agung ini di samping merupakan pusat orientasi juga merupakan daerah sakral yang patut dilindungi. Penataan margi agung akan dilaksanakan dengan memisahkan daerah profan dengan daerah sakral, dengan tetap menjaga terjadinya hubungan terutama visual sehingga aktivitas yang terjadi pada kawasan margi agung dapat berjalan dengan nyaman, baik bagi penghuni, wisatawan, dan juga bagi pelaku upacara. Tempat berjualan di sepanjang margi agung juga akan tetap dipertahankan dan ditata sehingga mendapatkan lingkungan yang serasi dan juga dapat memberikan pengaruh positif terhadap penghuni dan wisatawan. Pemesuan bagi para penghuni akan ditata kembali dengan mengambil bentuk angkul-angkul dan sejenisnya, sehingga memperlihatkan adanya kebudayaan yang tinggi dari pendukung kebudayaan itu sendiri. Telajakan yang merupakan daerah penghijauan sepanjang margi agung direncanakan untuk menambah keasrian lingkungan.
===================================================================================================================================
Besakih Temple is the greatest temple in Bali. The main road or margi agung leading to the temple is located on a symmetrical axis with candi bentar or the main gate of Penataran Agung Temple as an exit gate, representing the greatness, holiness, and sacredness of this holy area. In addition to the temple area, the Besakih holy area also includes a residential area located on the left and right sides of this margi agung. This residential area sometimes creates problems because something could result in the disgrace of this holy area, especially when the people in these residences establish a ceremonial event. In addition, there are many other problems that disturb the smoothness and comfort of traffic toward the temple, caused by the combined circulation of pamedek (worshippers), tourists, and the ceremonial procession itself along margi agung. The actual information is explained using a descriptive-analytic-synthesis-interpretative method. This information is then analyzed and interpreted based on the supporting cultural values to gain the best alternative to resolve the problems, so that the concept for structuring the margi agung area can be achieved. Based on the analysis results, a conclusion can be made that in addition to being a center of orientation, margi agung is a sacred area that must be protected. Structuring the margi agung area is established by separating the profane area from the sacred area while preserving their relationship, especially visual connections. This allows activities in the margi agung area to run comfortably for residents, tourists, and ceremony participants. The selling area along margi agung will also be preserved and structured to create a harmonious environment as well as give a positive influence to both occupants and tourists. Exit ways or pemesuan for residents will be restructured using the angkul-angkul pattern or similar styles to reflect high cultural value from the culture supporters themselves. Telajakan, a greening area along the road, is planned to enhance environmental harmony.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Konsep filosofis, penataan kawasan suci, margi agung, poros hulu/kaja-teben/kelod, Pura Besakih, Philosophical concept, structuring holy area, margi agung, axis "hulu/kaja-teben/kelod", Besakih Temple
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture > NA2750 Architectural design.
Divisions: Faculty of Civil Engineering and Planning > Architechture > 23101-(S2) Master Theses
Depositing User: magang .
Date Deposited: 22 Sep 2026 02:29
Last Modified: 22 Sep 2026 02:29
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/144770

Actions (login required)

View Item View Item