Sinatri, Peni Puspendah (2005) Penurunan Identitas Kawasan Sebagai Akibat Proses Algomerasi : Studi Kasus Perbatasan Wilayah Sidoarjo - Surabaya. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh November.
|
Text
3202203003-Master_Thesis.pdf Restricted to Repository staff only Download (14MB) |
Abstract
Perbatasan wilayah antara Kota Sidoarjo dan Kota Surabaya lambat laun semakin tidak jelas. Salah satu penyebabnya adalah proses aglomerasi. Proses aglomerasi terjadi karena perkembangan kota sudah tidak mampu menampung seluruh aktivitasnya sehingga sebagian kegiatan tersebut berpindah ke daerah pinggiran. Pada akhirnya, perkembangan kegiatan tersebut memengaruhi wilayah kota di sekitarnya dan mengakibatkan bergabungnya secara fisik suatu kota dengan daerah lain di sekitarnya sehingga batas wilayah menjadi sulit ditentukan. Kawasan perbatasan merupakan kawasan pinggiran kota yang biasanya kurang mendapat perhatian dari pemerintah pusat kota. Mutu lingkungan yang buruk cenderung terjadi pada ruang kota di kawasan perbatasan akibat perkembangan yang tidak terencana. Kondisi lingkungan yang buruk tersebut memengaruhi persepsi masyarakat sebagai pengguna kawasan sehingga menimbulkan pandangan yang kurang baik dan pada akhirnya menyebabkan penurunan identitas kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas masyarakat sebagai pengguna kawasan di perbatasan wilayah Sidoarjo dan Surabaya yang menyebabkan penurunan identitas kawasan serta mengetahui faktor yang menyebabkan batas wilayah Sidoarjo dan Surabaya menjadi tidak jelas sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru mengenai daerah atau wilayah tempat tinggal masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menginvestigasi fenomena pembangunan yang ada melalui studi kasus dan penelitian lapangan (case study and field research). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan masyarakat atau penduduk setempat dari berbagai latar belakang, penghuni berbagai kawasan perumahan, serta pengguna kawasan lainnya. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap perilaku masyarakat sebagai pengguna kawasan dan kondisi fisik pada objek penelitian. Pada koridor perbatasan di Waru dilakukan pengamatan terhadap berbagai elemen yang terdapat dalam pola kegiatan atau aktivitas masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori Kevin Lynch untuk mengenali identitas kawasan melalui elemen-elemen dasar pembentuk kawasan perkotaan, yaitu path (jalur), edge (tepian), district (kawasan), node (simpul), dan landmark (tengaran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wilayah perbatasan di Waru, Sidoarjo, yang sangat pesat tidak diimbangi dengan pembangunan dan penataan lingkungan fisik yang memadai. Kondisi tersebut sangat memengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat sebagai pengguna kawasan serta berkontribusi terhadap menurunnya identitas kawasan perbatasan Sidoarjo–Surabaya.
==================================================================================================================================
The boundary between Sidoarjo and Surabaya has gradually become increasingly indistinct. One of the factors contributing to this condition is the process of urban agglomeration. Agglomeration occurs when urban development can no longer accommodate existing activities, resulting in the relocation of activities to peripheral areas. Eventually, the development of these activities affects surrounding urban areas and leads to the physical integration of one city with neighboring areas, making administrative boundaries increasingly difficult to identify. Boundary areas are peripheral urban areas that generally receive less attention from the central municipal government. Poor environmental quality tends to occur in boundary areas due to unplanned development, which subsequently affects the perceptions of both residents and other users of the area. This condition contributes to the degradation of the area’s identity. This study aims to identify community activities in the boundary area between Sidoarjo and Surabaya that contribute to the degradation of the area’s identity and to examine the factors causing the boundary between the two cities to become unclear, resulting in misconceptions among residents regarding the locality in which they live. This research employs a qualitative approach by investigating existing development phenomena through case studies and field research. Data were collected through interviews with local residents from various backgrounds, residents of different housing areas, and other users of the area. Observations were also conducted on human behavior as well as the physical setting of the research area. In the boundary corridor of Waru, observations focused on the elements present in the activity patterns of residents and other users. This study applies Kevin Lynch’s theory to identify urban area identity through five basic elements of urban form: path, edge, district, node, and landmark. The results show that the rapid development of the boundary area in Waru, Sidoarjo, has not been accompanied by adequate development and improvement of its physical setting. This condition significantly affects the perceptions and behavior of residents as users of the area and contributes to the declining identity of the Sidoarjo–Surabaya boundary area.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Additional Information: | RTA 711.4 Sin p |
| Uncontrolled Keywords: | Sidoarjo, Surabaya, perbatasan, aglomerasi, boundary, agglomeration |
| Subjects: | N Fine Arts > NA Architecture > NA9053 City planning |
| Divisions: | Faculty of Civil Engineering and Planning > Architechture > 23101-(S2) Master Theses |
| Depositing User: | magang . |
| Date Deposited: | 23 Sep 2026 02:31 |
| Last Modified: | 23 Sep 2026 02:31 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/144811 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
