Rahmawati, Yuki Diah (2008) Konsep Penyelesaian Ketimpangan Infrastruktur Pada Kawasan Industri di Jawa Timur. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
3604100019-Undergraduate_thesis.pdf Restricted to Repository staff only Download (45MB) |
Abstract
Perubahan sektor ekonomi dari sektor primer menuju sektor sekunder, yaitu industri, merupakan suatu tahapan dalam proses industrialisasi. Industrialisasi dilakukan karena adanya anggapan bahwa industri memiliki nilai tambah (added value) lebih tinggi daripada sektor primer. Untuk menunjang kegiatan industri tersebut, diperlukan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Akan tetapi, permasalahan yang terjadi di Jawa Timur sekarang ini adalah terjadinya ketimpangan infrastruktur tersebut. Ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri di sini menimbulkan implikasi negatif pada kondisi perekonomian. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan perkembangan sektor industri di Jawa Timur. Penelitian ini merumuskan konsep untuk menyelesaikan permasalahan ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri di Jawa Timur. Tahapan yang pertama kali dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik industri di Jawa Timur. Kemudian mengidentifikasi karakteristik infrastruktur kawasan industrinya. Setelah itu dilakukan tahap analisis, yaitu mengetahui pola ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri menggunakan analisis cluster (dengan mengelompokkan kabupaten dan kota berdasarkan persamaan karakteristik infrastruktur) dan analisis deskriptif. Hasil analisis tersebut dapat dijadikan dasar untuk merumuskan apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri dengan menggunakan analisis Delphi melalui wawancara kepada stakeholders terpilih dan prinsip konsep penyelesaiannya dalam rangka mengembangkan ekonomi wilayah. Prinsip konsep penyelesaian ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri di Jawa Timur dilakukan dengan perbandingan antara pemikiran penulis, referensi mengenai konsep dari hasil tinjauan pustaka, dan acuan konsep studi empiris kawasan lain. Konsep penyelesaian ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri di Jawa Timur ini merupakan hasil dari penyelesaian faktor-faktor penyebab terjadinya ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri di Jawa Timur dengan prinsip konsep yang ada. Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep yang sesuai untuk menangani terjadinya ketimpangan infrastruktur pada kawasan industri di Jawa Timur adalah "Penyelesaian Ketimpangan Infrastruktur melalui perbaikan pengelolaan seperti Good Infrastructure Governance, partisipasi masyarakat dan swasta, bekerja sama dengan daerah lain, serta konsistensi dengan tata ruang yang ada dan terintegrasinya antara tata ruang yang satu dengan yang lain. Untuk cluster I yang memiliki infrastruktur cukup baik dan memiliki industri yang besar dan berpolusi adalah dengan melakukan kerja sama dari pemerintah dan pelaku industri. Di mana pemerintah harus tegas kepada pelaku industri yang tidak memiliki pengolahan limbah. Misalnya pada KIG di Kabupaten Gresik yang masih belum memiliki pengolahan limbah. Selain itu, juga mengintegrasikan pengelolaan dan perencanaan sistem jaringan jalan untuk menunjang kegiatan industri yang berkembang pesat sehingga memudahkan lalu lintas industri. Untuk cluster II yang rata-rata merupakan kabupaten/kota di Selatan Jawa Timur, infrastruktur dan teknologi informasi pada cluster ini masih kurang baik. Misalnya mengenai jaringan jalan di wilayah Selatan. Kabupaten Banyuwangi dan Jember memiliki industri besar. Oleh karena itu, untuk menanganinya dapat dilakukan juga dengan mengintegrasikan pengelolaan dan perencanaan jaringan jalan dengan penggunaan teknologi informasi yang modern yang dapat menunjang industri-industri yang ada di sana. Cluster yang terakhir adalah cluster III. Cluster ini bercirikan memiliki infrastruktur yang baik. Oleh karena itu, harus dijaga dan dilestarikan dengan baik. Misalnya dengan mengintegrasikan perencanaan dan pengelolaan infrastruktur supaya jaringan jalan antar daerah saling terkait.
=====================================================================================================================================
The changes of the economic sector from the primary sector into the secondary sector, which is industrial, is a step in the industrial process. Industrialization is conducted because of the assumption that industry presents higher added value than the primary sector. To support industrial activities, proper infrastructure sufficiency is needed. However, lately, the issue that comes up in East Java is about unequal infrastructure. This unequal infrastructure has implications for economic conditions. It is noticed from the differences in industrial sector development in East Java. This research is set up to overcome the issue of unequal infrastructure in industrial areas in East Java. The first step is to identify industrial characteristics in East Java. The next step is to identify the infrastructure characteristics of industrial areas. The third step is analyzing to recognize unequal infrastructure patterns in industrial areas by using cluster analysis (categorizing cities and regencies based on similarities in infrastructure characteristics). These analytical results become a basis to formulate what factors cause unequal infrastructure in industrial areas by using Delphi analysis through interviewing some chosen stakeholders and problem-solving concept principles to develop the regional economy. These principles are obtained by comparing the author's ideas, references, and empirical studies in other places. The problem-solving concept addresses the factors causing inequality based on the existing concept. From the analysis, we conclude that there are concepts which are appropriate to overcome unequal infrastructure in industrial areas in East Java, "by improving management skills such as Good Infrastructure Governance, community and private participation or involvement, cooperation with other regions, and regional planning consistency." The concept for Cluster I, which has pretty good infrastructure and large and polluting industries, is by establishing cooperation between the government and industrial actors. The government must be strict with industrial actors who do not have waste management. For example, KIG in Gresik, which does not yet have waste management. Besides that, by integrating the management of the road network system to support industrial activities that are developing quickly, so that industrial mobility can be facilitated. For Cluster II, which consists of cities and regencies in the southern part of East Java, infrastructure and information technology in this cluster are lacking. For example, regarding the road network in the southern area, Banyuwangi and Jember have some large industries. That is why, for solving it, it is also necessary to integrate road network management and planning with modern information technology that is able to support the existing industries. The last cluster is Cluster III. This cluster is characterized by good infrastructure. That is why it has to be maintained and managed as well as possible. For example, by integrating infrastructure planning and management, so that the road networks between regions are interconnected.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Additional Information: | RSPW 363.6 Rah k |
| Uncontrolled Keywords: | Ketimpangan, infrastruktur, industri, inequality, infrastructure, industries |
| Subjects: | H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races > HT133 City and Towns. Land use,urban |
| Divisions: | Faculty of Architecture, Design, and Planning > Regional and Urban Planning > 35201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | magang . |
| Date Deposited: | 20 Oct 2026 06:08 |
| Last Modified: | 20 Oct 2026 06:08 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/145696 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
