PENGARUH SIKLUS TEMPA DAN PENGERASAN PERMUKAAN TERHADAP KUALITAS PISAU DARI BAHAN BAJA BEKAS

-, NURHADI (2017) PENGARUH SIKLUS TEMPA DAN PENGERASAN PERMUKAAN TERHADAP KUALITAS PISAU DARI BAHAN BAJA BEKAS. Undergraduate thesis, Instiut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
2114105033-Undergraduate_Theses.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (5MB) | Request a copy

Abstract

Penempaan (forging) dalam pembuatan pisau merupakan proses membentuk logam dengan menggunakan gaya tekan yang dihasilkan dari palu tangan (hammer). Proses ini dilakukan dalam beberapa siklus tempa sampai terbentuk pisau. Siklus tempa merupakan proses pemanasan material pisau pada tungku pemanas sampai temperature tempa dan selanjutnya dilakukan penempaan sampai temperature minimal tempa. Parameter yang mempengaruhi siklus tempa antara lain: temperature pemanasan, komposisi kimia material, lama pemanasan dan gaya tempa. Setelah ditempa dilakukan proses pembentukan mata pisau dan finishing menggunakan mesin gerinding, selanjutnya dilakukan proses penyepuhan (surface hardening). Penelitian ini mempelajari tentang pengaruh siklus tempa dan pengerasan permukaan terhadap kualitas pisau dari bahan logam bekas. Bahan yang ditempa dalam pembuatan pisau adalah menggunakan baja bekas. Proses penempaan dilakukan secara manual pada pande besi tradisional. Pembuatan pisau dilakukan dengan memanaskan logam bekas dan ditempa berulang-ulang menggunakan palu. Logam dipanaskan mencapai temperatur 723°C kemudian ditempa. Siklus pemanasan dan penempaan dilakukan beberapa kali untuk mencapai bentuk pisau yang diinginkan. Selanjutnya dilakukan proses pengerasan permukaan dengan cara memanaskan pisau mencapai temperatur 723°C dan ditahan selama 5 menit, kemudian didinginkan secara cepat menggunakan media pendingin oli dan air. Pengukuran kekerasan menggunakan alat ukur Rockwel skala C (HRC), nilai kekerasan diukur disisi permukaan dan penampang pisau. Pengamatan struktur mikro menggunakan microskop optik. Struktur mikro yang diamati pada permukaan, ujung dan penampang pisau. Nilai kekerasan tertinggi pisau dari material poros roda yang mengalami proses surface hardening secara terkontrol adalah 51 HRC. Struktur mikro yang dominan terdiri atas perlit dan ferit. Kekerasan pisau dari material swing arm untuk surface hardening terkontrol 52 HRC dengan struktur mikro perlit, ferit, martensit dan austenit sisa. Kekerasan pisau dari material pegas daun untuk proses surface hardening terkontrol 62 HRC dengan struktur mikro martensit dan austenit sisa. Kekerasan pisau dari material poros mesin industri untuk surface hardening terkontrol 42 HRC dengan struktur mikro martensit dan austenit sisa. Kekerasan pisau dari material poros pewarna batik pada proses surface hardening terkontrol 51 HRC dengan struktur mikro terdiri dari martensit dan austenit. ============================================================================================= Forging in the knife making a metal-forming process using compressive force generated from a hand hammer. This process is carried out in several cycles until a knife wrought. Wrought cycle is the process of heating the blade material in the furnace up to temperature and then performed forging wrought up wrought minimum temperature. The parameters that affect the cycle wrought among others: the heating temperature, chemical composition of material, prolonged heating and forging force. Having forged blade made the process of forming and finishing using gerinding engine, the plating process is then performed (surface hardening). This research studies about the influence of cyclical forging and hardening the surface of the blade quality of metal materials marks. The materials in the manufacture of blades are forged using scrap steel. Forging process was done manually on traditional blacksmiths. Knife making is done by heating the scrap metal and hammered repeatedly with a hammer. Heated metal reaches a temperature of 723 ° C and then forged. And forging heating cycle performed several times to achieve the desired shape of the blade. Surface hardening process is then performed by heating the blade reaches a temperature of 723 ° C and held for 5 minutes, then rapidly cooled using a cooling medium oil and water. Hardness measurement using a measuring instrument Rockwell C scale (HRC), the measured hardness value side surface and cross section of the blade. Microstructure observation using an optical microscope. The microstructure was observed on the surface, the tip and the blade cross section. The highest hardness value of material knife axle experiencing surface hardening process in a controlled manner is 51 HRC. The dominant microstructure consists of pearlite and ferrite. Blade hardness of the material for surface hardening swing arm controlled 52 HRC with pearlite microstructure, ferrite, martensite and retained austenite. Violence blade of the leaf spring material for surface hardening process controlled 62 HRC with the microstructure of martensite and retained austenite. Violence blade of the shaft material for surface hardening industrial machinery controlled 42 HRC with the microstructure of martensite and retained austenite. Violence blade of the shaft material batik dye on surface hardening process controlled 51 HRC with a microstructure consisting of martensite and austenite.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: surface hardening, pisau, logam, tempa, pande besi
Subjects: T Technology > TJ Mechanical engineering and machinery
Divisions: Faculty of Industrial Technology > Mechanical Engineering > (S1) Undergraduate Theses
Depositing User: - NURHADI -
Date Deposited: 25 Jan 2017 08:23
Last Modified: 25 Jan 2017 08:23
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/3265

Actions (login required)

View Item View Item