Analisis Pengembangan Fasilitas dan Operasional Pelabuhan Perikanan Higienis : Studi Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong

Komaril, Annisa Fajrin (2018) Analisis Pengembangan Fasilitas dan Operasional Pelabuhan Perikanan Higienis : Studi Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
04411340000028_Undergraduated_Thesis.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 45/KEPMEN-KP/2014 tentang Rencana Induk Pelabuhan Perikanan Nasional, Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong merupakan salah satu pelabuhan perikanan yang akan ditingkatkan kelasnya menjadi pelabuhan perikanan samudera pada tahun 2025. Adanya perubahan kelas dapat meningkatkan kualitas dan nilai dari ikan tersebut dengan diimbangi oleh fasilitas dan operasional yang berbasis higienis. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Provinsi Jawa Timur dan yang berlokasi di Lamongan. Dari penelitian ini didapatkan nilai indeks higienis pelabuhan dengan metode pembobotan ANP. Indeks higienis Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong sebesar 2,31 dan tiga nilai dari subkriteria tidak lolos batasan minimum pelabuhan perikanan higienis sehingga nilai tersebut belum memenuhi syarat pelabuhan higienis. Untuk menjadikan pelabuhan higienis maka dilakukan pengembangan fasilitas dan operasional pelabuhan pada kriteria lokasi dan lingkungan; konstruksi bangunan; dinding, penerangan dan ventilasi; pasokan air dan bahan bakar; es; penanganan limbah; toilet; pembersihan dan sanitasi; serta kontrol sanitasi. Biaya yang dikeluarkan dalam pengembangan agar menjadi pelabuhan higienis sebesar Rp. 16. 579.241.200. =========== According to Decision of The Ministry of Marine and Fisheries Republic Indonesia Number 45/KEPMEN-KP/2014 about master plan of the National Fisheries Port, Archipelago fishery port Brondong is one of the fishery port that will be up graded his class became an Ocean fishery port in the year 2025. Class changes can improve the quality and value of the fish with te offset by the facilities and hygienic-based operationes. An Archipelago Fishery Port Brondong is the largest fishery port in east java province and located in Lamongan. from this tudy, the index value hygienic port with the weighting method using ANP. Hygienic index Archipelago Fishery Port of Brondong at 2,31 and three values of subcriteria do not pass the minimum limit of hygienic fishing port so that the value has not met the hygienic port requirement. To make the port hygiene, the development of port facilities and operations on the criteria of location and environment; building construction; walls, lighting and ventilation; water supply and fuel; ice; waste handling; toilet; cleaning and sanitation; as well as sanitary controls. Cost incurred in the development to become a hygienic port of Rp. 16. 579.241.200.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Indeks Higienis Pelabuhan Perikanan Nusantara; ANP; Pengembangan Pelabuhan; Biaya; Hygienic of Archipelago Fishery Port Index; ANP; Port Development; Costs
Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications > HE311.I4 Urban transportation
H Social Sciences > HE Transportation and Communications > HE355 Traffic engineering
Divisions: Faculty of Marine Technology > Marine Transportation > (S1) Undergraduate Theses
Depositing User: Komaril Annisa Fajrin
Date Deposited: 25 Jan 2018 03:51
Last Modified: 25 Jan 2018 03:51
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/50541

Actions (login required)

View Item View Item