Simbiosis : Hunian Komunal Bali (Studi Kasus : Wilayah Kuta Selatan)

Adigarbha, I Putu (2018) Simbiosis : Hunian Komunal Bali (Studi Kasus : Wilayah Kuta Selatan). Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

[img] Text
3214207013_Master Thesis.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (5MB) | Request a copy

Abstract

Kepadatan penduduk menjadi salah satu penyebab masalah perkotaan kini. Peluang besar di kota menarik minat masyarakat demi memperoleh taraf hidup yang lebih sejahtera. Begitu juga di pulau Bali, wilayah yang populer dengan destinasi wisatanya yang eksotis kini dipenuhi penduduk pendatang dari berbagai daerah. Contohnya di wilayah Kuta Selatan, terdapat kawasan pemukiman yang unik karena mempunyai komunitas masyarakat yang multikultural ditengah padatnya Kuta,. Kondisi tersebut menyebabkan terciptanya akulturasi sosial secara tidak langsung. Begitu juga dengan lingkungan di kawasan tersebut, dipenuhi bangunan dengan style yang berbeda-beda. Disisi lain, kurangnya ruang publik di Kuta menuntut bangunan baru dapat digunakan untuk beberapa fungsi sekaligus. Namun tetap menampilkan citra arsitektur Bali yang modern pada bangunannya untuk menjaga keletariannya. Dalam menggabungkan dua langgam yang berbeda, pendekatan teori yang digunakan adalah arsitektur simbiosis oleh Kisho Kurokawa. Simbiosis adalah konsep menggabungkan 2 unsur berbeda untuk memnghasilkan elemen baru yang harmonis. Konsep simbiosis dapat diaplikasikan dengan metode hibrid yang terbagi menjadi 3 yaitu (1) hibrid antara interior & eksterior, (2) hibrid antar budaya yang berbeda, dan (3) hibrid antara masa lalu dan masa kini. Pada proses desain, metode hibrid diterapkan melalui 3 tahap berurutan diantaranya quotation (pemilihan), modification (perubahan), dan unification (penggabungan). Menurut lontar Asta Kosala-Kosali, bangunan tradisional Bali dibagi menjadi 3 zonasi menurut tingkatannya, yaitu Nista mandala (kotor), Madya mandala (tengah), dan Utama mandala (suci). Aturan tersebut membagi rumah tradisional Bali menjadi 9 petak yang terdiri dari area servis (nista) , area hunian dan area transisi (madya), serta area suci (utama.). Salah satu konsep unik dari rumah tradisional Bali adalah ruang luar (natah) yang terletak ditengah dikelilingi massa bangunan pada 4 penjuru utamanya. Menurut filosofinya, natah (pekarangan) merupakan lambang pertemuan antara bumi (Pradana) dan langit (Purusa). Menurut konsep arsitektur simbiosis, keberadaan natah sebagai keunikan dapat dikembangkan pada bangunan modern karena jumlahnya yang semakin berkurang, akibat sempitnya lahan hunian di Kuta. Salah satunya dengan aplikasi bangunan penghubung yang diangkat keatas sebagai ruang publik alternatif sekaligus ruang transisi (intermediary zone) pada bangunan hunian komunal Bali. ========== Population density is one of the causes of urban problems today. Great opportunities in the city attract people to try for a higher standard of living. Likewise , on the island of Bali which is a popular exotic tourist destination, is now filled with migrants from various regions. For example, in South Kuta, there is a unique residential area that has multicultural community in the middle of the crowded city . The se conditions led to indirect social acculturations. The environment in the area is also filled with buildings with different styles. On top of that, the lack of public space in Kuta requires new buildings to be used for several functions at once while still showing the image of modern Balinese architecture to preserve it. I n combining two different styles, the theoretical approach used in this study is the symbiotic architecture by Kisho Kurokawa. Symbiosis is the concept of combining two different elements to create a harmonious new element. The concept of symbiosis can be applied through hybrid method which can be divided into 3 parts: (1) hybrid between the interior & the exterior, (2) intercultural hybrid between different cultures, and (3) hybrid between past and present. In the design process, the hybrid method is applied through 3 consecutive stages including quotation, modification, and unification. According to Asta Kosala-Kosali lontar, the traditional Balinese building is divided into 3 zonas based on its level, namely Nista mandala (dirty), Madya mandala (middl e), and Main mandala (sacred). These rules divide the traditional Balinese house into 9 plots consisting of service area (nista), residential area and transition area (madya), as well as the sacred area (main). One of the unique concepts of traditional Balinese house is that the outdoor space (natah) is surrounded by mass of buildings on its 4 main corners. According to this philosophy, natah (yard) is the symbol of the meeting between the earth (Pradana) and the sky (Purusa). While according to the concept of symbiotic architecture, the existence and uniqueness of natah can be developed in to outdoor space in modern buildings which number keeps decreasing due to limited size of residential lands in Kuta. One of the solutions is to create an elevated connecting building as an alternative public space as well as the transitional space (intermediary zone) in Bali communal dwelling.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Urban; Arsitektur Bali; Simbiosis; Hibrid; Hunian Komunal; Balinese Architecture; Symbiosis; Hybrid; Communal dwelling
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
N Fine Arts > NA Architecture > NA7115 Domestic architecture. Houses. Dwellings
Divisions: Faculty of Civil Engineering and Planning > Architechture > (S2) Master Theses
Depositing User: I Putu Adigarbha
Date Deposited: 24 Apr 2018 08:42
Last Modified: 24 Apr 2018 08:42
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/51069

Actions (login required)

View Item View Item