Studi Serapan Karbon Dioksida (CO2) Udara Ambien oleh Tumbuhan Air Menggunakan Indikator Nilai Kumulatif Konsentrasi (Net-CO2-Con)

Izzah, Rohmah Iftitah Sa'idatul (2018) Studi Serapan Karbon Dioksida (CO2) Udara Ambien oleh Tumbuhan Air Menggunakan Indikator Nilai Kumulatif Konsentrasi (Net-CO2-Con). Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
03211440000029-Undergraduate_Theses.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB) | Request a copy

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah penampakan hijau pada suatu kawasan yang secara alami maupun sengaja ditanami vegetasi. Luasan RTH di wilayah perkotaan yang masih belum mencukupi target membutuhkan pengembangan RTH untuk wilayah perairan karena keterbatasan lahan. Aliran sungai merupakan area yang paling berpotensi untuk pengembangan RTH di perairan karena kaya nutrien dan berada di daerah sekitar aktivitas manusia. Pada penelitian ini dipilih aliran Sungai Kalimas, merupakan sungai terbesar yang membelah pusat Kota Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan serapan karbon dioksida berdasarkan jenis dan luas tumbuhan air. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Departemen Teknik Lingkungan ITS. Tumbuhan air yang digunakan adalah Eichhornia crassipes (eceng gondok), Pistia stratiotes (kayu apu), dan Hydrilla verticillata (hydrilla). Masing-masing perlakuan 3 (tiga) jenis luas tumbuhan yakni 25%, 50%, dan 75% dari luas reaktor yang digunakan. Penelitian dilakukan dengan pengukuran konsentrasi karbon dioksida udara setiap jam selama 13 jam (06.00 hingga 18.00 WIB). Parameter yang diukur adalah suhu dan konsentrasi karbon dioksida yang dilakukan selama 7 (tujuh) hari. Data pengukuran konsentrasi karbon dioksida akan diplotkan ke dalam grafik (Ct). Persamaan konsentrasi Ct dideferensi untuk mendapatkan persamaan laju perubahan konsentrasi karbon dioksida (dC/dt). Selanjutnya, persamaan laju perubahan konsentrasi karbon dioksida diintegrasi untuk mendapatkan nilai kumulatif konsentrasi karbon dioksida (Net-CO2-Con). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan air dapat menyerap CO2 udara karena memiliki kandungan klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Tumbuhan air mampu meyerap CO2 melalui proses fotosintesis dengan konsentrasi terendah saat siang hari pukul 11.00-14.00 WIB. Hasil kurva perubahan konsentrasi yang didapatkan sama dengan kurva perubahan konsentrasi CO2 pohon. Jenis tumbuhan air yang mampu menyerap CO2 terbanyak adalah tumbuhan kayu apu dengan nilai serapan sebesar -207,30 ppmv. Sedangkan tumbuhan yang memiliki nilai serapan terkecil adalah tumbuhan eceng gondok sebesar -56,47 ppmv. Pengaruh luas tumbuhan terhadap nilai KCO2 berbanding lurus, semakin luas tumbuhan air pada reaktor maka semakin tinggi pula nilai KCO2 yang dihasilkan. Berdasarkan koefisien pada persamaan model yang didapatkan, perubahan laju serapan tertinggi setiap adanya penambahan luas tumbuhan terjadi pada tumbuhan kayu apu sebesar -261,5 ppmv, kemudian eceng gondok -196,67 ppmv, dan yang terendah terjadi pada tumbuhan hydrilla sebesar -145,69 ppmv. =============== Green Space Area is a green landscape at an area that occur naturally or intentionally planted with vegetation. The area of green space area in the city that is still inadequate to the goal target requires the development of green space area for waters territorial area due to limited land available. The river stream is the most potential area for green space area development because it contains rich nutrient that needed by aquatic plants to grow. In this study selected the stream of Kalimas River, Kalimas River is the largest river that divides the center of Surabaya. This study objective is to determine the ability of carbon dioxide uptake based on the type and size of aquatic plants. The study was conducted at the greenhouse of the Department of Environmental Engineering ITS. Aquatic plants used are Eichhornia crassipes (water hyacinth), Pistia stratiotes (water lettuce), and Hydrilla verticillata (hydrilla). Each treatment of 3 (three) types of leaf shade area was 25%, 50%, and 75%. The study was conducted by measuring air carbon dioxide every hour for 13 hours (06.00 to 18.00). The parameters used are temperature and carbon dioxide concentration for 7 (seven) days. The measurement data of carbon dioxide concentration will be plotted into graph (Ct). The Ct concentration equation is differentiated to get conversion rate of carbon dioxide (dC / dt). Furthermore, conversion rate equation of carbon dioxide is integrated to obtain cumulative value of carbon dioxide concentration (Net-CO2-Con). The results showed that aquatic plants can be used to reduce CO2 concentrations in air because they contain chlorophyll. Aquatic plants are able to reduce CO2 through the process of photosynthesis during the day at 11:00 to 14:00. Type of aquatic plants that able to absorb the most CO2 is water lettuce with an absorption value of -207,30 ppmv. While aquatic plants that have least absorptive value is hydrilla plant with the value of absorption -56,47 ppmv. The more broader the plant on the surface of the water, the higher the absorption rate of CO2. The addition of maximum absorption rate from plants is on water lettuce of -261,5 ppmv, then water hyacinth -196,67 ppmv, and the lowest occurring in hydrilla -145,69 ppmv

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: RSL 363.738 74 Izz s
Uncontrolled Keywords: Eichhornia crassipes, Hydrilla verticillata, karbon dioksida, Pistia stratiotes, ruang terbuka hijau, carbon dioxide, Pistia stratiotes, green space area
Subjects: T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering > TD192.5 Bioremediation
T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering > TD883.5 Air--Pollution
Divisions: Faculty of Civil Engineering and Planning > Environment Engineering > (S1) Undergraduate Theses
Depositing User: Izzah Rohmah Iftitah Sa'idatul
Date Deposited: 06 Dec 2018 02:27
Last Modified: 06 Dec 2018 02:27
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/53194

Actions (login required)

View Item View Item