Yasmin, M. Fariz and Wibowo Putra, Fahdul Baar (2019) PENGOLAHAN MINYAK BUMI: NAPHTHA HYDROTREATING UNIT DAN LIGHT END UNIT. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
02211540000010-undergraduate_Theses.pdf Restricted to Repository staff only Download (8MB) | Request a copy |
Abstract
Energi sangat diperlukan dalam menjalankan segala aktivitas seperti aktivitas industri. Energi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemakmuran masyarakat dan pengelolaannya harus mengacu pada asas pembangunan berkelanjutan bagi kemakmuran masyarakat Indonesia. Dalam mengeksplorasi sumber energi, Indonesia masih fokus pada unrenewable energy, sedangan renewable energy masih jarang dimanfaatkan. Hal ini dapat menyebabkan semakin menipisnya ketersediaan energi fosil, sehingga menjadi langka dan menyebabkan Indonesia menjadi negara importir minyak mentah beserta turunannya. Menurut Upstream Oil and Gas for South-Eastern Asia, cadangan gas dan minyak Indonesia terus megalami penurunan seiring dengan tidak bertambahnya sumber-sumber minyak yang baru. Hal ini diprediksi cadangan minyak Indonesia akan habis dalam 8 tahun dan untuk gas dalam 10 tahun ke depan. Selain itu, tingkat pengurasan cadangan minyak Indonesia sangat tinggi, mencapai 8 kali laju pengurasan di negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Libya. Dengan kata lain, cadangan minyak Indonesia 8 kali lebih cepat habis dari dua negara tersebut.
Dalam dunia industri khususnya pada industri petrokimia, nafta digunakan sebagai bahan baku produksi. Dalam industri, nafta merupakan bahan baku untuk industri petrokimia seperti sebagai olefin dimana olefin yang umum adalah etilena, propilena, dan butadiena. Proses untuk pembentukannya yaitu melalui proses cracking. Nafta juga dapat digunakan sebagai campuran untuk pembuatan pertalite. Pertalite merupakan campuran dari nafta dan High Octane Mogas Component. Nafta termasuk bahan baku yang relatif mahal dibandingkan bahan baku produksi lainnya seperti kondensat, gas alam, batu bara, dan etana. Permasalahan yang dihadapi pada umumnya yakni masih tingginya jumlah pengotor yang terkandung pada minyak bumi.
Permasalahan lain yang dihadapi saat ini adalah masih adanya impor bahan baku industri petrokimia dengan harga pembelian yang tinggi khususnya untuk nafta. Dari data BPS pada periode 2012-2018 menunjukkan bahwa Indonesia masih mempunyai ketergantungan impor bahan baku produksi untuk industri petrokimia. Oleh karena itu, dalam rangka memenuhi kebutuhan negara akan bahan bakar minyak dan bahan baku produksi untuk industri-industri petrokimia, maka perlu didirikan pabrik pengolahan (hydrotreating) nafta. Hydrotreating naphtha adalah proses pengolahan heavy naphtha yang mempunyai kandungan sulfur yang cukup tinggi menjadi nafta dengan kandungan sulfur yang lebih rendah. Naphtha Hydrotreating Unit ini memiliki kapasitas sebesar 7930.18 ton/hari dari Kuwait Crude Oil. Pabrik ini menggunakan recycle hydrogen karena untuk mengefisienskan gas hydrogen yang digunakan dan juga sebagai pengaontrol kondisi operasi pada desulfurization reactor. Selain itu katalis yang digunakan dalam Pabrik Naphtha Hydrotreating ini yaitu katalis NiMo Karena costnya yang murah, tatepi kionerjanya sama dengan katalis CoMo. Pabrik Naphtha Hydrotreating ini akan dibangun di Jenu, Tuban, Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada bahan baku da fasilitas yang ada, adanya MoU antara Pertamina dan Pemerintah Jawa Timur, lahan yang luas, dibutuhkan tenaga kerja yang banyak dalam menjalankan pabrik, Demand yang tinggi di Jawa Timur, segi transportasi dan pendistribusian yang relatif mudah.
Naphtha Hydrotreating Unit terbagi menjadi 3 unit yaitu :
1. Feed Section
2. Reaction section ( Hydrotreating Unit)
3. Stripping section (Treated Naphtha Stabilizer Unit).
Sumber dana dalam pendirian pabrik ini berasal dari modal sendiri sebesar 40% biaya investasi dan pinjaman jangka pendek sebesar 60% biaya investasi. Dari analisa ekonomi didapatkan data sebagai berikut :
Investasi : Rp. 19,332,634,644,207 Return of Investment : 26.53%
Pay Out Time (POT) : 4.8 tahun
Break Even Point : 32.39%
Dari Parameter diatas maka dapat disimpulkan bahwa pabrik Naphtha Hydrotreating Unit ini layak untuk didirikan.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Oil Refinary, Naphtha, Hydrotreating, Light End. |
| Subjects: | T Technology > TP Chemical technology T Technology > TP Chemical technology > TP692.5 Oil and gasoline handling and storage |
| Divisions: | Faculty of Industrial Technology > Chemical Engineering > 24201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Mr. M Fariz Yasmin |
| Date Deposited: | 22 Jul 2026 01:17 |
| Last Modified: | 22 Jul 2026 01:17 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/67026 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
