Azwar, Farys Adiya and Jatmiko, Masaji Suryo (2019) Tugas Desain Pabrik Kimia Pengolahan Minyak Bumi : Unit Fluid Catalytic Cracking dan Light Gas Oil Desulphurisation. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
02211540000138_02211540000147-Undergraduate _Thesis.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Kebutuhan energi semakin hari semakin meningkat,sehingga mendorong meningkatnya penggunaan energi yang semakin pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Namun akses ke energi yang andal dan terjangkau masih belum tercapai secara maksimal. Kebutuhan energi nasional sebagian besar berasal dari energi komersial (minyak bumi, gas bumi dan batubara) dan sisanya dari biomasa yang digunakan secara tradisional. Menurut kebijakan dewan energi, pada tahun 2002 cadangan minyak yang ada sekitar 500 jura barrel yang akan habis dalam 10 tahun, sedangkan untuk batubara sekitar 5 milyar ton akan habis dalam 50 tahun. Kebutuhan energi nasional selama ini dipasok dari produksi dalam negeri dan impor. Laju konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebagai produk hasil olahan terus mengalami peningkatan. Sedangkan perkembangan produksi minyak bumi dari tahun 2005-2015 cenderung mengalami penurunan. Peningkatan konsumsi BBM di dalam negeri menyebabkan Indonesia peningkatan impor minyak bumi dan BBM. Dalam memenuhi kebutuhan BBM, pengolahan nafta dengan nilai oktan rendah ke tinggi diperlukan. Nafta dengan nilai oktan tinggi dapat diolah menjadi bahan bakar minyak. Oleh karena itu, membuat pabrik pengolahan minyak bumi semakin dibutuhkan. Kebutuhan produk bahan bakar minyak sekitar 49 juta barel per tahun atau 132 ribu barrel per hari belum terpenuhi. Karena kebutuhan bahan bakar minyak setiap tahunnya akan meningkat maka kapasitas pabrik dapat langsung ditentukan dari kekurangan suplai sebesar 132.000 barel atau disetarakan dengan 200 ribu barel per hari. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di daerah Tuban akan dibangun sebuah kilang. Hal ini sejalan dengan informasi bahwa PT. Pertamina melakukan eksplorasi untuk mendapatkan titik sumber minyak. Hingga saat ini, telah dilakukan Penandatanganan MoU tentang pemanfaatan Lahan Aset Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutananii Republik Indonesia antara PT. Pertamina dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Tuban telah menyediakan lahan luas sekitar 389 Ha untuk pembangunan kilang minyak. Produk yang dihasilkan dari pabrik pengolahan minyak ini digunakan sebagai bahan bakar yang digunakan di berbagai sektor di Indonesia. Produk yang dihasilkan antara lain adalah bensin dengan RON 98 sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, Avtur sebagai bahan bakar pesawat dan jet, liquefied petroleum gas (LPG) sebagai bahan bakar untuk memasak atau yang lain, Industrial Diesel Oil (IDO) sebagai bahan bakar mesin-mesin di industri, Automotive Diesel Oil (ADO), dan Industrial Fuel Oil (IFO). Produk-produk tersebut dihasilkan dari beberapa unit pengolahan dan juga ada beberapa produk yang dihasilkan melalui campuran beberapa produk dari berbagai unit. Pabrik pengolahan minyak bumi ini terbagi atas 8 unit pengolahan, antara lain Crude Distillation Unit, Vaccuum Distillation Unit, LPG Recovery, Catalytic Reforming Unit, Light Gas Oil Hydrodesulphurization Unit, Heavy Gas Oil Hydrodesulphurization Unit, Naphtha Hydrodesulphurization Unit dan Fluid Catalytic Cracking Unit. Untuk neraca panas dan neraca energi pada laporan ini merupakan neraca panas dan neraca energi Fluid Catalytic Cracking Unit dan Light Gas Oil Desulphurization. Sedangkan pengerjaan analisis ekonomi merupakan pabrik pengolahan minyak bumi secara keseluruhan. Berdasarkan analisis ekonomi, laju pengembalian modal (IRR) pabrik ini sebesar 26,53% pada tingkat suku bunga pertahun 12% dan laju inflasi sebesar 3,35% per-tahun. Sedangkan untuk waktu pengembalian modal (POT) adalah 4,8 tahun dan titik impas (BEP) sebesar 32,39% melalui cara linear. Umur dari pabrik selama 10 tahun dan masa konstruksi selama 2 tahun. Untuk mengolah 200.000 barrel crude oil per-hari menjadi beberapa produk diperlukan biaya total produksi (TPC) sebesar Rp 17.813.127.278.201,7- dengan biaya investasi total Rp 19.332.634.644.207,-. Dengan memperhitungkan aspek penilaian analisa ekonomi dan teknisnya, maka Miniplant Oil Refinery ini layak untuk didirikan.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Additional Information: | RSK 660.2 Azw d-1 2019 |
| Uncontrolled Keywords: | Minyak Bumi, Hydrotreating, Fluid Catalytic Cracking |
| Subjects: | T Technology > TP Chemical technology T Technology > TP Chemical technology > TP343 Liquid and gaseous fuel |
| Divisions: | Faculty of Industrial Technology > Chemical Engineering > 24201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Farys Adiya Azwar |
| Date Deposited: | 21 Jul 2026 04:11 |
| Last Modified: | 21 Jul 2026 04:11 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/67048 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
