Agritecture : Desain Agropolis untuk Ketahanan Pangan Perkotaan

Putri, Diana Celia (2019) Agritecture : Desain Agropolis untuk Ketahanan Pangan Perkotaan. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[thumbnail of 08111540000083-Undergraduate_Theses.pdf]
Preview
Text
08111540000083-Undergraduate_Theses.pdf

Download (15MB) | Preview

Abstract

Pertumbuhan populasi dunia semakin meningkat. PBB memprediksi pada tahun 2050 populasi dunia mencapai 9,8 milyar jiwa. Sedangkan pada enam dari sebelas tahun kemarin, kita mengkonsumsi makanan lebih banyak dari yang kita produksi. Ini membuktikan bahwa jumlah makanan yang kita produksi dengan pertumbuhan penduduk yang ada tidak sebanding. Jika hal ini terus terjadi, maka dalam waktu dekat krisis pangan sudah tidak dapat dihindarkan. Untuk menanggapi hal itu, diperlukan suatu stategi untuk mengantisipasinya. Menurut BPS, di Indonesia, jumlah petani semakin menurun, dan efisiensi pertanian tidak setinggi negara-negara maju karena masih minimnya teknologi pertanian yang digunakan. Tingkat urbanisasi yang tinggi membuat dampak yang cukup signifikan. Salah satunya minat masyarakat untuk menjadi petani semakin menurun. Urban farming adalah salah satu solusi yang terbaik untuk meningkatkan produksi pangan suatu daerah. Selain meningkatnya produksi pangan, efisiensi juga semakin meningkat karena distribusi menjadi lebih dekat. Urban farming juga membuat persepsi orang berubah bahwa bertani bukan lagi sebagai karir orang desa, namun juga sebagai karir yang dapat dilakukan di perkotaan. Urban farming juga sudah dilakukan negara-negara maju untuk meningkatkan produktivitas pangan di kota-kota besar. Namun, pada umumnya mereka melakukannya didalam sebuah fasilitas khusus yang seperti gudang besar. Dimana tanaman-tanaman disana disusun tinggi hingga sampai ke atap dan memiliki rak-rak yang berjejer rapih dari ujung ke ujung. Masih sedikit sekali bangunan yang mengintegrasikan bangunan dengan urban farming sebagai sebuah satu kesatuan. Arsitektur ini diharapkan menjadi sebuah percontohan bagi masyarakat sekitar bahwa bertani tidak hanya pekerjaan orang desa saja sehingga stigma petani sebagai ‘pekerjaan orang desa dengan gaji yang minim’ dapat dihapus. Tidak kalah pentingnya fungsi fasilitas ini sebagai pertahanan garis depan ketika krisis pangan tersebut terjadi, sehingga masyarakat sekitar masih dapat bertahan sementara, hingga krisis tersebut mulai membaik. Objek yang akan saya usung adalah pasar yang berintegrasi dengan urban farming dan hunian dalam satu tempat. Disediakannya hunian bagi karyawan yang bekerja ditujukan untuk menyediakan hunian bagi banyaknya imigran petani dari desa yang tidak dapat hidup layak karena kurangnya kompetensi dibandingkan masyarakat perkotaan. Konsep yang saya ajukan sekaligus mempromosikan kegiatan bertani pada masyarakat kota. Pasar didekat fasiltas urban farming membuat masyarakat sekitar mempunyai akses makanan segar dan sehat disekitar mereka. Sehingga keuntungan dari fasilitas ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
================================================================================================================================
World population growth is increasing. The UN predicts that in 2050 the world population will reach 9.8 billion. Whereas in six of the past eleven years, we consumed more food than we produced. This proves that the amount of food we produce with population growth is not comparable. Urban farming is one of the best solutions for increasing food production in a region. In addition to increasing food production, efficiency is also increasing due to closer distribution. Urban farming also makes people's perceptions change that farming is no longer a career for villagers, but also as a career that can be done in urban areas. Urban farming has also been carried out by developed countries to increase food productivity in big cities. However, in general they do it in a special facility that is like a large warehouse. Where plants are arranged high up to the roof and have shelves lined up neatly from end to end. There are very few buildings that integrate buildings with urban farming as a whole. This architecture is expected to be a model for the surrounding community that farming is not just the work of the village people so that the stigma of the farmer as 'the work of the village with a minimum salary' can be removed. No less important is the function of this facility as a front line defense when the food crisis occurs, so that the surrounding community can still survive temporarily, until the crisis begins to improve. The object that I will stretch is a market that integrates with urban farming and housing in one place. Providing shelter for employees who work is intended to provide shelter for many immigrants from villages who cannot live properly due to lack of competence compared to urban communities. The concept that I proposed while promoting farming activities in the city community. The market near the urban farming facilities makes the surrounding community have access to fresh and healthy food around them. So that the benefits of this facility can benefit the surrounding community.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: Agropolis, Pangan, Pertanian
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Faculty of Architecture, Design, and Planning > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Putri Diana Celia
Date Deposited: 23 Jul 2026 08:37
Last Modified: 23 Jul 2026 08:37
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/68359

Actions (login required)

View Item View Item