Analisis Pemanfaatan Armada Kapal Penyeberangan Akibat Penetapan Batasan Operasi : Studi Kasus Lintas Merak - Bakauheni

Rachman, Faisal (2016) Analisis Pemanfaatan Armada Kapal Penyeberangan Akibat Penetapan Batasan Operasi : Studi Kasus Lintas Merak - Bakauheni. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img]
Preview
Text
4412100030-undergraduate theses.pdf - Accepted Version

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text
4412100030-paperpdf.pdf - Accepted Version

Download (820kB) | Preview
[img]
Preview
Text
4412100030-presentationpdf.pdf - Presentation

Download (1MB) | Preview

Abstract

Pada Peraturan Menteri No. 88 tahun 2014 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Merak-Bakauheni disebutkan bahwa kapal angkutan penyeberangan yang beroperasi pada lintas Merak – Bakauheni paling sedikit berukuran 5.000 GT. Oleh karena itu 29 dari 56 Kapal Motor Penumpang (KMP) yang beroperasi pada lintas Merak-Bakauheni tidak bisa beroperasi. Berkaitan dengan hal tersebut maka tindakan yang dapat dijadikan alternatif bagi para pemilik kapal baik ASDP maupun perusahaan swasta adalah kapal tetap dioperasikan atau kapal dijual. Ketika kapal tersebut dioperasikan kembali maka harus dipindah tugaskan ke rute lain atau dengan resize kapal agar dapat beroperasi kembali. Sedangkan ketika dipilih untuk dijual, maka kapal dapat dijual dengan harga di pasaran atau dengan cara dibesi tuakan. Hasil analisis yang telah dilakukan dengan membandingkan nilai keuntungan, didapatkan bahwa nilai tertinggi untuk kapal dengan ukuran 1000 GT dan 2000 GT adalah ketika kapal kembali dioperasikan di rute Ketapang-Gilimanuk yaitu dengan NPV sebesar 55 Miliyar rupiah dan 53 Miliyar rupiah ketika kapal dioperasikan selama 15 tahun. Untuk kapal dengan kapasitas 3000 GT dan 4000 GT memiliki nilai NPV yang tinggi ketika kapal dijual dengan harga pasar, yaitu sebesar 50 miliyar rupiah dan 55 miliyar rupiah. ========== In the Ministerial Regulation Number 88 of 2014 about size of ferry line on the Merak-Bakauheni mentioned that vessels that operate on the Merak-Bakauheni have measure at least 5,000 GT. Therefore 29 of 56 vessels cannot operate on Merak-Bakauheni. Because of it, the action that can be used as alternative for ship owners either ASDP or private companies are to keep operating their ship or sell it. When the vessel is operated again, so it must be transferred to another route or resizes the vessel so as to operate again. Meanwhile, when it is chosen to be sold, then the vessel can be sold at the market price or by scrap. The result of the analysis conducted by comparing the value of benefits, it is obtained that the highest benefit for ships with size 1000 GT and 2000 GT are when the ship operated again on the Ketapang-Gilimanuk route with NPV (Net Present Value) about 55 Billion rupiah and 53 Billion rupiah when it’s operated for fifteen years. For the vessel with capacity around 3000 GT and 4000 GT, the highest NPV (Net Present Value) is when it is sold by market price, it’s about 50 billion rupiah and 55 billion rupiah.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: RSTrL 387.52 Rac a 3100017068428
Uncontrolled Keywords: Ferry Ro-Ro, Peraturan Pemerintah No.88, Penyeberangan, Ministerial Regulation No.88, crossing
Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications > HE564.A1 Shipping
Divisions: Faculty of Marine Technology (MARTECH) > Sea Transportation Engineering > 21207-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: - Davi Wah
Date Deposited: 20 Nov 2019 05:11
Last Modified: 20 Nov 2019 05:11
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/71887

Actions (login required)

View Item View Item