Efektivitas Artificial Recharge Terhadap Fluktuasi Muka Air Tanah

Anisa, Nadia Nur (2019) Efektivitas Artificial Recharge Terhadap Fluktuasi Muka Air Tanah. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
03111750050007_Master Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only until 1 October 2023.

Download (4MB) | Request a copy

Abstract

Eksploitasi air tanah yang berlebihan merupakan salah satu dampak dari tingginya kebutuhan air bersih. Eksploitasi yang berlebihan ini dapat berdampak pada ketidakseimbangan pengambilan dan pemulihan air tanah dan mengakibatkan intrusi, amblesnya tanah hingga tercemarnya air tanah. Salah satu cara untuk mengatasi ketidakseimbangan ini adalah melalui pengisian air tanah. Pengisian air tanah merupakan proses pengisian akuifer yang dapat terjadi secara natural yaitu melalui gerakan air secara alami, maupun buatan dengan campur tangan manusia yang disengaja maupun tidak sengaja. Pengisian kembali secara alami terhambat dengan semakin sempitnya lahan peresapan sehingga pengisian air tanah buatan dapat dijadikan alternative dalam pengisian kembali. Ada beberapa metode pengisian akuifer buatan baik menggunakan permukaan atau bawah permukaan, tetapi belum ada studi sistematis yang membandingkan penggunaan metode Artificial Recharge berupa Percolation Ponds, sumur resapan dan shaft-pits. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan perbandingan dari beberapa metode pengisian air tanah buatan Percolation Ponds, sumur resapan dan shaft-pits sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan metode yang baik beserta kelebihan dan kekurangannya dibandingkan satu sama lain. Penelitian ini memodelkan dan mengevaluasi efektivitas pengisian air tanah metode Artificial Recharge subsurface berupa Percolation Ponds, sumur resapan dan shaft-pits dengan menggunakan alat Ground Flow Absttraction pada Laboratorium Hidrolika dan Pantai, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil Lingkungan dan Kebumian. Pelaksanaan masing masing metode menggunakan jenis tanah dan kondisi tanah yang sama, dan kondisi yang mempengaruhi yang sama. Variasi yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi kedalaman sebesar 5 cm, 10 cm dan 15 cm, dan variasi luas permukaan 300 cm², 600 cm², dan 900 cm², Penelitian ini diharapkan didapatkan perbandingan efektivitas masing masing metode. Keefektivan yang diamati adalah besaran peningkatan muka air tanah, dan waktu peningkatan muka air tanah pada masing masing metode. Berdasarkan perbandingan lebar pengaruh kenaikan muka air tanah, pada variasi kedalaman dengan kedalaman 5 cm, Percolation Pond dan Shaft Pit lebih lebar 426% dibandingkan dengan Recharge Well. Pada kedalaman 10 cm, Shaft Pit lebih lebar 11.7% dibandingkan dengan Percolation Pond dan 196% lebih lebar dibandingkan dengan Recharge Well. Pada kedadlaman 15 cm, Percolation Pond dan Shaft Pit lebih lebar 24% dibandingkan dengan Recharge Well. Berdasarkan perbandingan lebar pengaruh kenaikan muka air tanah, pada variasi luas permukaan, pada variasi kedalaman 300 cm², Recharge Well lebih lebar 35% dbanding Percolation Pond, dan 79% dibanding Shaft Pit. Pada variasi luas permukaan 600 cm², Percolation Pond dan recharge lebih lebar 20% dibanding Shaft Pit. Pada luas 900 cm², Recharge Well lebih efektif 24% dibanding Percolation Pond dan 11.2% dibanding Shaft Pit. Berdasarkan perbandingan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Effective Storage Capacity maksimal yang didefinisikan sebagai waktu recharge dengan variasi keadalaman, Artificial Recharge dengan kedalaman 5 cm, Shaft Pit menunjukkan waktu paling cepat, 52% lebih cepat dibandingkan dengan Percolation Pond dan 67% lebih cepat dibandingkan dengan Recharge Well. Pada kedalaman 10 cm, Shaft Pit menunjukkan waktu paling cepat, 47% lebih cepat dibandingkan dengan Percolation Pond dan 57% lebih cepat dibandingkan dengan Recharge Well. Pada kedalaman 15 cm, Shaft Pit menunjukkan waktu paling cepat, 33.3% lebih cepat dibandingkan dengan Percolation Pond dan 50% lebih cepat dibandingkan dengan Recharge Well. Berdasarkan perbandingan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Effective Storage Capacity maksimal yang didefinisikan sebagai waktu recharge dengan variasi luas permukaan, Artificial Recharge dengan kedalaman 300 cm², Shaft Pit menunjukkan waktu paling cepat, 35% lebih cepat dibandingkan dengan Percolation Pond dan 9% lebih cepat dibandingkan dengan Recharge Well. Pada kedalaman 600 cm², Percolation Pond menunjukkan waktu paling cepat, 35% lebih cepat dibandingkan dengan Recharge Well dan 28% lebih cepat dibandingkan dengan Shaft Pit. Pada kedalaman 900 cm², Percolation Pond menunjukkan waktu paling cepat, 5% lebih cepat dibandingkan dengan Percolation Pond dan 22% lebih cepat dibandingkan dengan Shaft Pit. Berdasarkan lebar pengaruh kenaikan muka air tanah dan waktu yang dibutuhkan hingga mencapai volume maksimal, didapatkan bahwa berdasarkan variasi kedalaman, Percolation Pond adalah metode artificial yang efektif, sedangkan pada variasi kedalaman, Shaft Pit adalah metode Artificial Recharge yang paling efektif. ================================================================================================ Excessive exploitation of ground water is one of the effects of the high demand for clean water. This over-exploitation can have an impact on the imbalance in the retrieval and recovery of ground water and result in intrusion, subsidence of the soil and contamination of groundwater. One way to overcome this imbalance is through filling groundwater. Groundwater recharge is a process of filling aquifers which can occur naturally, namely through natural water movement, as well as artificially by deliberate or accidental human intervention. Replenishment is naturally hampered by the narrowing of infiltration so that the filling of artificial groundwater can be used as an alternative in recharge. There are several methods of artificial aquifer recharge using either surface or subsurface, but there has been no systematic study comparing the use of Artificial Recharge methods in the form of Percolation Ponds, Recharge Well and shaft-pits. This research is expected to produce comparisons of several methods of filling groundwater made by Percolation Ponds, infiltration wells and shaft-pits so that it can be used as a reference in determining methods and their advantages and disadvantages compared to each other. This study modeled and evaluated the effectiveness of groundwater filling Artificial Recharge subsurface method in the form of Percolation Ponds, infiltration wells and shaft-pits using Ground Flow Absttraction at the Hydraulics and Coastal Laboratory, Civil Engineering Department, Faculty of Civil and Environmental Engineering. The implementation of each method uses the same type of soil and soil conditions, and conditions that affect the same. Variations used in this study are depth variations of 5 cm, 10 cm and 15 cm, and variations in surface area of 300 cm², 600 cm², and 900 cm², This study is expected to obtain a comparison of the effectiveness of each method. The effectiveness observed was the magnitude of the increase in groundwater level, and the time of increase in the groundwater level in each method. Based on the width ratio of the effect of groundwater rise, in depth variations with a depth of 5 cm, Percolation Ponds and pit shafts are 426% wider than Recharge Wells. At a depth of 10 cm, the pit shaft is 11.7% wider than Percolation Pond and 196% wider than Recharge Well. At 15 cm in drought, Percolation Ponds and pit shafts are 24% wider than Recharge Wells. Based on the width ratio of the influence of groundwater rise, on variations in surface area, at a variation of 300 cm² depth, Recharge Well is 35% wider than Percolation Pond, and 79% compared to pit shaft. In a variation of the surface area of 600 cm², Percolation Ponds and recharge are 20% wider than pit shafts. At 900 cm², Recharge Well is 24% more effective than Percolation Pond and 11.2% compared to pit shafts. Based on the comparison of the time needed to achieve the maximum Effective Storage Capacity defined as recharge time with depth variations, Artificial Recharge with a depth of 5 cm, Shaft Pit shows the fastest time, 52% faster than Percolation Pond and 67% faster than Recharge Well At a depth of 10 cm, the Shaft Pit shows the fastest time, 47% faster than Percolation Pond and 57% faster than Recharge Well. At a depth of 15 cm, the Shaft Pit shows the fastest time, 33.3% faster than Percolation Pond and 50% faster than Recharge Well. Based on the comparison of the time needed to achieve the maximum Effective Storage Capacity defined as recharge time with variations in surface area, Artificial Recharge with a depth of 300 cm², Shaft Pit shows the fastest time, 35% faster than Percolation Pond and 9% faster than Recharge Well. At a depth of 600 cm², Percolation Pond shows the fastest time, 35% faster than Recharge Well and 28% faster than pit pits. At a depth of 900 cm², Percolation Pond shows the fastest time, 5% faster than Percolation Pond and 22% faster than pit shafts. Based on the width of the influence of groundwater rise and the time needed to reach the maximum volume, it was found that based on depth variations, Percolation Pond is an effective artificial method, while in depth variation, Shaft Pit is the most effective Artificial Recharge method.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: RTS 553.79 Ani e-1 2019
Uncontrolled Keywords: Artificial Recharge, Air Tanah
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GB Physical geography > GB1003.2 Groundwater.
T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering > TD418 Water harvesting
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Civil Engineering > 22101-(S2) Master Thesis
Depositing User: Nadia Nur Anisa
Date Deposited: 28 Sep 2021 09:26
Last Modified: 28 Sep 2021 09:26
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/60592

Actions (login required)

View Item View Item