Studi Hubungan Balok Kolom dengan Peraturan SNI 2847:2013, ACI 318M:14, NZS 3101.1:2006 dan EN 1992:2004 terhadap Beban Gempa pada Struktur Gedung The Arundaya

Tjitro, Hadiyoga (2019) Studi Hubungan Balok Kolom dengan Peraturan SNI 2847:2013, ACI 318M:14, NZS 3101.1:2006 dan EN 1992:2004 terhadap Beban Gempa pada Struktur Gedung The Arundaya. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img]
Preview
Text
03111540000061-Undergraduate_Theses.pdf

Download (7MB) | Preview

Abstract

Semakin banyak populasi manusia di Indonesia, secara langsung akan menimbulkan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas umum. Oleh karena itu, lahan yang cukup luas juga dibutuhkan untuk memenuhi permintaan tersebut. Akan tetapi, lahan kosong sudah sangat terbatas, karena pembangunan yang semakin pesat, sehingga pembangunan gedung bertingkat dipilih sebagai solusi. Pembangunan gedung bertingkat saat ini sebagian besar menggunakan struktur beton bertulang. Struktur ini meliputi struktur plat, struktur balok dan struktur kolom. Antara struktur balok dan struktur kolom memiliki pertemuan sambungan di antara keduanya.Pada suatu struktur rangka beton bertulang, daerah sambungan balok kolom merupakan daerah kritis yang harus didesain secara khusus untuk berdeformasi inelastik pada saat terjadinya gempa. Akibat yang timbul dari momen kolom di atas dan di bawahnya, serta momen-momen dari balok pada saat memikul beban gempa, daerah sambungan balok kolom akan mengalami gaya geser horizontal dan vertikal yang besar. Gaya geser ini akan timbul pada balok dan kolom yang terhubung, akibatnya apabila daerah sambungan balok kolom tidak direncanakan dengan benar, akan menimbulkan keruntuhan geser yang bersifat getas dan membahayakan pengguna bangunan. Perencanaan sambungan balok kolom ini harus memperhatikan peraturan gempa yang ada, karena sambungan balok dan kolom merupakan daerah interaksi tegangan yang sangat tinggi akibat gaya gempa. Untuk mendapatkan desain suatu struktur bangunan yang aman serta tahan terhadap gempa bumi, maka struktur juga harus direncanakan sedemikian rupa mematuhi aturan konstruksi yang sudah ada. Karena peraturan konstruksi di suatu negara memiliki kelebihan yang berbeda-beda dan dirancang menurut kebutuhan negara itu sendiri, maka penulis akan menganalisa peraturan sambungan balok kolom dari Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung SNI 2847:2013 yang mengadopsi peraturan ACI 318M-11, American Concrete Institute (ACI 318M-14), Standards New Zealand (NZS 3101.1:2006), dan Eurocode (EN 1992:2004). Dari hasil analisa yang dilakukan, didapatkan nilai pada Eurocode lebih tinggi dalam hal sambungan penulangan geser sedangkan untuk gaya geser nominal paling besar adalah peraturan New Zealand. ================================================================================================ More and more human populations growth in Indonesia, will directly cause community needs against public facilities. Therefore, sufficient land is also needed to fulfill those demand. However, vacant land has been very limited because of the development is getting bigger day by day, so the construction of multi-storey buildings were chosen as a solution. The construction of a multi storey building these day, mostly used reinforced concrete. This structure cover plate, beam, and column structure. Between the structure of the beam structure and column, has a joint in these elements. On a reinforced concrete frame structure, area of beam-column joint is a critical area that must be specifically designed for inelastic deformation at the time of the earthquake occurs (Setiawan, 2012). The consequences that come up from column moments above and below also the moments of the beam when carrying earthquake loads, area of beam-column joint will have a bigger horizontal shear force and vertical shear force. This shear force will appear in the beam and column that connected each other, as a result if the area of joint are not planned properly, will cause shear failure which is brittle and endanger the building user. This beam-column joint should follow to the existing earthquake regulations, because of beam-column joint are very x high interaction area due to earthquake forces (Ristanto, 2016). To get the design of a building structure that is safe and resistant to the earthquake, then the structure must also be planned to comply with existing construction rules. Because the regulations in several country have different advantages and designed according to the needs of the country itself, therefore, the author will analyze beam-column joint from Requirements for Structural Concrete Building SNI 2847:2013 adopted from ACI 318M-11, American Concrete Institute (ACI 318M-14), Standards New Zealand (NZS 3101.1:2006), dan Eurocode (EN 1992:2004). From the results of the analysis, expected later obtained a conclusions and effectiveness for joint design that resistant to earthquake forces, so that, will get a better design resistant to the earthquake forces.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: RSS 624.183 41 Tji s-1 2019
Uncontrolled Keywords: Sambungan Balok Kolom, Geser, Balok, Kolom, Gempa, Desain.
Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA444 Reinforced concrete
T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA645 Structural analysis (Engineering)
T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA658 Structural design
T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA681 Concrete construction
Divisions: Faculty of Civil, Environmental, and Geo Engineering > Civil Engineering > 22201-(S1) Undergraduate Theses
Depositing User: Hadiyoga .
Date Deposited: 19 Jul 2021 05:34
Last Modified: 19 Jul 2021 05:34
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/61013

Actions (login required)

View Item View Item