Perbandingan Pondasi Bangunan Bertingkat untuk Pondasi Dangkal Dengan Perbaikan Tanah dan Pondasi Dalam Tanpa Perbaikan Tanah pada Tanah yang Berpotensi Terjadi Likuifaksi di Kabupaten Cilacap

Gumelar, Dwindu Agung (2019) Perbandingan Pondasi Bangunan Bertingkat untuk Pondasi Dangkal Dengan Perbaikan Tanah dan Pondasi Dalam Tanpa Perbaikan Tanah pada Tanah yang Berpotensi Terjadi Likuifaksi di Kabupaten Cilacap. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
03111540000055-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only until 1 October 2023.

Download (13MB) | Request a copy

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kejadian gempa yang cukup tinggi. Kejadian ini menimbukan bahaya utama yakni ground shaking dan surface rupture, sedangkan salah satu bahaya sekunder dari gempa bumi adalah fenomena likuifaksi. Fenomena likuifaksi merupakan fenomena ketika tanah kehilangan kekuatan dan kekakuannya akibat goyangan yang terjadi pada saat kejadian gempa bumi. Likuifaksi hanya terjadi pada jenis tanah pasir lepas yang jenuh atau tersaturasi (Seed & Idriss, 1982). Pada umumnya, perencanaan pondasi untuk bangunan satu hingga dua lantai khususnya sudah menggunakan pondasi dangkal akan tetapi perencanaan bangunan untuk tiga hingga enam lantai pada umumnya masih menggunakan pondasi dalam. Maka dari itu, jika perencanaan pondasi bangunan ini dapat direncanakan menggunakan pondasi dangkal, diharapkan akan dapat menekan biaya material pondasi. Namun pondasi dangkal tidak bisa digunakan begitu saja karena akan terjadi likuifaksi pada saat gempa terjadi, sehingga diperlukan metode perbaikan tanah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sebelum pondasi dangkal dan bangunan tersebut dibangun. Salah satu metode perbaikan tanah tersebut adalah dynamic compaction. Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah merupakan daerah gempa dengan PGA sebesar 0.456 g (sumber: puskim.pu.go.id). Analisa tanah pada daerah Cilacap telah dilakukan pada tahun 2017, adapun hasil penyelidikan tanah yang ada diperoleh jenis tanah dominan loose to medium sand sedalam +20 meter (sumber: hasil laboratorium mekanika tanah ITS). Berdasarkan kondisi tersebut, maka daerah kabupaten Cilacap memiliki potensi untuk terjadi likuifaksi. Tugas Akhir ini membahas perhitungan potensi lapisan tanah yang berpotensi likuifaksi, menentukan spesifikasi dynamic compaction yang efektif, serta perbandingan harga material antara penggunaan pondasi dangkal dan pondasi dalam untuk masing-masing ketinggian bangunan dari tiga, empat, lima, hingga enam lantai. Dari hasil perencanaan, diketahui bahwa lapisan tanah yang berpotensi likuifaksi sedalam 19 meter, kemudian spesifikasi dynamic compaction yang diperlukan yaitu berat pounder 75 ton, tinggi jatuh pounder 20 meter, diameter pounder 5 meter, 9 pukulan per titik, dan grid spacing sebesar 7.5 meter. Diketahui pula parameter tanah dasar setelah diperbaiki dengan perhitungan secara empiris, yang awalnya harga N-SPT rata-rata di permukaan tanah sebesar 11,67 meningkat menjadi 15,71. Alternatif pondasi dangkal dengan perbaikan tanah menunjukkan biaya material (tanpa biaya alat berat) yang lebih murah dibanding dengan alternatif pondasi dalam tanpa perbaikan tanah untuk setiap ketinggian bangunan 3 lantai hingga 6 lantai. Sebagai contoh perencanaan pondasi dalam untuk bangunan berlantai tiga membutuhkan biaya Rp 8.909.752.147, sedangkan perencanaan pondasi dangkal pada bangunan yang sama hanya membutuhkan sebesar Rp 1.898.999.498. ================================================================================================ Indonesia is a country with a fairly high earthquake rate. This event poses a major danger, namely ground shaking and surface rupture, while one of the secondary hazards of earthquakes is the phenomenon of liquefaction. The phenomenon of liquefaction is a phenomenon when the soil loses its strength and stiffness due to the shake that occurs during an earthquake. Liquidation only occurs in saturated types of loose sand (Seed & Idriss, 1982). In general, the planning of foundations for buildings from one to two story in particular has used shallow foundations, but the planning of buildings for three to six story generally still uses deep foundations. Therefore, if the planning of this building foundation can be planned using a shallow foundation, it is expected to be able to reduce the cost of foundation material. However, the shallow foundation cannot simply be used because liquefaction will happen when the earthquake occurs, so a method of soil improvement is needed to solve the problem before the shallow foundation and the building is built. Dynamic compaction is one example method of ground improvement. Cilacap, Central Java is an earthquake area with PGA of 0.456 g (source: puskim.pu.go.id). Analysis of the soil in the Cilacap area has been carried out in 2017, as for the results of the investigation of the land obtained from the +20 meter deep loose to medium sand type (source: ITS soil mechanics laboratory results). Based on these conditions, Cilacap has the potential for liquefaction. This Final Project discusses the calculation of potential liquefaction potential, determines effective dynamic compaction specifications, and comparisons of material prices between the use of shallow foundations and deep foundations for each building height of three, four, five, up to six floors. From the planning results, it is known that the potential for liquefaction layer is as deep as 19 meters, then the dynamic compaction specifications required are 75 tons pounder weight, 20 meter high pounder fall, 5 meter pounder diameter, 9 blows per point, and 7.5 meter in grid spacing. Also known is the subgrade parameters after being calculated with empirical calculations, which initially N-SPT value on the ground at an average of 11.67 increased to 15.71. The price of shallow foundation with ground improvement material (the price of heavy equipment not included) also shows a cheaper price compared to the deep foundation without ground improvement for each height of the building from three-story up to six-story. For example, planning a deep foundation for a three-story building requires a cost of Rp 8,909,752,147, while the planning of a shallow foundation in the same building only requires Rp 1,898,999,498.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: RSS 624.14 Gum p-1 2019
Uncontrolled Keywords: Likuifaksi, Dynamic Compaction, Pondasi Dangkal, Pondasi Dalam, Perbandingan Harga Material, Liquefaction, Shallow Foundation, Deep Foundation, Comparisons of Material Prices
Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA749 Soil stabilization
T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA775 Foundations.
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Civil Engineering > 22201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Dwindu Agung Gumelar
Date Deposited: 30 Sep 2021 19:18
Last Modified: 30 Sep 2021 19:18
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/61203

Actions (login required)

View Item View Item