Model Laboratorium Untuk Menentukan Zona Efektif Pada Tanah Gambut Berserat Yang Distabilisasi Dengan Campuran Kapur Dan Abu Terbang

Yulianto, Faisal Estu (2016) Model Laboratorium Untuk Menentukan Zona Efektif Pada Tanah Gambut Berserat Yang Distabilisasi Dengan Campuran Kapur Dan Abu Terbang. Doctoral thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

[img]
Preview
Text
3111301002-Dissertation.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview

Abstract

Tanah gambut merupakan tanah organik dengan daya dukung rendah dan pemampatannya yang besar. Oleh sebab itu, perbaikan tanah perlu dilakukan agar tanah gambut mampu mendukung beban yang bekerja diatasnya. Beberapa metode perbaikan tanah telah banyak diterapkan pada tanah gambut namun metode perbaikan tersebut (pre loading, pengelupasan tanah, ceruk kayu dan corduroy) memungkinkan terjadinya kerusakan lingkungan akibat kebutuhan material alam yang sangat besar dan mempunyai biaya konstruksi yang lebih mahal sehingga metode stabilisasi tanah terus dikembangkan. Hanya saja, pengembangan metode stabilisasi yang selama ini dilakukan selalu mengabaikan pengaruh filtrasi air dari sekitar zona yang distabilisasi. Untuk itu sangat diperlukan penelitian lanjutan guna mempelajari bagaimana pengaruh filtrasi air dari sekitar terhadap perilaku tanah gambut yang telah distabilisasi dan berapa lebar tanah gambut berserat yang harus distabilisasi agar pengaruh filtrasi air dari sekitar di area yang akan dibangun konstruksi diatasnya paling minimum (selanjutnya disebut sebagai zona efektif). Penelitian ini dilaksanakan dalan dua tahap yaitu, tahap pertama merupakan pemodelan fisik laboratorium dengan mengimitasi kondisi riil dilapangan dengan skala pemodelan 1:1000 dengan tebal lapisan yang distabilisasi keseluruhan. Tanah gambut berserat Palangkaraya distabilisasi dengan 10% dan 15% admixture yang merupakan campuran dari 30% kapur dan 70% abu terbang. Gambut yang distabilisasi kemudian diletakkan ditengah gambut asli (gambut yang tidak distabilisasi) yang kadar airnya dijaga konstan dengan tujuan membiarkan air dari tanah gambut asli untuk mengalir masuk kedalam zona gambut yang distabilisasi. Kondisi tersebut dibiarkan selama 30, 60, 90, 120, 150 dan 180 hari dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh usia stabilisasi dan aliran air dari gambut asli disekitar terhadap sifat fisik dan teknik gambut yang distabilisasi. Tahap kedua adalah prediksi numerik dengan pemodelan matematika dan interpolasi Lagrange dengan menggunakan data pada penelitian tahap satu untuk menentukan lebar area stabilisasi optimum. Pemodelan matematikan dilakukan berdasarkan perilaku pertumbuhan kristal akibat pengaruh aliran air dalam media berpori. Out put numerik yang dihasilkan berupa parameter tanah gambut yang distabilisasi yang dipengaruhi oleh usia stabilisasi dan lebar area stabilisasi yang dilakukan sedangkan interpolasi Lagrange digunakan untuk mengetahui pengaruh lebar area stabilisasi berdasarkan seluruh data pemodelan fisik pada penelitian tahap satu. Hasil uji pemodelan fisik laboratorium menunjukkan tanah gambut yang distabilisasi dengan 15% admixture menunjukkan perubahan parameter fisik dan teknis yang paling baik karena filtrasi air sudah minimum. Selain itu, jumlah admixture yang ditambahkan dan usia stabilisasi sangat berpengaruh pada perubahan parameter tanah gambut yang distabilisasi. Hasil validasi dengan komputasi numerik tren perilaku yang sama dengan perilaku data hasil uji laboratorium. Berdasarkan pemodelan dan prediksi numerik yang dilakukan diketahui bahwa zona efektif stabilisasi tanah gambut adalah 70 cm untuk seluruh tebal lapisan yang distabilisasi. Hal ini diketahui dari sifat fisik dan teknis pada lebar stabilisasi 70 cm merupakan nilai yang paling optimum diantara lebar stabilisasi lainnya ============================================================================================= Peat soil is organic soils with low bearing capacity and high compressibility. Therefore, soil improvement must done so that peat soils capable to support the load. Several methods of soil improvement has been implemented on peat soil but improvement methods such as pre-loading, replacement method, mini wood pile and corduroy can environmental damage due to the material needs are very large and has a construction cost more expensive so the stabilization method developed continuously. However, the development of stabilization methods has been done always ignore the influence of the water infiltration around the zone stabilized. Therefore, it is necessary further research in order to learn how influence of water infiltration from surrounding area to the behavior of stabilized peat and how wide peat fiber that must be stabilized in order to influence water infiltration from the surrounding area are minimum (hereinafter referred to as the zone effective). The research was conducted in two step, the first step is a physical modeling of laboratory by imitating the real conditions in the field with scale 1:1000 and stabilized all of peat layer thickness. Palangkaraya fibrous peat stabilized with 10% and 15% admixture with composition 30% lime and 70% fly ash. Peat stabilized then placed between original peat and the water content kept constant with the aim of letting water flow from original peat soil into peat stabilized. The condition was left for 10, 30, 60, 90, 120, 150 and 180 days in order to determine the effect of curing periods and water flow from original peat around for physical and engineering stabilized peat. The second stage is the numerical prediction with mathematical modeling and Lagrange interpolation using the data at first stage to determine optimum of stabilization area. Mathematic modeling construct based on the behavior of the crystals growth under the influence of water flow in porous media. Numerical output produced are parameters of stabilized peat soil that are influenced by curing periods and wide-area stabilization conducted. Physical modeling laboratory test results show that peat soil stabilized with 15% admixture indicates changes in the physical and engineering parameters of the best value because the water has a minimum effect. Amount of admixture and using periods have great affect for parameter of peat soil stabilized. Validation results with numerical computing trend similar behavior with the behavior of laboratory test result data. Based on numerical modeling and predictions made known that peat soil stabilization effective zone is 70 cm for full layer stabilized. It is known from the physical and technical characteristics on stabilization width 70 cm is the most optimum value of the width of stabilization among others.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Additional Information: RDS 631.826 Yul m
Uncontrolled Keywords: Stabilisasi, gambut berserat, abu terbang, CaCO3, Numerik, Zona Efektif.
Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General) > TA749 Soil stabilization
Divisions: Faculty of Civil Engineering and Planning > Civil Engineering > 22001-(S3) PhD Thesis
Depositing User: EKO BUDI RAHARJO
Date Deposited: 04 May 2020 05:15
Last Modified: 04 May 2020 05:15
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/75938

Actions (login required)

View Item View Item