Peningkatan Atenuasi Penghalang Bising Dalam Mengendalikan Kebisingan Akibat Lalu Lintas Di Sekolah Dasar Negeri Siwalankerto I Surabaya Menggunakan Metode Simulasi 2 Dimensi

Ariyadi, Reva Girindra (2016) Peningkatan Atenuasi Penghalang Bising Dalam Mengendalikan Kebisingan Akibat Lalu Lintas Di Sekolah Dasar Negeri Siwalankerto I Surabaya Menggunakan Metode Simulasi 2 Dimensi. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

[img]
Preview
Text
2412100021-Undergraduate_Thesis.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview

Abstract

Sekolah di daerah perkotaan menjadi lingkungan yang rawan terhadap polusi kebisingan, terutama bagi anak-anak. Kebisingan pada umumnya diatasi dengan merancang semacam tembok sebagai penghalang bising (noise barrier). Perancangan penghalang bising umumnya menggunakan perhitungan Maekawa yang dapat menentukan ketinggian barrier untuk mereduksi sejumlah kebisingan yang diperlukan. Namun, kasus ini menjadi semakin rumit di wilayah perkotaan padat penduduk, dimana lahan yang tersedia sangat terbatas dan tembok penghalang akan mendominansi pandangan. Untuk merancang sebuah noise barrier dengan situasi yang kompleks seperti itu, diperlukan metode lain yang dapat memberikan kebebasan ketika melakukan perancangan, sehingga tidak terbatasi oleh penentuan ketinggian barrier saja. Metode perancangan lain yang digunakan pada penelitian ini adalah melalui simulasi 2 dimensi (2D). Kasus kebisingan diambil di wilayah Jalan Ahmad Yani Kota Surabaya, tepatnya di Sekolah Dasar Negeri Siwalankerto I. Sekolah berlantai 2 ini berada tepat di depan jalan raya dengan jarak kurang dari 10 meter. Hasil pengukuran menunjukkan tingkat kebisingan siang-malam (Lsm) yang tinggi di dalam kelas lantai bawah sebesar 68,09 dBA dan lantai atas sebesar 68,62 dBA. Kedua nilai tersebut tidak memenuhi standar baku kebisingan sebesar 55 dBA sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.48/MENLH/11/1996. Dengan Metode Maekawa, diperoleh desain penghalang bising setinggi 2,2 meter dengan nilai total atenuasi penghalang rata-rata sebesar 18 dB pada frekuensi 1000 Hz. Nilai atenuasi sebesar itu cukup untuk menekan kebisingan di dalam kelas hingga 50,49 dBA untuk lantai bawah dan 49,98 dBA untuk lantai atas. Metode yang digunakan selanjutnya adalah simulasi 2 dimensi, yang mana diharapkan dapat membuktikan adanya peningkatan atenuasi penghalang dengan penambahan/modifikasi geometri pada desain. Modifikasi yang dilakukan berupa tembok penghalang depan dengan ketinggian yang lebih rendah setinggi 1,8 meter dan penambahan screen pada bagian fasad bangunan. Hasil modifikasi terbaik dapat mencapai nilai atenuasi penghalang hingga 10,28 dB. Hasil simulasi 2D menunjukkan bahwa penambahan screen pada fasad dapat meningkatkan atenuasi penghalang hingga 2,81 dB. Penggunaan geometri shelter juga terbukti memberikan atenuasi penghalang yang lebih besar daripada penghalang biasa dengan nilai atenuasi hingga 9,98 dB. Metode simulasi 2D terbukti dapat memberikan kebebasan dalam perancangan noise barrier dan memperkirakan jumlah reduksi kebisingan yang diperlukan ================================================================================================== Traffic noise is one of the biggest pollution in urban city. This kind of pollution can be harmful to health and bring out serious psychological disorders. Urban schools are vulnerable victims to this kind of pollution, especially for children as the occupant. Traffic noise can be a serious problem for them, disturbing their development periods in school. Reducing traffic noise commonly done by building a noise barrier, a kind of wall to block the noise from the outside. Designing a noise barrier usually calculated using the Maekawa method, that can determine the height of barrier we need to reduce the amount of noise required. But, in urban city, this case is getting harder because of the limited available space, so that the noise barrier will visually dominate. To design a barrier in such complex situation, we need a method that can free us when designing and not limited only in determining the height of barrier. The method is by designing a noise barrier in 2 Dimension (2D) Simulation. With this method, we can design every possibility to reduce noise that we need. The study case taken at Jalan Ahmad Yani Surabaya, precisely at SDN Siwalankerto I School. This school located right in front of the main street with less than 10 meter in distance. The noise measurement shows that the day-night loudness (LDN) in the classroom is 68,4 dBA. That loudness value didn’t meet the 55 dBA requirement from the government’s environmental standard. The Maekawa’s design with 2,2 meters barrier height resulting 18 dB attenuation at 1000 Hz. That result enough to press down the noise in the classroom up to 50,49 dBA for the first floor and 49,98 dBA for the second floor. The modified design from the 2D simulation method is a front barrier with height of 1,8 m with addition of face screens. The best design resulting total barrier attenuation up to 10,28 dB. The 2D simulation also shows that face screens increases the attenuation of barrier design up to 2,81 dB. The shelter design also resulting a better attenuation up to 9,98 dB, bigger than a usual barrier design. The 2D simulation method proved to give freedom in designing noise barrier and estimating the barrier attenuation result.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: RSF 620.23 Ari p
Uncontrolled Keywords: kebisingan lalu lintas, peningkatan atenuasi penghalang, simulasi 2D penghalang bising, COMSOL Multiphysics 4.4.
Subjects: T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering > TD892 Noise control
Divisions: Faculty of Industrial Technology > Physics Engineering > 30201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: EKO BUDI RAHARJO
Date Deposited: 14 May 2020 02:11
Last Modified: 14 May 2020 02:13
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/75978

Actions (login required)

View Item View Item