Analisis Bentuk Dan Tepi Sungai Dari West Pillar Di Pulau Sebatik Sampai Dengan Pilar AA2 Dan Pengaruhnya Untuk Penentuan Batas Negara Indonesia-Malaysia

Jati, Ardiawan (2020) Analisis Bentuk Dan Tepi Sungai Dari West Pillar Di Pulau Sebatik Sampai Dengan Pilar AA2 Dan Pengaruhnya Untuk Penentuan Batas Negara Indonesia-Malaysia. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
03311850010010-Master_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (6MB) | Request a copy

Abstract

Satu-satunya segmen batas darat Indonesia-Malaysia yang merupakan sungai dan perairan adalah dari ujung barat (West Pillar) Pulau Sebatik sampai dengan pilar AA2. Segmen batas wilayah tersebut tertuang dalam Perjanjian Belanda-Inggris tahun 1915, yang mana melibatkan bentuk dan tepi sungai dalam mengkontruksi garis batas. Padahal belum ada jaminan tepi sungai saat ini sama dengan tepi sungai saat perjanjian tersebut disepakati. Data spasial berupa peta dasar, peta laut, citra satelit dan Peta Lampiran Perjanjian Belanda-Inggris tahun 1915 digunakan untuk mengamati kondisi bentuk dan tepi sungai. Tepi sungai pada citra satelit landsat multi-temporal diinterpretasi secara visual dan didigitasi manual. Pengamatan dari tahun 1989 sampai tahun 2019 mengidentifikasi posisi tepi sungai yang berbeda tahun 1989, 1999, 2009 dan 2019. Perbedaan posisi tepi sungai mengindikasikan pergeseran tepi sungai. Pergeseran rata-rata tepi sungai baik di sisi kanan (Indonesia) maupun sisi kiri (Malaysia) masing-masing sebesar 13,6 m dan 10,8 m pada Sungai Sikapal serta pergeseran rata-rata di sisi kanan 9,1 m dan di sisi kiri 19,8 m pada Sungai Tamboe. Pergeseran tepi sungai maksimum terjadi pada lekukan sungai yaitu sejauh 37,8 m. Pergeseran tersebut disebabkan erosi. Pergeseran tepi Sungai Sikapal dan Sungai Tamboe tergolong kecil bila dibandingkan penelitian sebelumnya oleh Dabojani (2013) dengan pergeseran maksimum 0,7 m per tahun. Hal ini karena di sekitar tepi Sungai Sikapal dan Sungai Tamboe banyak ditumbuhi oleh tanaman bakau yang dapat menahan laju erosi. Perubahan Tepi Sungai Tamboe dan Sungai Sikapal berpengaruh terhadap garis Batas Negara Indonesia-Malaysia yang didelimitasi pada tahun 1989, 1999, 2009 dan 2019 dengan metode three stage approach. Hal ini terbukti dari panjang dan jumlah turning point pada tahun-tahun tersebut berbeda. Perbedaan garis batas mengakibatkan perbedaan luas wilayah sungai yang terbentuk untuk Indonesia dan Malaysia masing-masing bertambah 13,4 ha dan 14,3 ha. ========================================================= The only Indonesia-Malaysia land boundary segment which is a river is from West Pillar in Sebatik Island to the AA2 pillar. The boundary segment is contained in the 1915 Netherland-British Agreement, which involves river shape and river bank to construct border line. Even though there is no guarantee that River bank is same as River bank when the agreement was agreed. Spatial data in form of a Topography map, nautical chart, satellite imagery and an Appendix Map of the 1915 Netherland-British Agreement were used to observe river shape and river bank conditions. River banks in multi-temporal landsat satellite imagery are interpreted visually and digitize manually. Observations from 1989 to 2019 identified different river bank positions in 1989, 1999, 2009 and 2019. Differences in River bank position indicate shifting of River banks. Average shifting of River bank on the right side (Indonesia) and the left side (Malaysia) respectively by 11.4 m and 15 m in Sikapal River and average shifting on the right side 25.1 m and on the left side 8.8 m in the Tamboe River. Maximum river bank displacement occurs in river curves. Shifting is caused by erosion. River bank Shifting of the Sikapal and Tamboe River is small compared to previous research by Dabojani (2013) with a maximum shifting is 0.7 m per year. This is because around the banks of the Sikapal River and the Tamboe River are overgrown with mangrove plants which can slow down the rate of erosion. Changes on the river banks of the Tamboe and Sikapal River affected the Indonesia-Malaysia Border lines which are delimited in 1989, 1999, 2009 and 2019 using three stage approach method. This is evident from the length and number of turning points is different in these years. The difference in the border line causes the difference in the river area of Indonesia and Malaysia which are increased by 13.4 ha and 14.3 ha respectively.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Batas Wilayah Indonesia-Malaysia, Perjanjian Belanda Inggris tahun 1915, Bentuk dan Tepi Sungai, Garis Batas, Data Spasial, Indonesia-Malaysia Boundary, 1915 Netherland-British Agreement, River shape and River bank, Border Line, Spatial Data
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > G Geography (General) > G70.5.I4 Remote sensing
Divisions: Faculty of Civil, Environmental, and Geo Engineering > Geomatics Engineering > 29101-(S2) Master Theses
Depositing User: Ardiawan Jati
Date Deposited: 06 Aug 2020 01:44
Last Modified: 06 Aug 2020 01:44
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/77039

Actions (login required)

View Item View Item