Fasilitas Pendidikan Bagi Anak Tunanetra Dengan Pendekatan Indera

Baktara, Datin Intan (2020) Fasilitas Pendidikan Bagi Anak Tunanetra Dengan Pendekatan Indera. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
08111640000071-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (12MB) | Request a copy

Abstract

Anak tunanetra adalah manusia berusia di bawah 19 tahun yang memiliki gangguan atau kerusakan pada indera penglihatannya, sehingga menyebabkan penglihatan berkurang kemampuannya atau bahkan tidak bisa melihat sama sekali. Tidak berfungsinya indera penglihatan menyebabkan seorang anak tunanetra bergantung pada indera-inderanya yang masih berfungsi baik dalam menerima informasi dan dalam proses pembelajaran, agar mereka menjadi pribadi yang lebih mandiri nantinya. Arsitektur yang merespons pengguna tunanetra tentunya harus benar-benar memperhatikan aspek multisensori, yang mana arsitektur tersebut dapat dieksplorasi oleh penggunanya menggunakan kombinasi indera mereka. Rancangan arsitektur diharapkan mampu membiasakan persepsi anak tunanetra dalam mengenali sebuah ruang dan mengenali petunjuk yang sekiranya mampu membantu mereka melakukan aktivitas dengan hambatan yang minim. Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra tidak hanya hadir sebagai wadah tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar, namun juga mampu menjadi medan belajar itu sendiri bagi anak-anak tunanetra. Dengan menggunakan pendekatan indera, rancangan arsitektur memiliki fokusan bagaimana indera anak tunanetra mampu merespons informasi yang diterimanya. Metode desain yang digunakan adalah metode naratif, yang mana menarasikan terlebih dahulu ide-ide arsitektural secara sekuensial sebelum kemudian dieksekusi ke dalam bentuk tiga dimensi. =================================================================================================== A blind child is a human under 19 years old that has either problem or damage in his/her visual sense, which leads to loss of sight. The malfunctioning visual sense makes a blind child has to depend on his/her other functioning senses in order to receive information and in learning process, so that he/she will be a more independent person in the future. Architecture that responds blind users indeed has to pay attention to multisensory aspect, how the architecture can be explored by the users using combination of senses. The architecture design should be able to trigger blind children’s perception in learning spaces and knowing clues around them that support them in doing activities with minimal obstacles. The education facility for blind children not only presents as a place where the teaching and learning takes place, but also be the learning field for them. Using sensory as an approach, the architecture design focuses on how blind children’s senses are able to responds the information they receive. The design method used is narrative, which steps are producing a narration of architectural ideas before then applied in the form of three dimensional.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: RSA 371.62 Bak f-1
Uncontrolled Keywords: anak-anak, indera, pendidikan, tunanetra, blind, children, education, sense
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture > NA6600 Education buildings
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: DATIN INTAN BAKTARA
Date Deposited: 18 Aug 2020 02:36
Last Modified: 14 Sep 2020 00:36
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/78071

Actions (login required)

View Item View Item