Penambahan Ruang Terbuka Hijau Publik Optimal Di Kota Banda Aceh Berdasarkan Minimasi Anggaran

Saryulis, Saryulis (2020) Penambahan Ruang Terbuka Hijau Publik Optimal Di Kota Banda Aceh Berdasarkan Minimasi Anggaran. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
08211640000041-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) publik di perkotaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diatur dengan syarat minimal 20% dari luas wilayah. Pada tahun 2020, penyediaan RTH publik di Kota Banda Aceh baru mencapai 14,31% dari total luas. Upaya untuk menyediakan tambahan ruang terbuka hijau publik menemui kendala terkait masalah alokasi anggaran. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memodelkan penambahan RTH publik secara optimal di Kota Banda Aceh. Penelitian ini dicapai melalui dua sasaran. Pertama, mengidentifikasi ketersediaan lahan dan kebutuhan ruang terbuka hijau publik di Banda Aceh. Kedua, merumuskan model penambahan ruang terbuka hijau publik yang optimal di Kota Banda Aceh dengan menggunakan metode linear programming. Hasil dari sasaran pertama menunjukkan bahwa secara keseluruhan ketersediaan lahan untuk tambahan RTH publik di Banda Aceh adalah 6.000.688 m² dengan kebutuhan penambahan RTH publik di seluruh kota Banda Aceh adalah 3.293.404 m². Meski demikian, ketersediaan lahan untuk penambahan RTH publik tidak merata, karena di beberapa kelurahan belum tersedia lahan, sehingga penambahan RTH publik tidak memungkinkan. Perhitungan kebutuhan RTH perkotaan berdasarkan kebutuhan oksigen juga dilakukan untuk memvalidasi model optimasi, hasil penelitian menunjukkan kebutuhan RTH berdasarkan kebutuhan oksigen pada tahun 2020 sebesar 24.619.396 m², 28.264.780 m² pada tahun 2025, dan 34.198.034 m² pada tahun 2030 Selanjutnya analisis sasaran kedua adalah merumuskan metode optimasi dengan menggunakan metode linear programming. Dalam model optimasi, fungsi tujuan yang ditetapkan adalah minimasi anggaran pengadaan tanah untuk penambahan ruang terbuka hijau publik. Hasil optimasi pada penelitian ini dipengaruhi oleh nilai lahan (NJOP tertinggi) dan alokasi lahan untuk penambahan RTH publik di masing-masing kelurahan. Selain itu, alokasi lahan untuk penambahan RTH publik memperhatikan beberapa kendala seperti ketersediaan lahan, kebutuhan penambahan RTH publik, dan distribusi berimbang ruang terbuka hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ruang terbuka hijau publik secara optimal membutuhkan biaya Rp. 1.767.747.119.132 untuk pengadaan tanah 3.293.404 m². Namun, penambahan RTH publik hingga 20% masih belum dapat memenuhi kebutuhan oksigen kota. ================================================================================== The provision of public green open space (GOS) in urban areas under Law No. 26 of 2007 concerning Spatial Planning is regulated with a minimum requirement of 20% of the total area. Per 2020, the provision of public green open space in Banda Aceh City has only reached 14.31% of the total area. Efforts in providing additional public green open space have come short with budget allocation issues. Based on these conditions, this study aims to model the optimal provision of public green open space in Banda Aceh City. The research is achieved through two objectives. First, identifying land availability and the need for public green open space in Banda Aceh. Second, formulating a model for the optimal provision of the public green open space in Banda Aceh City using the linear programming method. The results of the first objective show that overall, the availability of land for additional public green open space in Banda Aceh is 6,000,688 m² with the need for additional public green open space in the entire city of Banda Aceh is 3,293,404 m². However, the availability of land is not evenly distributed, due to the unavailability of land in some urban villages, additional public green open space is not possible. The need of urban green open space based on oxygen demand was also carried out to validate the optimization model, the results show the need for green open space based on oxygen demand in 2020 is 24,619,396 m², 28,264,780 m² in 2025, and 34,198,034 m² by 2030. The analysis in the second objective is to formulate an optimization method using the linear programming method. In the optimization model, the objective function set is the minimization of the budget for land acquisition for additional public green open space. The optimization results in this study are influenced by the land value (highest NJOP) and by the land allocation for additional public green open space in each sub-district. Also, the land allocation for additional public green open space considers several constraints such as land availability, the need for additional public green open space, and the balanced distribution of green open space. The results showed that the optimal addition of public green open space costs Rp. 1,767,747,119,132 for the acquisition of 3,293,404 m² of land. However, the addition of public green open space to 20% of the area still cannot meet the city's oxygen demand.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Ruang Terbuka Hijau Publik, Optimasi, Minimasi Anggaran, Public Open Green Space, Optimization, Budget Minimization
Subjects: H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races > HT133 City and Towns. Land use,urban
Divisions: Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Regional & Urban Planning > 35201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Saryulis Saryulis
Date Deposited: 24 Aug 2020 04:16
Last Modified: 24 Aug 2020 04:16
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/79622

Actions (login required)

View Item View Item