Purwarupa Sistem Pengukuran Gas Beracun (Gas Amonia dan Gas Hidrogen Sulfida) untuk Penggalian Sumur Menggunakan Mikrokontroler dan Wireless

Putra, Noval Andika Chandra Eka (2018) Purwarupa Sistem Pengukuran Gas Beracun (Gas Amonia dan Gas Hidrogen Sulfida) untuk Penggalian Sumur Menggunakan Mikrokontroler dan Wireless. Diploma thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img]
Preview
Text
10311500010047-Non_Degree.pdf - Accepted Version

Download (3MB) | Preview

Abstract

Umumnya penggunaan sumur gali masih digunakan oleh masyarakat perdesaan. Tidak jarang para pemilik ingin menguras maupun memperdalam sumurnya, pastinya membutuhkan orang untuk turun ke dasar sumur. Proses pengeboran dan pengurasan itu sendiri dapat menimbulkan korban. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa macam gas beracun di bawah tanah yang bisa digolongkan menjadi gas yang berbahaya. Gas – gas yang berbahaya itu contohnya karbon dioksida, hidrogen sulfida, amonia, metana, dll. Pendeteksi gas beracun untuk penggalian sumur menggunakan mikrokontroler ini mempunyai kerja yaitu alat ini akan dimasukkan ke dalam sumur pada kedalaman tertentu, lalu saat terdeteksi gas beracun (gas amonia dan gas hidrogen sulfida), maka alat tersebut akan mengirimkan sinyal peringatan ke permukaan sumur dengan metode wireless, dan juga akan ditampilkan pada PC. Hasil akhir alat ini didapatkan waktu pemanasan rata – rata untuk sensor H2S adalah 82,8 detik, sedangkan untuk sensor NH3 adalah 22,2 detik. Batas bawah PPM yang dapat dideteksi untuk sensor H2S adalah 2,872 PPM, sedangkan untuk sensor NH3 adalah 0,016 PPM. Saat dilakukan kalibrasi didapatkan error untuk sensor H2S adalah 0,01 – 0,03 PPM, sedangkan untuk sensor NH3 adalah 0,02 – 2,7 PPM dan pada saat pengujian, sensor H2S dalam keadaan siaga karena mampu mendeteksi dengan nilai di atas batas ambang gas H2S. ======================================================================== Generally the use of dug wells is still used by rural communities. Not infrequently the owners want to drain or deepen the well, certainly requires people to get down to the bottom of the well. The drilling and drainage process itself can cause casualties. This is because there are several kinds of toxic gases in the underground that can be classified as dangerous gases. The harmful gases are carbon dioxide, hydrogen sulfide, ammonia, methane, etc. Toxic gas detector for well excavation using this microcontroller has the work of this tool will be inserted into wells at a certain depth, then when detected toxic gas (ammonia gas and hydrogen sulfide gas), then the tool will send a warning signal to the surface of the well by wireless method , and will also be displayed on the PC. The end result of this tool obtained average mean for H2S sensor is 82.8 seconds, while for NH3 sensor is 22.2 seconds. The lower limit of detectable PPM for H2S sensor is 2.872 PPM, while for NH3 sensor is 0.016 PPM. When the calibration is obtained the error for the H2S sensor is 0.01 - 0.03 PPM, while for NH3 sensor is 0.02 – 2.7 PPM and at the time of testing, H2S sensor in searching the right with H2S gas.

Item Type: Thesis (Diploma)
Additional Information: RSEO 621.391 6 Put p
Uncontrolled Keywords: Gas Beracun, Amonia, Hidrogen Sulfida, Mikrokontroler
Subjects: T Technology > TK Electrical engineering. Electronics Nuclear engineering > TK2861 Electric relays
T Technology > TK Electrical engineering. Electronics Nuclear engineering > TK2921 Lithium cells.
T Technology > TK Electrical engineering. Electronics Nuclear engineering > TK5105.585 TCP/IP (Computer network protocol)
T Technology > TK Electrical engineering. Electronics Nuclear engineering > TK7871.674 Detectors. Sensors
Divisions: Faculty of Vocational > 36304-Automation Electronic Engineering
Depositing User: Noval Andika Chandra Eka Putra
Date Deposited: 22 Oct 2020 03:24
Last Modified: 22 Oct 2020 03:24
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/59279

Actions (login required)

View Item View Item