Desain Pabrik Garam Farmasi Dari Garam Rakyat K-1 Dengan Penambahan Precipitating Agent Menggunakan Metode Rekristalisasi

Sariyunardi, Efra and Aini, Chumaida Qurrotu (2024) Desain Pabrik Garam Farmasi Dari Garam Rakyat K-1 Dengan Penambahan Precipitating Agent Menggunakan Metode Rekristalisasi. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[thumbnail of 5008201145_5008201191_Undergraduate_Thesis.pdf] Text
5008201145_5008201191_Undergraduate_Thesis.pdf
Restricted to Repository staff only until 1 October 2026.

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Garam merupakan istilah umum yang digunakan untuk senyawa kimia bernama Natrium Chlorida (NaCl). Saat ini industri farmasi sangat bergantung pada bahan baku impor. Kemenkes mencatatkan bahwa bahan baku obat-obatan sekitar 90% masih mengimpor dari luar. Garam farmasi merupakan salah satu jenis garam industri yang memiliki spesifikasi paling tinggi, sesuai dengan standar farmakope. Garam farmasi harus memiliki kadar NaCl > 99% dan kadar maksimal pengotor mendekati 0%. Dalam industri farmasi garam digunakan sebagai cairan infus, pembersih darah, obat kapsul, pelarut vaksin, sirup, oralit, dan minuman kesehatan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan, yakni dengan membangun beberapa pabrik garam farmasi yang baru dengan kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan garam farmasi di Indonesia sekaligus memanfaatkan garam rakyat berkualitas K-1 yang ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia. Bahan baku utama yang digunakan pada pabrik ini yaitu garam rakyat berkualitas K-1 dengan kandungan NaCl lebih dari 95%. Proses yang terpilih berdasarkan metode AHP adalah metode rekristalisasi yang diawali dengan proses pelarutan garam rakyat K-1, kemudian dilakukan pemisahan mother liquor dengan impuritiesnya menggunakan centrifuge. Lalu mother liquor ditambahkan dengan Na2CO3 yang kemudian akan dilakukan pemisahan kembali menggunakan centrifuge. Mother liquor akan ditambahkan dengan NaOH yang kemudian akan dilakukan pemisahan kembali menggunakan centrifuge. Filtrat akan diteruskan ke membran NF untuk penghilangan ion kalium dan sulfat. Kemudian larutan akan dimasukkan ke unit penguapan dan pengkristalan menggunakan Circulating Magma Vacuum Crystallizer. Lalu kristal masuk ke dalam unit pengeringan dan pengendalian produk, menggunakan rotary dryer dan dilanjutkan dengan pengecilan ukuran dengan ball mil hingga menjadi 50 mesh garam farmasi dengan kandungan NaCl >99%. Pabrik garam farmasi ini akan dibangun dengan kapasitas produksi sebesar 2000 ton/tahun dengan waktu operasi 330 hari dan berada di Sampang, Jawa Timur. Total modal tetap (FCI) yang dibutuhkan yaitu Rp17.560.302.525,20 ; modal kerja (WCI) sebesar Rp3.098.876.916,21; biaya produksi per tahun (TPC) sebesar Rp37.234.498.691. Estimasi penjualan per tahun yaitu sebesar Rp54.389.800.282,18. maka akan diperoleh nilai IRR 18% dengan waktu pengembalian modal 5 tahun dan nilai NPV positif sehingga pabrik garam farmasi ini layak didirikan.
=================================================================================================================================
Salt is a general term used for the chemical compound Sodium Chloride (NaCl). Currently, the pharmaceutical industry heavily relies on imported raw materials. The Ministry of Health records that approximately 90% of the raw materials for pharmaceuticals are still imported. Pharmaceutical salt is one type of industrial salt that has the highest specifications, according to pharmacopeia standards. Pharmaceutical salt must have a NaCl content of > 99% and a maximum impurity level close to 0%. In the pharmaceutical industry, salt is used as infusion fluids, blood cleansers, capsule medicines, vaccine solvents, syrups, oral rehydration salts (ORS), and health drinks. One solution that can be implemented is by building several new pharmaceutical salt factories with sufficient capacity to meet the pharmaceutical salt needs in Indonesia while utilizing K-1 quality local salt, which is abundantly available in Indonesia. The main raw material used in this factory is K-1 quality local salt with a NaCl content of more than 95%. The selected process based on the AHP method is the recrystallization method, which begins with the dissolution of K-1 quality local salt, followed by the separation of the mother liquor from impurities using a centrifuge. Then the mother liquor is added with Na2CO3, followed by another separation using a centrifuge. The mother liquor is then added with NaOH and another separation is performed using a centrifuge. The filtrate will be passed through an NF membrane to remove potassium and sulfate ions. Then the solution will be fed into an evaporation and crystallization unit using a Circulating Magma Vacuum Crystallizer. The crystals will then enter the drying and product control unit, using a rotary dryer, followed by size reduction with a ball mill to achieve 50 mesh pharmaceutical salt with a NaCl content of >99%. This pharmaceutical salt factory will be built with a production capacity of 2000 tons/year, operating 330 days per year, and located in Sampang, East Java. The total fixed capital investment (FCI) required is IDR 17,560,302,525.20; working capital investment (WCI) is IDR 3,098,876,916.21; and annual production cost (TPC) is IDR 37,234,498,691. The estimated annual sales are IDR 54,389,800,282.18. This yields an IRR of 18%, with a payback period of 5 years and a positive NPV, indicating that this pharmaceutical salt factory is feasible to establish.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: Kata kunci : garam, garam farmasi, rekristalisasi, precipitating agent, Keywords: salt, pharmaceutical salt, recrystallization, precipitating agent
Subjects: T Technology > TP Chemical technology > TP155.5 Chemical plants--Design and construction
Divisions: Faculty of Industrial Technology and Systems Engineering (INDSYS) > Chemical Engineering > 24201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Efra Sariyunardi
Date Deposited: 25 Jul 2024 07:30
Last Modified: 25 Jul 2024 07:30
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/108900

Actions (login required)

View Item View Item