fanaya, fachrizal sabilineo (2022) Taman Budaya : Pengalaman Fantasi Pada Museum Bawah Tanah Surakarta Dengan Pendekatan Fenomenologi. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
08111840000090-Undergraduate_Thesis.pdf Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
Manusia pastinya memiliki daya imajinasi atau fantasi yang dimiliki sejak kecil. Manusia melakukan hal ini setiap saat membayangkan sesuatu dan memikirkan sesuatu yang abstrak dan tidak menentu sesuai kondisinya saat itu. Ada faktor diluar pikiran manusia yang menstimulasi akan hadirnya suatu memori fantasi yang sedang dipikirkan sesorang, namun tidak semua usia bisa menangkap fantasi mereka secara cepat dan tepat. Disinilah keterkaitan antara arsitektur dan fantasi manusia hadir untuk membangun sebuah karakter dari sebuah ruang dan mengajak para pengguna untuk dapat merasakan dan membayangkan lebih dalam dengan bantuan ruang arsitektural. Ruang arsitektural hadir menjadi sebuah gagasan untuk menstimulasi daya fantasi manusia dengan atmosfer tertentu pada ruang dan sensori pada indera manusia. Muncul lah ide gagasan museum bawah tanah sebagai objek rancangan. Gagasan museum bawah tanah dinilai tepat untuk menanggapi isu, konteks, dan kriteria. Peran arsitektur akan hadir lebih dalam untuk dirasakan dan membantu manusia dalam mengati hal yang ada didalamnya, dengan prinsip dasar museum yang dapat menjadi ruang kolaborasi antara arsitektur dan fantasi manusia. Dengan gagasan museum bawah tanah maka semakin memperkuat peran arsitektur untuk menstimulasi daya fantasi dan imajinasi manusia untuk menikmati atau mendalami apa yang ada di dalamnya.
==============================================================================================================================
Humans certainly have the power of imagination or fantasy that has been owned since childhood. Humans do this all the time imagining something and thinking about something abstract and uncertain according to their current conditions. There are factors outside the human mind that stimulate the presence of a fantasy memory that someone is thinking about, but not all ages can catch their fantasy quickly and accurately. This is where the relationship between architecture and human fantasy exists to build a character from a space and invites users to feel and imagine deeper with the help of architectural space. Architectural space is present as an idea to stimulate human fantasy with a certain atmosphere in space and sensory in the human senses. The idea of an underground museum emerged as a design object. The idea of an underground museum is considered appropriate to respond to issues, contexts, and criteria. The role of architecture will be present more deeply to be felt and help humans understand what is in it, with the basic principles of museums being a space for collaboration between architecture and human fantasy. With the idea of an underground museum, it further strengthens the role of architecture to stimulate human fantasy and imagination to enjoy or explore what is in it.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Additional Information: | RSA 727.6 Fan t-1 2022 |
| Uncontrolled Keywords: | Arsitektur, Atmosfer, Fantasi, Sensori, Museum Bawah Tanah. Architecture, Atmospher, Fantasy, Sensory, Underground Museum. |
| Subjects: | N Fine Arts > NA Architecture |
| Divisions: | Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Mr. Marsudiyana - |
| Date Deposited: | 19 Jun 2026 02:23 |
| Last Modified: | 19 Jun 2026 02:23 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/133926 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
