Setiawan, Muhammad Dirga (2026) Analisis Tingkat Bahaya Lingkungan Pada Pembongkaran Gedung Bertingkat Berbasis Fuzzy Inference System: Studi Kasus Pembongkaran Gedung A Jakarta. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
6032221102-Master_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (11MB) | Request a copy |
Abstract
Pembongkaran gedung bertingkat di kawasan perkotaan padat berpotensi menimbulkan debu, kebisingan, dan getaran yang dapat mengganggu kualitas lingkungan serta aktivitas pada bangunan di sekitarnya. Penilaian setiap parameter polusi secara terpisah belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai tingkat bahaya lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat bahaya lingkungan secara terpadu dan menentukan prioritas mitigasi pada pembongkaran Gedung A Jakarta, menggunakan Fuzzy Inference System (FIS). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif terapan dengan desain studi kasus. Data berupa konsentrasi PM2.5, tingkat kebisingan, dan getaran diperoleh dari titik pemantauan di area proyek Gedung A serta dua bangunan penerima dampak, yaitu Gedung B dan Gedung C. Ketiga parameter diintegrasikan menggunakan FIS dengan fungsi keanggotaan yang mengacu pada baku mutu lingkungan. Prioritas mitigasi ditentukan berdasarkan kategori bahaya, parameter dominan, dan hasil diskusi kelompok terarah bersama praktisi demolisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh titik pemantauan berada pada kategori bahaya lingkungan tinggi, dengan skor FIS sebesar 8,4240 pada Gedung A, 8,3868 pada Gedung B, dan 8,4315 pada Gedung C. Perbedaan skor tersebut relatif kecil sehingga tingkat bahaya ketiga titik dapat dianggap setara. Debu PM2.5 menjadi parameter paling dominan karena melampaui baku mutu pada seluruh titik, diikuti oleh kebisingan. Getaran tercatat 0,00 mm/s dan dikategorikan rendah, tetapi tetap memerlukan pemantauan pada fase demolisi yang bersifat impulsif. Disimpulkan bahwa prioritas mitigasi diarahkan terlebih dahulu pada pengendalian debu, kemudian kebisingan, disertai pemantauan getaran secara berkelanjutan. Hasil penelitian merupakan analisis awal yang bersifat kontekstual dan belum dapat digeneralisasikan pada seluruh proyek demolisi gedung bertingkat.
========================================================================================================================================
The demolition of high-rise buildings in dense urban areas may generate dust, noise, and vibration that can adversely affect environmental quality and activities in surrounding buildings. Assessing each pollution parameter separately does not provide a comprehensive representation of the overall environmental hazard level. This study aims to analyze environmental hazards in an integrated manner and determine mitigation priorities for the demolition of Building A Jakarta, using a Fuzzy Inference System (FIS). This study employed an applied quantitative approach with a case study design. Data on PM2.5 concentration, noise levels, and vibration were obtained from monitoring points within the Building A project area and at two surrounding receptor buildings, namely Building B and the Building C. The three parameters were integrated using FIS, with membership functions developed based on applicable environmental quality standards. Mitigation priorities were determined according to the hazard category, dominant parameters, and the results of a focus group discussion with demolition practitioners. The results indicate that all monitoring points were classified as having a high environmental hazard level, with FIS scores of 8.4240 at Building A, 8.3868 at Building B, and 8.4315 at the Building C. The differences among these scores were relatively small, indicating that the hazard levels at the three monitoring points were broadly comparable. PM2.5 was the most dominant parameter because its concentration exceeded the applicable standard at all monitoring points, followed by noise. Vibration was recorded at 0.00 mm/s and classified as low; however, continued monitoring is still required during demolition phases involving impulsive activities. It is concluded that mitigation should prioritize dust control, followed by noise control, while maintaining continuous vibration monitoring. The findings represent a preliminary, context-specific assessment and cannot yet be generalized to all high-rise building demolition projects.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Demolisi Gedung, Bahaya Lingkungan, Debu PM2.5, Kebisingan, Getaran, Fuzzy Inference System, Mitigasi Lingkungan. |
| Subjects: | Q Science > QA Mathematics > QA9.64 Fuzzy logic |
| Divisions: | Interdisciplinary School of Management and Technology (SIMT) > 61101-Master of Technology Management (MMT) |
| Depositing User: | Muhammad Dirga Setiawan |
| Date Deposited: | 28 Jul 2026 06:28 |
| Last Modified: | 28 Jul 2026 06:28 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/138562 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
