Dewi, Caesarika Pramesthi (2026) Evaluasi Komparatif Tingkat Publicness Pada Koridor Jalan Tunjungan Dan Koridor Jalan Rajawali (Kawasan Kota Lama) Sebagai Ruang Publik Di Kota Surabaya. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
5015221111-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (14MB) | Request a copy |
Abstract
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan ruang publik yang inklusif mendorong Pemerintah Kota Surabaya merevitalisasi koridor heritage sebagai ruang publik Kota Surabaya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan membandingkan tingkat publicness pada Koridor Jalan Tunjungan dan Koridor Jalan Rajawali (Kawasan Kota Lama Surabaya) sebagai ruang publik di Kota Surabaya. Studi ini menggunakan pendekatan evaluasi komparatif dengan menggabungkan persepsi ahli dan pengguna berdasarkan dimensi manajemen, akses, dan pengguna. Data diperoleh melalui kuesioner penilaian ahli untuk menentukan bobot kepentingan indikator menggunakan AHP dan melalui kuesioner pengguna untuk menilai kinerja indikator publicness pada masing-masing koridor. Tingkat publicness masing-masing koridor diperoleh dari metode VIKOR dengan menggabungkan bobot indikator dan nilai rata-rata kinerja pengguna. Berdasarkan hasil AHP, bobot kepentingan tertinggi berdasarkan para ahli adalah indikator perasaan nyaman pengguna dengan bobot sebesar 12,95%. Kenyamanan menjadi aspek paling mendasar dalam membentuk pengalaman pengguna di ruang publik. Sedangkan dari hasil komparasi menggunakan metode VIKOR, didapatkan Koridor Jalan Rajawali (Kawasan Kota Lama) memiliki nilai sebesar 3,67 dan Koridor Jalan Tunjungan memiliki nilai sebesar 3,64. Keduanya memiliki kategori publicness tinggi. Koridor Jalan Rajawali menunjukkan keunggulan pada aspek manajemen, terutama pemeliharaan dan penyediaan fasilitas sanitasi dan ruang hijau, serta pada aspek aksesibilitas, meliputi kemudahan akses bagi kelompok rentan, minimnya hambatan fisik, dan tempat parkir. Sementara itu, Koridor Jalan Tunjungan lebih unggul dalam animasi ruang melalui keberadaan active frontage serta persepsi rasa aman pengguna. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan tingkat publicness pada kedua koridor terutama dipengaruhi oleh kualitas fasilitas pendukung, tingkat aksesibilitas, animasi ruang, dan persepsi rasa aman pengguna. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Surabaya dalam meningkatkan kualitas koridor heritage sebagai ruang publik yang lebih berkelanjutan.
=======================================================================================================================================
The increasing demand for inclusive public spaces has encouraged the Surabaya City Government to revitalize heritage corridors as public spaces in Surabaya. This study aims to evaluate and compare the level of publicness of the Tunjungan Street Corridor and the Rajawali Street Corridor (Old Town Area) as public spaces in Surabaya. The study employs a comparative evaluation approach by integrating expert and user perceptions based on the dimensions of management, access, and users. Data were collected through expert questionnaires to determine the importance weights of the indicators using the Analytical Hierarchy Process (AHP) and through user questionnaires to assess the performance of publicness indicators in each corridor. The level of publicness for each corridor was evaluated using the VIKOR method by combining indicator weights with average user performance scores. The AHP results indicate that users’ perceived comfort is the most important indicator, with a weight of 12.95%, highlighting comfort as the fundamental aspect in shaping users’ experiences in public spaces. The VIKOR analysis shows that the Rajawali Street Corridor obtained a publicness score of 3.67, while the Tunjungan Street Corridor obtained a score of 3.64. Both corridors were classified as having a high level of publicness. The Rajawali Street Corridor demonstrated advantages in the management dimension, particularly in the maintenance and provision of sanitation facilities and green spaces, as well as in the accessibility dimension, including accessibility for vulnerable groups, minimal physical barriers, and parking facilities. In contrast, the Tunjungan Street Corridor performed better in terms of spatial animation through active frontages and users’ perceived safety. The findings indicate that differences in the level of publicness between the two corridors are primarily influenced by the quality of supporting facilities, accessibility, spatial animation, and users’ perceived safety. These findings are expected to provide input for the Surabaya City Government in improving the quality of heritage corridors as more sustainable public spaces..
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Publicness, Corridor, Public Space, Comparative Evaluation, AHP, VIKOR |
| Subjects: | H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races > HT133 City and Towns. Land use,urban |
| Divisions: | Faculty of Civil, Planning, and Geo Engineering (CIVPLAN) > Regional & Urban Planning > 35201-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | Caesarika Pramesthi Dewi |
| Date Deposited: | 29 Jul 2026 21:25 |
| Last Modified: | 29 Jul 2026 21:25 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/141191 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
