Studi Kontingensi Operasi Jaringan SUTET 500 kV Perawang – Rantau Prapat – Galang Menggunakan Analisis Aliran Daya

Muslimah, Andi Utami (2026) Studi Kontingensi Operasi Jaringan SUTET 500 kV Perawang – Rantau Prapat – Galang Menggunakan Analisis Aliran Daya. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh November.

[thumbnail of 6022241031_Thesis.pdf] Text
6022241031_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (34MB) | Request a copy

Abstract

Abstrak — Keandalan transmisi sangat penting untuk menjaga pasokan listrik yang aman dan berkelanjutan, terutama pada sistem tenaga listrik interkoneksi besar seperti Sistem Kelistrikan Sumatra. Seiring dengan terus meningkatnya permintaan listrik, jaringan transmisi harus mampu menyalurkan daya dalam jumlah besar secara efisien sambil mempertahankan kondisi operasi yang dapat diterima baik dalam situasi normal maupun kontingensi. Subsisem Sumatra Bagian Selatan (SBS) memiliki sumber daya pembangkit berbiaya rendah yang melimpah dan dapat mendukung permintaan listrik di Subsisem Sumatra Bagian Tengah (SBT) dan Utara (SBU). Namun, memaksimalkan pemanfaatan sumber daya ini memerlukan tulang punggung transmisi yang lebih kuat dengan kapasitas transfer yang memadai. Saluran transmisi 500 kV Perawang–Rantau Prapat–Galang dikembangkan untuk memperkuat interkoneksi antar sub-sistem regional dan menyediakan koridor transmisi berkapasitas tinggi tambahan di seluruh Sumatra. Studi ini mengevaluasi kinerja teknis transmisi 500 kV menggunakan DIgSILENT PowerFactory melalui analisis aliran daya dan kontingensi. Kinerja sistem dibandingkan sebelum dan sesudah pengoperasian saluran transmisi 500 kV di bawah kondisi operasi normal, kontingensi generator N-1, dan kontingensi transmisi N-1-1. Evaluasi berfokus pada profil tegangan bus dan pembebanan Transformator Interbus (IBT). Hasil simulasi menunjukkan bahwa dalam kondisi normal, tegangan bus maksimum mencapai 1,04 p.u., sementara reaktor shunt 500 kV secara efektif menyerap kelebihan daya reaktif dari pengisian saluran (line charging). Di bawah kontingensi transmisi N-1-1, pembebanan IBT di Subsisem Tengah menurun secara signifikan dari 100% menjadi 49% (penurunan sebesar 51%) setelah commissioning. Selain itu, rugi-rugi transmisi sistem menurun secara nyata karena tingkat tegangan operasi yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, backbone 500 kV meningkatkan kapasitas transfer daya antarwilayah, mengurangi beban termal pada peralatan kritis, dan memperkuat keamanan operasional keadaan tunak pada jaringan Sumatra.
================================================================================================================================
Abstract — Transmission reliability is essential for maintaining a secure and continuous electricity supply, particularly in large interconnected power systems such as the Sumatra Power System. As electricity demand continues to grow, the transmission network must be capable of transferring large amounts of power efficiently while maintaining acceptable operating conditions under both normal and contingency situations. The Southern Sumatra (SBS) Subsystem has abundant low-cost generation resources that can support electricity demand in the Central (SBT) and Northern (SBU) Subsystems. However, maximizing the utilization of these resources requires a stronger transmission backbone with sufficient transfer capability. The 500 kV Perawang–Rantau Prapat–Galang transmission line was developed to strengthen the interconnection between regional subsystems and provide an additional high-capacity transmission corridor across Sumatra. This study evaluates the technical performance of the 500 kV transmission backbone using DIgSILENT PowerFactory through power flow and contingency analyses. System performance is compared before and after the commissioning of the 500 kV transmission line under normal operating conditions, an N-1 generator contingency, and an N-1-1 transmission contingency. The evaluation focuses on bus voltage profiles and Interbus Transformer (IBT) loading. The simulation results indicate that under normal conditions, the maximum bus voltage reaches 1.04 p.u., while 500 kV shunt reactors effectively absorb excess line charging reactive power. Under the N-1-1 transmission contingency, IBT loading in the Central Subsystem decreases significantly from 100% to 49% (a 51% reduction) post-commissioning. Furthermore, system transmission losses decrease noticeably due to the higher operating voltage level. Overall, the 500 kV backbone enhances interregional power transfer capability, relieves thermal loading on critical equipment, and reinforces the steady-state operational security of the Sumatra grid.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Transmisi Interkoneksi, Analisis Kontingensi, Aliran Daya, Stabilitas Tegangan,Interconnection Transmission, Contingency Analysis, Power Flow, Voltage Stability
Subjects: T Technology > TK Electrical engineering. Electronics Nuclear engineering > TK1010 Electric power system stability. Electric filters, Passive.
Divisions: Faculty of Intelligent Electrical and Informatics Technology (ELECTICS) > Electrical Engineering > 20101-(S2) Master Thesis
Depositing User: Andi Utami Muslimah
Date Deposited: 05 Aug 2026 09:28
Last Modified: 05 Aug 2026 09:28
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/144024

Actions (login required)

View Item View Item