Membuat Arsitektur Pada Masyarakat Karo: Penelusuran Makna Arsitektural Di Dalam Folklor Karo

Sembiring, Sri Gunana (2003) Membuat Arsitektur Pada Masyarakat Karo: Penelusuran Makna Arsitektural Di Dalam Folklor Karo. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh November.

[thumbnail of 3200202007-Master_Thesis.pdf] Text
3200202007-Master_Thesis.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (11MB)

Abstract

Arsitektur merupakan realisasi dari proses membuat oleh manusia yang mengartikan kenyataan-kenyataan fisik dan nonfisik dalam konteks tradisi tertentu. Representasi arsitektur sebagai teks pada dasarnya dapat diidentifikasi dan ditafsirkan dalam wilayah pemahaman arsitektur. Folklor (teks), seperti puisi, epik, kepercayaan, ritual, dan lain-lain, merupakan sumber penggalian bagi pemahaman atas sesuatu yang asli dari arsitektur itu sendiri. Cara yang tepat dalam menafsirkan teks adalah melalui keterbukaannya terhadap masa kini dan masa datang serta didasarkan pada pola pikir yang menuju pada suatu kebenaran ontologis. Hermeneutik Gadamerian memberikan jalan untuk memahami makna melalui pembacaan teks dengan pendekatan filosofis dan teoretis dalam perspektif arsitektur yang meletakkan bahasa sebagai pusatnya. Sejalan dengan pandangan Norberg-Schulz bahwa makna sangat dekat dengan membuat, dilakukan penafsiran terhadap folklor Karo Turiturin Majekken Rumah guna menemukan istilah dan pengertian “membuat arsitektur” pada masyarakat Karo. Heidegger menyatakan bahwa terdapat dua proses dalam membuat (making), yaitu proses menghadirkan sosok fisik dan menghadirkan sesuatu. Pandangan Heidegger tersebut telah dibawa oleh Klassen dan Norberg-Schulz ke dalam wilayah arsitektur dan menunjukkan bahwa pengertian membuat terkait dengan hadirnya wujud fisik bangunan. Dengan menggunakan metode kritik deskriptif dari Wayne Attoe, dapat ditunjukkan bahwa membuat arsitektur bukan hanya merupakan penampilan praktis dari suatu pengkonstruksian yang berakhir dengan bangunan. Terkait dengan bertempat tinggal, sejalan dengan pandangan Norberg-Schulz, membuat arsitektur adalah mengonstruksi bangunan dan memelihara tempat. Penafsiran terhadap turiturin tersebut berakhir pada pertemuan makna dalam istilah majekken, ngampeken, jabu, kayu, dan tanah. Istilah membuat arsitektur pada masyarakat Karo adalah majekken. Istilah majekken ini terakomodasi dalam pandangan Norberg-Schulz tentang membuat dan bertempat tinggal. Majekken jabu berarti menyelenggarakan pengonstruksian (ngampeken) dan menanam dalam wujud jabu (rumah), jabu-jabu (tempat-tempat atau ruangan-ruangan), dan jabu (keluarga) di Taneh Karo Simalem.
=================================================================================================================================
Architecture is a realization of the human process of making, through which physical and nonphysical realities are interpreted within a particular cultural tradition. The representation of architecture as a text can essentially be identified and interpreted within the realm of architectural understanding. Folklore (texts), such as poetry, epics, beliefs, rituals, and others, constitutes a source for exploring an authentic understanding of architecture itself. The appropriate way to interpret a text is through its openness to the present and the future, based on a mode of thinking that leads toward ontological truth. Gadamerian hermeneutics provides a way to understand meaning through the reading of texts using philosophical and theoretical approaches within an architectural perspective that places language at its center. In accordance with Norberg-Schulz’s view that meaning is closely related to making, the Karo folklore Turiturin Majekken Rumah is interpreted to identify the terms and meaning of “making architecture” in Karo society. According to Heidegger, making involves two processes: presenting a physical form and bringing something into presence. Heidegger’s view was introduced by Klassen and Norberg-Schulz into the field of architecture, demonstrating that making is related to the emergence of a physical building. Using Wayne Attoe’s descriptive criticism method, it can be demonstrated that making architecture is not merely a practical manifestation of construction that culminates in a building. In relation to dwelling, in accordance with Norberg-Schulz’s perspective, making architecture involves constructing buildings and preserving places. The interpretation of the turiturin culminates in an encounter of meanings expressed through the terms majekken, ngampeken, jabu, kayu, and tanah. The term for making architecture in Karo society is majekken. The concept of majekken corresponds to Norberg-Schulz’s conception of making and dwelling. Majekken jabu refers to carrying out construction (ngampeken) and establishing jabu in the forms of a house, jabu-jabu (places or rooms), and jabu (family) in Taneh Karo Simalem.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: membuat arsitektur, makna, folklor (teks), hermeneutik Gadamerian, making architecture, meaning, folklore (text), Gadamerian hermeneutics.
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture > NA2750 Architectural design.
Divisions: Faculty of Civil Engineering and Planning > Architechture > 23101-(S2) Master Theses
Depositing User: magang .
Date Deposited: 21 Sep 2026 08:11
Last Modified: 21 Sep 2026 08:11
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/144748

Actions (login required)

View Item View Item