Hidayah, Muhammad Lukman (2007) Pengaruh Konsentrasi Anti-Fouling dan Waktu terhadap Peruraian CuO dari Anti-Fouling di dalam Air Laut yang Digunakan pada Kapal Baja. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
|
Text
4202109017-Undergraduate_Thesis.pdf Restricted to Repository staff only Download (9MB) |
Abstract
Pada dasarnya, kapal dapat berlayar dengan cepat pada air dan berakibat pada konsumsi bahan bakar berkurang karena lambung kapal yang bersih dan terbebas dari hewan-hewan yang dapat mengakibatkan fouling, seperti barnacles, algae atau molluscs. Pada tahun 1970-an, banyak kapal menggunakan cat berbahan organotin compounds (TBT) untuk melindungi lambung kapal agar dapat berfungsi sebagai sistem Anti-Fouling. Akan tetapi pada sisi lain studi lingkungan memberikan bukti bahwa organotin compounds berlaku juga pada air dan sedimen, membunuh hewan laut selain yang menempel pada lambung kapal dan dapat merusak rantai makanan. Khususnya TBT telah menyebabkan kulit kerang mengalami deformasi, perubahan alat kelamin (imposex) pada anjing laut dan efek genetik pada hewan laut yang lain. Sebagai akibat dari permasalahan ini, IMO mengeluarkan resolusi untuk pelarangan secara global terhadap aplikasi daripada Organotin Compounds pada sistem Anti-Fouling pada kapal per tanggal 1 Januari 2003 dan pelarangan total per tanggal 1 Januari 2008. Maka para produsen di antaranya Jotun dan Hempel mulai merubah komposisi cat Anti-Fouling dengan mengganti bahan aktifnya dari TBT dengan CuO (Coper Oxide). Copper sendiri adalah micronutrient yang penting bagi tumbuhan dan hewan. Termasuk pada manusia, yang berhubungan dengan fungsinya untuk pembentukan beberapa enzim dan protein-protein yang dibutuhkan pada proses metabolisme. Akan tetapi Copper pada level yang tinggi dapat merugikan bagi kehidupan, seperti koma, shock, anemia, ginjal, lever dan lainnya. Keuntungan secara biologi dari penggunaan Copper merefleksikan kesetimbangan yang harus dijaga antara kebutuhan dan efek keracunan. Menurut peraturan pemerintah Indonesia tentang pedoman penetapan baku mutu lingkungan pada kadar Cu di dalam Air Laut, khususnya lingkungan Air Laut untuk perikanan dan konservasi taman laut ditetapkan maksimal kadar Cu di dalam perairan jumlahnya 0,06 Mg/l tidak diperbolehkan, bahkan untuk pariwisata dan rekreasi serta untuk industri dan pertambangan sama sekali tidak diperbolehkan. Maka perlu diketahuinya bagaimana CuO dari Anti-Fouling bereaksi dengan Air Laut di mana terdapat Natrium Chloride (NaCl) di perairan Indonesia dengan cara mencari kecepatan reaksinya apabila bereaksi dengan NaCl pada saat CuO mulai terurai menjadi Cu + O di dalam Air Laut. Dari hasil penelitian akan didapatkan konsentrasi daripada Cu dari Anti-Fouling saat bereaksi dengan NaCl.
========================================================================================================================================
Basically, ships travel faster through water and consume less fuel because their hulls are clean and smooth - free from fouling organisms, such as barnacles, algae or molluscs. By the 1970s, most seagoing vessels had organotin compounds (TBT) painted on their hulls to act as Anti-Fouling systems. But the other hand, environmental studies provided evidence that organotin compounds persist in the water and in sediments, killing sealife other than that attached to the hulls of ships and possibly entering the food chain. Specifically, TBT was shown to cause shell deformations in oysters, sex changes (imposex) in whelks, and genetic affects in other marine species. As a result from this problems, IMO adopted resolution for a global prohibition on the application of Organotin Compounds which act as biocides in Anti-Fouling systems on ships by 1 January 2003, and a complete prohibition by 1 January 2008. Hence all producer among other things Jotun and Hempel start the composition fox paint the Anti-Fouling by changing its active substance from TBT by CuO (Cooper Oxide). Copper is an essential micronutrient for plants and animal. Including humans, it is involved in the function of several enzymes and other proteins needed of metabolic processes. But in high levels of copper can be detrimental to life, can cause coma, shock, anemia, kidney, etc. The biological benefits of exposure to copper reflect this balance between essentiality and toxicity. According to governmental regulation of Indonesia about permanent stipulating guidance quality of Sea Water environment at Cu rate, specially Sea Water environment for the fishery and sea garden conservation to specified maximal of Cu rate in water environment its amount 0,06 Mg/1 is prohibition, even for the tourism and recreation and also for industrial and mining is complete prohibition. Hence it is important to know how CuO from AntiFouling react with Sea Water which there are Natrium Chloride (NaCl) at ocean environment of Indonesia by searching its speed reaction if reacting with NaCl at the time of CuO start leaches to become Cu + O at sea underwater. From research result will be got Cu concentration from Anti-Fouling when react with NaCl.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Additional Information: | RSSP 623.802 88 Hid p |
| Uncontrolled Keywords: | Copper, Aoti-Fouliog, NaCI, koueotrasi, Copper, Aati-Fouliag, Nacl, coaceatratioa |
| Subjects: | V Naval Science > VM Naval architecture. Shipbuilding. Marine engineering |
| Divisions: | Faculty of Marine Technology (MARTECH) > Marine Engineering > 36202-(S1) Undergraduate Thesis |
| Depositing User: | magang . |
| Date Deposited: | 21 Oct 2026 06:45 |
| Last Modified: | 21 Oct 2026 06:45 |
| URI: | http://repository.its.ac.id/id/eprint/145760 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
