Notopia: Hybrid Tower

Bamazroek, Tahani (2019) Notopia: Hybrid Tower. Other thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[thumbnail of 08111540000075-Undergraduate_Thesis.pdf] Text
08111540000075-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (7MB) | Request a copy

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan arsitektur baik itu di dunia maupun di Indonesia. Sejak dimulainya revolusi industri kedua muncul yang namanya standardisasi dan globalisasi. Hal ini mengakibatkan adanya produksi massal dan kesamaan gaya sehingga muncul yang namanya modernisme. Modernisme membawa pada arsitektur yang generik atau biasa disebut international style. Kritik terhadap arsitektur modern yang dipopulerkan oleh Charles Jencks dengan nama post-modernism juga tidak membawa kita lari dari international style. Hal ini juga berakibat mulai hilangnya sebuah identitas dari arsitektur itu sendiri yang dapat disebut juga dengan “notopia”. Notopia diperkenalkan oleh The Architectural Review pada tahun 2014 sebagai sebuah istilah akan hilangnya identitas dan budaya yang disebabkan oleh semakin maraknya perkembangan arsitektur generik di dunia. Perkembangan ini terus berlanjut tiada henti. Rancangan yang diajukan bertujuan sebagai kritik akan notopia. Tujuan rancangan diwujudkan dengan menggunakan pendekatan critical regionalism yang diterapkan pada bangunan perkantoran karena bangunan perkantoran merupakan bangunan yang sering kali menjadi korban dari arsitektur generik. Critical regionalism merupakan sebuah pendekatan yang membawa kembali unsur lokal dan budaya ke dalam arsitektur tanpa menutup mata pada perkembangan zaman. Pada teori critical regionalism dinyatakan bahwa dalam merancang sebuah arsitektur perlu adanya kesadaran akan budaya dan konteks setempat. Akan tetapi tetap tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan teknologi yang sudah ada. Secara garis besar rancangan diwujudkan dengan menghibridisasi elemen-elemen arsitektur dalam konteks regional dan elemen-elemen arsitektur dalam konteks internasional. Pendekatan critical regionalism melalui konsep hibridisasi dapat membuka kemungkinan dalam menghasilkan rancangan arsitektur yang lebih kontekstual dengan memperhatikan aspek-aspek dan nilai-nilai budaya lokal yang ada. Hibridisasi dari tiap elemen menghasilkan sesuatu yang baru tanpa menghilangkan nilai budaya setempat.
===============================================================================================================================
The development of science and technology has had a major influence on the development of architecture both in the world and in Indonesia. Since the onset of the industrial revolution emerged what has been called standardization and globalization. It happened because of the mass production and emerging styles that gave rise to modernism. Modernism is carried on a generic architecture or commonly called an international style. The criticism of modern architecture popularized by Charles Jencks, post-modernism, also does not lead us to escape from the international style. This also caused an identity loss to architecture which can be called "notopia". Notopia was introduced by The Architectural Review in 2014. Notopia is the loss of identity and cultural vibrancy – a global pandemic of generic buildings. This movement will certainly continue unceasingly. The design proposal aims as a critique of notopia. The purpose of the design is realized by using the critical regionalism approach that is applied to office buildings as office buildings are often victims of generic architecture. Critical regionalism is an approach that brings back local elements and culture into architecture without closing the eyes to the times. In the theory of critical regionalism, it is stated that in designing an architecture there needs to be awareness of the culture and local context. However, it still does not rule out the possibility of using existing technology. Broadly speaking, the design is realized by hybridizing architectural elements in regional contexts and architectural elements in an international context. Critical regionalism approach through the concept of hybridization can open up the possibility of creating a more contextual architectural design by paying attention to the aspects and values of the existing local culture. Hybridization of each element creates something new without losing the local cultural value.

Item Type: Thesis (Other)
Uncontrolled Keywords: Critical Regionalism, Hibridisasi, International Style, Kantor, Notopia, Regional
Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
N Fine Arts > NA Architecture > NA2941 Facades
Divisions: Faculty of Architecture, Design, and Planning > Architecture > 23201-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Tahani Bamazroek
Date Deposited: 23 Jul 2026 07:34
Last Modified: 23 Jul 2026 07:34
URI: http://repository.its.ac.id/id/eprint/68686

Actions (login required)

View Item View Item