Analisa Performa Kotak Pendingin Pada Kapal Nelayan Tradisional Menggunakan Insulasi Campuran Kayu Mahoni (Swietenia Macrophylla) dan Serat Kapuk

Nashrullah, Iqbal (2018) Analisa Performa Kotak Pendingin Pada Kapal Nelayan Tradisional Menggunakan Insulasi Campuran Kayu Mahoni (Swietenia Macrophylla) dan Serat Kapuk. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img]
Preview
Text
04211440000065-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version

Download (4MB) | Preview

Abstract

Di Indonesia, produksi perikanan tangkap dan budidaya sangatlah tinggi. Bahkan, sebagai negara produsen sektor perikanan, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia setelah China dengan total produksi 6,6 juta ton pada tahun 2017. Namun dengan tingginya produksi perikanan tangkap di Indonesia, terdapat persoalan besar yang perlu dicari solusinya, tidak lain adalah pencemaran lingkungan karena penggunaan kotak pendingin styrofoam oleh nelayan. Oleh karena itu diperlukan terobosan-terobosan baru untuk menggantikan styrofoam sebagai bahan utama kotak pendingin sehingga lebih ramah lingkungan dan memiliki performa untuk penyimpanan hasil tangkapan ikan yang tidak jauh berbeda. Penelitian kali ini akan dilakukan dengan pembuatan kotak pendingin ikan pada kapal nelayan tradisional menggunakan bahan insulasi campuran Kayu Mahoni (Swietenia macrophylla) dan Serat Kapuk. Kemudian hasil insulasi campuran tersebut akan dibandingkan performanya dengan kotak pendingin Styrofoam. Percobaan dilakukan mulai dari pengujian massa jenis dan konduktivitas termal dengan 5 variasi presentase dari komposisi kayu mahoni dan serat kapuk. Ditemukan presentase komposisi terbaik adalah 40% kayu mahoni dan 60% kapuk dengan nilai konduktivitas termal 0,5802 W/m.K dan massa jenis 0,5556 gr/cm3. Pada percobaan yang telah dilakukan dengan beban 400 gr ikan segar dan 1,2 kg es serut didapatkan bahwa performa dari kotak pendingin dengan bahan insulasi campuran kayu mahoni dan kapuk terbilang cukup baik. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kestabilan temperatur ruangan nya setelah 24 jam percobaan yang cukup lama yaitu 9 jam pada temperatur sekitar 20 OC sampai dengan 21 OC, dengan temperatur terendah pada titik T1 adalah 0.2 OC, T2 adalah 0.8 OC, dan T3 adalah 20.2 OC. Hanya saja belum lebih baik dibandingkan dengan kotak pendingin berbahan styrofoam, kotak pendingin berbahan styrofoam memiliki kestabilan temperatur ruangan nya setelah 24 jam percobaan dengan lama 11 jam pada temperatur sekitar 18 OC sampai dengan 19 OC, dengan temperatur terendah pada titik T1 adalah 0.1 OC, T2 adalah 1.8 OC, dan T3 adalah 18.1 OC. ============================================================================= In Indonesia, the production of capture fisheries and cultivation is very high. In fact, as a country producer of the fishery sector, Indonesia is ranked second in the world after China with total production of 6.6 million tons in 2017. But with the high production of capture fisheries in Indonesia, there is a big problem that needs to be solved, such as environmental pollution due to the use of styrofoam coolers by fishermen. Therefore, new breakthroughs are needed to replace Styrofoam as the main ingredient of cooler box so it is more environmentally friendly and has a performance for storage of fish catch that is not much different between them. This research will be conducted by making fish coolbox on traditional fishing boats using mixed material of Mahogany Wood (Swietenia macrophylla) and Kapok Fibre. Then the result of the mixed insulation will be compared to its performance with Styrofoam coolbox. The experiments were conducted from density testing and thermal conductivity testing with 5 percentage variations of mahogany wood and kapok fibre composition. The best composition percentage was found 40% mahogany wood and 60% kapok fibre with thermal conductivity value 0,5802 W/m.K and density 0,5556 gr/cm3. In the experiments that have been done with a load of 400 grams of fresh fish and 1.2 kg of shaved ice, it was found that the performance of the cooling box with the insulation material of mahogany wood and kapok fibre fibre mixture is quite good. This can be showed after 24 hours of experiments, the stability of room temperature can be maintained at temperatures of about 20 OC to 21 OC for 570 minutes, with the lowest temperature at point T1 being 0.2 OC, T2 being 0.8 OC, and T3 being 20.2 OC. It's just not better than the coolbox made from Styrofoam, Styrofoam coolers have their room temperature stability after 24 hours of experiments with a duration of 11 hours at a temperature of about 18 OC to 19 OC, with the lowest temperature at point T1 being 0.1 OC, T2 being 1.8 OC, and T3 being 18.1 OC.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: kotak pendingin, insulasi, konduktivitas termal, kayu mahoni, serat kapuk
Subjects: T Technology > TJ Mechanical engineering and machinery > TJ263 Heat exchangers
T Technology > TP Chemical technology > TP492.3 Refrigeration and refrigerating machinery
T Technology > TS Manufactures > TS171 Product design
V Naval Science > VM431 Fishing boats
Divisions: Faculty of Marine Technology (MARTECH) > Marine Engineering > 36202-(S1) Undergraduate Thesis
Depositing User: Nashrullah Iqbal
Date Deposited: 28 Jun 2021 07:12
Last Modified: 28 Jun 2021 07:12
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/56369

Actions (login required)

View Item View Item