Identifikasi dan Karakterisasi Sistem Fisis Sesar Grindulu dengan Metode Magnetik

Cholifah, Latifatul (2020) Identifikasi dan Karakterisasi Sistem Fisis Sesar Grindulu dengan Metode Magnetik. Masters thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
011118500-Master_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Metode magnetik digunakan dalam penelitian ini untuk identifikasi dan karakterisasi Sesar Grindulu, sesar utama di wilayah Pacitan, Jawa Timur sebagai bagian dari kajian potensi bencana dan pengurangan risiko bencana di Pacitan. Sesudah dikoreksi dengan International Geomagnetic Reference Field (IGRF) dan variasi diurnal, data anomali diproses dengan transformasi upward continuation, reduced to the pole (RTP) dan pseudogravity untuk data enhancement. Kemudian, data anomali diproses lanjut dan dianalisis dengan dekonvolusi Euler (N=1) dan analytic signal (AS) untuk interpretasi posisi sumber anomali bawah permukaan. Berdasarkan hasil pemrosesan dan analisa data anomali terkait, Sesar Grindulu diidentifikasi sebagai sesar utama di wilayah Pacitan dengan jalur sepanjang arah timur laut−barat daya (NE−SW) dan arah orientasi atau sudut ‘kelurusan’ 26o terhadap arah timur (N64oE). Untuk memudahkan interpretasi bawah permukaan, dibuat profil variasi batuan terhadap kedalaman pada tiga area yang berbeda mewakili bentang horisontal lokasi survei yaitu barat daya, tengah, dan timur laut. Pada area barat daya, struktur bawah permukaan relatif homogen pada kedalaman antara 500−5000 m (shallow to intermediate depths) yang diduga diisi oleh batuan beku jenis vulkanik dan intrusif (lava, intrusi dasit, diorit, andesit basalt) dengan suseptibilitas dan densitas tinggi yang terbentuk dari Formasi Jaten dan Arjosari. Pada area timur laut, profil vertikal batuan menunjukkan keragaman sifat fisis. Batuan beku muda dengan suseptibilitas dan densitas tinggi yang terbentuk dari Formasi Mandalika diduga mengisi kedalaman antara 500−5000 m, sedangkan batuan sedimen jenis konglomerat, tufa, dan breksi vulkanik dengan suseptibilitas dan densitas relatif rendah yang terbentuk dari Formasi Watupatok diduga berada pada kedalaman antara 5000−7000 m. Pada area tengah, struktur batuan vulkanik dan intrusif berumur muda dengan suseptibilitas dan densitas relatif tinggi yang terbentuk dari Formasi Arjosari diduga mengisi kedalaman antara 500−5000 m. Pada kedalaman dekat basement sampai basement level (lebih dalam dari 5000 m) proses pelapukan bawah permukaan Sungai Grindulu menghasilkan sedimentasi batu pasir, kerikil, dan lempung dengan suseptibilitas dan densitas rendah yang terbentuk dari Formasi Alluvium. Struktur batuan bawah permukaan pada area barat daya lokasi penelitian identik dengan struktur batuan wilayah selatan Pacitan yang banyak dipengaruhi oleh aktivitas busur pegunungan selatan Pulau Jawa yang terbentuk pada jaman tersier. Sedangkan struktur batuan bawah permukaan pada area timur laut identik dengan struktur batuan wilayah utara Pacitan yang dipengaruhi oleh busur Sunda Modern yang terbentuk pada jaman kwatier. Kondisi batuan bawah permukaaan sepanjang bentang horisontal lokasi penelitian memiliki kemiripan. Hal ini bisa dilihat dari distribusi suseptibilitas dan densitas yang tidak menunjukkan kontras yang tinggi dalam arah lateral. Situasi yang sama dalam arah vertikal juga ditemui pada kontak antar lapisan batuan dengan kontras suseptibilitas dan densitas yang tidak tinggi. Fenomena ini memberikan petunjuk tentang dugaan kemungkinan pergerakan horisontal blok batuan dekat permukaan sampai lapisan batuan pada kedalaman tertentu. Argumen ini merupakan petunjuk bahwa Sesar Grindulu merupakan sesar geser. ================================================================================================================== Magnetic method is used to delineate Grindulu faulting zone in Pacitan, East Java Province as part of a case study for examining potential seismic threats and disaster risk reduction in Pacitan that is considered vulnerable to geohazards. After International Geomagnetic Reference Field (IGRF) and diurnal corrections, anomaly data were processed by upward continuation, reduced to the pole (RTP), and pseudogravity techniques for data enhancement. Further data processing was to include Euler deconvolution with N=1 and analytic signal (AS) together for subsurface interpretation of source position. Based on all the data processing and corresponding analyses, the Grindulu is identified as the major fault in Pacitan aligned along the NE−SW direction and oriented at 26o with respect to the east, or reported as N64oE. For relative ease of subsurface interpretation, vertical profiles of depth-varying rocks were made for three different areas representing horizontal landscapes in the study area coverage (south-west, central, and north-east zones). In the south-west zone, structures beneath the surface are relatively homogenous at depths ranging 500−5000 m (shallow to intermediate depths) predicted to fill with volcanic and intrusive rocks (lava, intrusive dasit, diorit, andesit basalt rocks) of high susceptibility and density developed from Jaten and Arjosari Formation. In the north-east, however, vertical profiles of rocks demonstrates heterogeneity. Relatively young igneous rocks of high susceptibility and density developed from Mandalika Formation are found to occupy varying depths of 500−5000 m. Whilst predicted sedimentation processes of conglomerates, tufas, and volcanic breccias of relatively low susceptibility and density from Watupatok Formation are found to be at depths between 5000−7000 m. In the central, volcanic and intrusive rocks of younger formation in age with relatively high susceptibility and density from Arjosari Formation are found to occupy varying layers of 500−5000 m deep. Close to the basement and towards basement level at a depth greater than 5000 m, weathering processes beneath the Grindulu River resulted in sedimentary rocks of sandstones, gravels, clays having low properties in susceptibility and density from Alluvium Formation. Subsurface structures in the south-west were identic to those in the southern region of Pacitan strongly affected by the southern mountain arc of Java Island formed during the tertiary geologic age. While subsurface structures in the north-east were identic to those in the northern zone of Pacitan influenced by the ‘Modern Sunda Arc’ predicted to establish in the quaternary geologic age. Geological conditions of subsurface structures beneath the surveyed study area showed similarities in rock properties. This is reflected by no significant contrasts among susceptibilities and densities of rocks found in the horizontal landscapes. Similar situations in the vertical direction were also found at geological contacts between rock layers. This phenomenon indicates that horizontal shifting of blocks of rocks from near the surface to certain depths was possible to occur in the past. This confirms that the Grindulu is a strike-slip fault.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Grindulu Fault, magnetic anomaly, RTP, Euler deconvolution, AS, Sesar Grindulu, anomali magnetik, RTP, dekonvolusi Euler, AS
Subjects: Q Science > QC Physics
Q Science > QE Geology > QE538.8 Earthquakes. Seismology
Divisions: Faculty of Science and Data Analytics (SCIENTICS) > Physics > 45101-(S2) Master Thesis
Depositing User: Latifatul Cholifah
Date Deposited: 28 Aug 2020 06:49
Last Modified: 28 Aug 2020 06:49
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/81136

Actions (login required)

View Item View Item