Pengaruh Variasi Admisture Terhadap Workability Dan Kuat Tekan Beton Geopolimer Berbahan Dasar Fly Ash Dengan Kandungan Kalsium Tinggi

Fadhlurohman, Jihad (2020) Pengaruh Variasi Admisture Terhadap Workability Dan Kuat Tekan Beton Geopolimer Berbahan Dasar Fly Ash Dengan Kandungan Kalsium Tinggi. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[img] Text
10111610013078-Undergraduate_Thesis.pdf - Accepted Version
Restricted to Repository staff only

Download (8MB) | Request a copy

Abstract

Beton geopolimer adalah beton yang dibuat tanpa semen namun digantikan dengan fly ash. Fly ash dipilih karena banyak mengandung unsur-unsur silika (Si) dan alumina (Al). Fly ash secara independen tidak memiliki sifat mengikat atau cementious, oleh karena itu fly ash harus direaksikan dengan alkali aktivator. Alkali aktivator yang digunakan dalam penelitian ini adalah NaOH 10 M dan Na2SiO3 serta perbandingan rasio aktivator 1:1. Penelitian ini menggunakan fly ash kelas C (high-calcium fly ash) dengan kadar CaO > 10%. Fly ash kelas C ini jarang digunakan dalam campuran geopolimer pembuatan beton. Hal ini dikarenakan pada beton geopolimer berbahan dasar fly ash kelas C mengalami flash setting, akibat reaksi hidrolik yang meningkat, seiring dengan meningkatnya kadar kalsium. Hal ini otomatis menyebabkan beton geopolimer berbahan dasar fly ash tipe C sulit dikerjakan (workability rendah). Pemberian admixture bertujuan untuk meningkatkan workability yang ditandai dengan bertambahnya nilai slump, dan menunda terjadinya flash setting. Pemberian admixture dibatasi maksimal 2% dari pengikat. Pada penelitian ini dibuat beton geopolimer dengan variasi admixture sebesar 0%, 0.5%, 1%, 1.5%. Jenis admixture yang digunakan adalah sukrosa. Kemudian, pengujian yang dilakukan yaitu: kuat tekan pada umur 7, 14, 28, 56 hari, uji slump, uji permeability, uji porositas serta uji resistivity. Metode pencampuran yang digunakan yaitu metode pencampuran kering, dimana alkali aktivator yang digunakan adalah bentuk kering (padatan) dan fly ash dihaluskan bersama untuk membuat semen geopolimer. Selanjutnya, semen geopolimer tersebut dicampur dengan air, agregat halus dan kasar untuk membuat beton geopolimer. Hasilnya, nilai slump pada 4 variasi beton geopolymer: V. kontrol (tanpa admixture), V.1 (admixture 0.5%), V.2 (admixture 1%) dan V.3 (admixture 1,5%) berturut-turut adalah 12,5 cm, 16,5 cm, 18,5 cm, dan 19,5 cm. Sedangkan kuat tekan rata-rata 3 silinder beton geopolimer usia 28 hari pada 4 variasi berturut-turut adalah 16,58 MPa; 29,55 MPa; 35,29 MPa; dan 29,05 MPa. Sehingga pemberian admixture yang efektif pada penelitian ini yaitu 1%, karena dapat meningkatkan workability beton geopolimer tanpa mengurangi kuat tekannya. Namun peningkatan kuat tekan yang terjadi perlu diteliti lebih lanjut, terutama untuk mikrostrukturnya, mengingat belum pernah terjadi peningkatan yang signifikan hanya dengan penambahan admixture. ===================================================================================================== Geopolymer concrete is concrete which made without cement but replaced with fly ash. Fly ash independently has no binding or cementitious properties, therefore fly ash must be reacted with an alkaline activator. Alkaline activators used in this study are NaOH 10 M and Na2SiO3, and the ratio of activator was 1:1. This study uses class C fly ash (high-calcium fly ash) with a CaO level more than 10%. C class fly ash is rarely used in concrete-making geopolymer mixtures. This is because the type-C fly ash-based geopolymer concrete had a flash setting, due to increased hydraulic reaction, along with increasing calcium levels. This automatically causes geopolymer concrete based on type-C fly ash to be difficult to work with (low workability). Giving admixture aims to improve workability which is showed by an increasing the slump value, and delay the occurrence of flash settings. Administration of admixture is limited to a maximum of 2% of the binder. In this study geopolymer concrete was made with admixture variation of 0%, 0.5%, 1%, 1.5%. Sucrose is used for admixture. Then the tests carried out are: compressive strength at the age of 7, 14, 28, 56 days, slump test, permeability test, porosity test, and resistivity test. The mixing method used is the dry mixing method, where the alkaline activator used is the dry form (solid) and the fly ash is mashed together to make geopolymer cement. Furthermore, the geopolymer cement is mixed with water, fine and coarse aggregates to make geopolymer concrete. The result is, the value in 4 variations of geopolymer concrete: V. Control (without admixture), V.1 (admixture 0.5%), V.2 (admixture 1%) and V.3 (admixture 1.5%) are respectively; 12.5 cm, 16.5 cm, 18.5 cm and 19.5 cm. While the average compressive strength of 3 cylinders of 28-day at 4 variations geopolymer concrete was consecutive: 16.58 MPa, 29.55 MPa, 35.29 MPa, and 29.05 MPa. So that the effective administration of admixture in this study is 1%, because it can improve the workability of geopolymer concrete without reducing its compressive strength. However, a significant increase in compressive strength needs to be further investigated, because there has never been a significant increase of compressive strength only with the addition of admixture.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: T Technology > TH Building construction > TH1461 Concrete construction.
T Technology > TH Building construction > TH880 Sustainable buildings. Sustainable construction. Green building
Divisions: Faculty of Vocational > Civil Infrastructure Engineering
Depositing User: Jihad Fadhlurohman
Date Deposited: 26 Aug 2020 03:44
Last Modified: 26 Aug 2020 03:52
URI: https://repository.its.ac.id/id/eprint/81234

Actions (login required)

View Item View Item